Penghinaan Agama Berulang, Bukti Negara Gagal Menjaga Agama



Oleh Nelliya Azzahra


Seperti candu yang membuat ketagihan, terus menerus dilakukan tanpa bisa dihentikan. Semakin hari semakin menjadi dan menimbulkan perpecahan serta kegaduhan. Begitulah penghinaan agama yang terjadi seakan tiada matinya. Kejadian ini tentu membuat hati miris. Seperti yang baru-baru ini ramai di media sosial karena pelecehan agama yang dilakukan oleh Muhamad Kece (seorang Youtuber). Sejumlah video yang ia unggah di kanal YouTube MuhammadKece dinilai memuat dugaan penistaan agama Islam.

Menurut Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad, mengatakan, ucapan YouTuber Muhamad Kece (MK) yang menyinggung Nabi Muhammad saw. menjurus pada penistaan agama. Menurutnya, tindakan MK telah memenuhi unsur 156a KUHP. "Jadi kalimat (MK yang mengatakan) 'siapa yang pembunuh, siapa yang perang badar, itu Muhammad. Muhammad bin Abdullah adalah pemimpin perang badar dan uhud, membunuh dan membinasakan. Jelas ya pembunuh adalah iblis' sudah memenuhi unsur penodaannya," kata Suparji melalui keterangan tertulis kepada Republika, Ahad (22/8/2021).

Pelecehan yang dilakukan oleh MK bukanlah yang pertama terjadi di negeri ini. Sebelum-sebelumnya sudah ada hal serupa. Hal ini bisa berulang karena negara telah gagal melindungi agama. Tidak ada tindakan tegas dan sanksi terhadap para pelaku. Sehingga mereka pelaku pelecehan agama tetap bisa menghirup udara segar setelah melakukan perbuatan yang jelas-jelas menodai agama. Alih-alih jera, yang ada mereka tidak merasa bersalah.

Episode penistaan agama terus berlanjut dan berulang, mereka berlindung atas nama kebebasan HAM, dan sejatinya HAM dalam demokrasi hanyalah kebebasan untuk menistakan Islam. Para pembenci Islam semakin masif menyakiti umat Islam dengan berbagai cara. Ini tidak terlepas dari sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Menjadikan agama sebatas ibadah mahdoh saja. Tidak menjadikan agama sebagai konstitusi dan pandangan hidup. Maka, hilang satu tumbuh seribu. Tidak akan ada habisnya kasus pelecehan agama. Kenapa penistaan agama marak?

Sebelumnya penistaan agama sudah pernah dilakukan, tapi hukum berjalan lambat bahkan berhenti dan tidak ada kelanjutan hukum. Inilah demokrasi yang tidak tegas dengan penistaan agama sehingga marak dilakukan orang-orang yang tidak mempunyai iman dalam beragama.

Sebaliknya, dalam sistem Islam hampir tidak dijumpai penistaan agama, karena mereka akan mendapatkan hukuman tegas dan keras bagi pelakunya. Islam sebagai agama sempurna dan paripurna sangat menjaga keutuhan agama. Beragama adalah hak paling asasi yang dilindungi hukum. Dalam Islam negara harus dibangun di atas landasan akidah Islam. Negara wajib melindungi kemuliaan Islam, wajib membina keimanan dan melindungi ketakwaan individu rakyat. Karena dengan ketakwaan individu akan melahirkan sikap mengagungkan Islam, penghinaan terhadap simbol Islam atau syiar-syiar Islam itu tidak akan terjadi. Sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya:

“Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. al-Hajj (22): 32).

Maka, dari Ibnu Taimiyyah, pernyataan Muhamad Kece termasuk tindakan menghujat Nabi. Bagi umat muslim, menghina atau menghujat Nabi hukumnya haram. Sanksi bagi pelakunya adalah hukuman mati.

 أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ ، فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ ، فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا 

 “Ada seorang wanita Yahudi yang menghina Nabi ﷺ, dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai mati. Namun, Nabi ﷺ menggugurkan hukuman apa pun darinya [sahabat itu].” (HR. Abu Daud 4362 dan dinilai Jayid oleh Syaikhul Islam)

Hadis di atas jelas menyampaikan pada kita, bahwa penghina Rasul ﷺ hukumannya adalah mati. Namun, apakah hari ini penguasa mampu menghukum mati para penghina Islam tersebut? Jawabannya tentu tidak. Jangankan menghukum mati, memberi sanksi tegas saja tidak. Maka jangan heran jika kejadian demi kejadian pelecehan terhadap agama akan kembali terjadi selama sistem demokrasi kapitalisme masih bercokol di negeri ini.

Wallahu a'lam bishshawab.