Pertumbuhan Ekonomi 7%, Fakta ataukah Semu?


Oleh Santika 

(Ibu Rumah Tangga)


Di tengah kondisi pandemi yang terjadi di Indonesia, serta adanya kebijakan PPKM darurat di berbagai daerah. Pemerintah Indonesia memberikan kejutan dengan mengumumkan pertumbuhan ekonomi 7%, tentu hal ini banyak menimbulkan kritik dari berbagai pihak. Dianggap hal tersebut hanya merupakan klaim sepihak pemerintah, karena bukti riil dilapangan tidak menunjukkan hal itu. Bahkan publik menganggap klaim tersebut hanya kebohongan publik semata, karena faktanya angka pengangguran semakin meningkat tajam, belum lagi dampak diberlakukakunnya kebijakan PPKM darurat membuat daya beli konsumen yang makin melemah otomatis hal tersebut berdampak pada tingkat kesejahteraan pada masyarakat.

Ekonomi Indonesia pada kuartal II(02) 2021 mengalami pertumbuhan dengan tercatat 7,07% dibandingkan dengan (02) 2020, 5,3%. Ekonomi Institute For Development Of Exonomic and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ekonomi ini adalah “Pertumbuhan Ekonomi Semu” karena mengacu pada base yang rendah di tahun 2020. Seperti dilansir pada CNBCIndonesia Sabtu, 7 Agustus 2021.

Sistem Ekonomi kapitalis hanya akan memikirkan cara bagaimana angka pertumbuhan ekonomi meningkat hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas laporan kinerja saja hingga akhirnya tidak menimbulkan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan pada masyarakat.

Bagaimana Islam Memandang Pertumbuhan Ekonomi?

Pertumbuhan ekonomi dalam Islam adalah proses pertumbuhan untuk mengurangi kemiskinan serta menciptakan ketentraman, pemerataan kesejahteraan dan tata sosial dalam segala lini kehidupan. Bersifat multi dimensi yang mencakup aspek kuantitatif dan kualitatif. Tujuannya bukan semata-mata kesejahteraan dalam material saja tetapi kesejahteraan akhirat yang menyatu secara integritas. Maka, sudah dipastikan hanya sistem Islamlah yang akan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga sudah dapat dipastikan Islam Rahmatan Lil’alamiin dapat dirasakan di seluruh penjuru dunia. 

Wallahu a'lam bishshawab.