Perang Baliho, Menyikapi Kedok Politisi Demokrasi

 


Oleh Yunita 

(Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Banggai Laut, Sulteng) 


Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 masih beberapa tahun lagi. Namun, gegap gempita para bakal kandidat sudah dirasakan saat ini. Mereka mulaimemasang baliho disana sini. Sayangnya, perang baliho para politikus dinilai justru bikin masyarakat muak (baliho politikus). Apakah pemasangan baliho masih efektif meningkatkan popularitas?


Pakar Komunikasi UI, Firman Kurniawan Sujono mengatakan memang baliho memiliki keunggulan tersendiri. Apalagi ditempat strategis yang banyak orang berlalu lalang, baliho akan menjadi pusat perhatian publik. Namun, musim kampanye perang baliho antarpolitikus akan menjadi kejenuhan bagi masyarakat. Sehingga pesan yang ada di baliho tidak sampai di masyarakat, tetapi malah sebaliknya terjadi kejenuhan. 


Seperti yang kita lihat saat ini, pemasangan baliho dan sejenisnya, memang sedang marak dipampang. Terlebih lagi dijalanan ibu kota. Bukan hal yang tabuh, pemasangan baliho dan sejenisnya oleh para elit politikus adalah salah satu cara bagaimana eksistensi mereka tetap lestari. Baliho juga merupakan seruan kepada rakyat, menginformasikan visi dan misi para politikus. 


Baliho dan sejenisnya, sangat banyak didapati terlebih pada masa kampanye. Para elit politikus pun tak jarang berlomba-lomba memampang di berbagai tempat tertentu. Tujuannya otomatis jelas, seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, menarik simpati. 


 Antara Baliho, Pandemi Covid-19 dan Kekuasaan Politik dalam Demokrasi


Benarkah masyarakat akan muak hanya karena berkenaan dengan baliho yang terpampang? Jawabannya adalah ya. Mengapa demikian? Kita melihat dalam keadaan yang serba semrawut saat ini, di tengah pandemi Covid-19, rakyat semakin tercekik. Terlebih lagi PPKM darurat yang diperpanjang, menambah kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan rakyat. Kebijakan demi kebijakan terus dikeluarkan pemimpin negeri ini, nyatanya jauh dari harapan rakyat. 


Sehingga kemuakkan masyarakat sangat jelas adanya. Ditengah masa panceklik saat ini, penguasa diharapkan peranannya. Memastikan kesehatan dan kemaslahatan seluruh masyarakat terpenuhi dengan maksimal. Tidak ada lagi tangisan, rintihan dari perut rakyat yang lapar. Dari mereka yang kesusahan memenuhi nafkah akibat kehilangan pekerjaan dan masih banyak lagi masalah yang wajib penguasa selesaikan. 


Inilah yang seharusnya saat ini menjadi fokus penguasa. Meri'ayah (mengurus) rakyatnya dengan baik. Sebab itulah yang masyarakat butuhkan, bukan malah sibuk dengan baliho dan sejenisnya. Banyak mengobral janji namun nihil dalam pembuktian. Bila demikian, dapat dipastikan masyarakat bukan hanya muak namun akan kehilangan kepercayaan. 


Semua ini jelas karena watak penguasa dalam sistem demokrasi, yang lahir dari ideologi kapitalisme sekularisme meniscayakan kepemimpinan yang berasaskan manfaat dan perhitungan. Bagi penguasa di sistem ini, bukan kemaslahatan masyarakat yang menjadi fokus utama. Melainkan bagaimana melanggengkan kekuasaan agar tetap lestari. Bagi mereka yang belum berkuasa, bagaiamana agar kursi kekuasaan dapat diperoleh.


Dalam sistem kufur ini, kekuasaan adalah salah satu cara terbesar dalam meraup keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Begitulah sistem kapitalisme sekularisme, melahirkan pemimpin pemimpin yang lupa jati dirinya sebagai penguasa yang seharusnya menjadi pelayan rakyat. 


Berbeda halnya dengan Islam yang mulia. Penguasa dalam sistem Islam tidak sibuk pencitraan dan janji-janji semu, melainkan sibuk dengan bagaiamana kemaslahatan umat terpenuhi. Sebab aturan dan sistem yang dibangun berlandaskan syariat yang turun dari pencipta manusia, pemilik kehidupan. Sistem Islam akan melahirkan penguasa yang jujur lagi amanah dan bertanggung jawab. Mereka dipilih atas dasar kesanggupan dan kemampuan dalam memikul kekuasaan. Yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah Swt. 


Sehingga tak ada alasan penguasa layaknya dalam sistem demokrasi. Mereka dituntut untuk menerapkan hukum-hukum Allah. Melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah. Yang tentunya secara otomatis akan melahirkan kemaslahatan dan kebaikan bagi negara dan masyarakat.  


Semua ini akan terlaksana dalam bingkai khilafah. Institusi yang menerapkan syariat Islam secara kaffah (total) dan kekuasaan ini telah terbukti sebagai pembawa rahmat ke seluruh penjuru alam. Lantas Apalagi yang menjadi alasan untuk tidak merindukan dan memperjuangkan Islam agar tegak menaungi kehidupan kita saat ini?  


"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (TQS.An-Nur 24:55)


Wallaahu a'lam bishshawab