Pandemi Covid-19 Terus Menggurita, Mengapa Negara Masih Berleha-leha?


Oleh Ir. H. Izzah Istiqamah

(Praktisi Pendidikan) 


Nilai satu nyawa lebih berharga di hadapan Allah Swt, jika dibandingkan dengan bumi dan langit beserta segala isinya. Hanya orang bertaKwa yang merasakan ketakutan dengan peringatan Allah Swt ini. 

Dalam masalah kasus Covid-19 di 5 propinsi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwasanya provinsi di luar Pulau Jawa-Bali yang mengalami jumlah kenaikan kasus Covid-19 cukup tinggi yaitu Kalimantan Timur (Kaltim), Sumatera Utara (Sumut) Papua, Sumatera Barat (Sumbar) dan Kepulauan Riau di seluruh Indonesia.

"Saya melihat angka-angka di 5 provinsi yang tinggi-tinggi 5 Agustus kemarin, Kaltim, kasus aktif yang ada 22.529 kasus, Sumut 21.876 kasus, Papua 14.989 kasus, Sumbar 14.496 kasus, Kepulauan Riau 13.958 kasus itu hari Kamis," urai Presiden Jokowi. Komentar itu dilontarkan saat mengadakan rapat terbatas evalusi perkembangan dan tindak lanjut PPKM level 4 secara daring Sabtu,(07/08/2021). (Sindonews.com). 

Kondisi luar Jawa lebih buruk dalam penyediaan fasilitas layanan kesehatan dan kesiapan masyarakat, namun mengapa tidak cukup antisipasi sebelum terjadi ledakan kasus Covid-19 ini. 

Pemerintah sudah memutuskan tidak me-lockdown Jawa sehingga jelas akan terjadi penyebaran virus yang luar biasa. 

Pandemi saat berada pada peradaban kapitalisme global. Siapa yang bisa me-lockdown Wuhan bahkan China? Sampai Covid-19 menular hampir ke seluruh belahan penjuru dunia.

Fakta ini menegaskan lalainya rezim kapitalistik dalam mengurus rakyatnya. 

Sistem sekuler di seluruh dunia sudah pasti gagal dalam menangani permasalahan wabah ini.

Seharusnya ke depan melakukan antisipasi krisis pangan dengan memanfaatkan ruang untuk pemenuhan kebutuhan pangan, maka yang tak kalah penting bagi seorang muslim harus mempersiapkan diri jika terjadi perubahan besar dunia akibat krisis peradaban.

Jadi di dalam berpikir tidak hanya menjadikan Islam sebagai ajaran spiritual atau sekadar fiqh muamalah semata. Sudah saatnya umat Islam belajar bersama untuk memvisualisasikan Islam sebagai sebuah solusi. Sebuah Ideologi. Sebuah peradaban yang harus diterapkan untuk kemuliaan manusia. 

Dengan menerapkan aturan Islam, kita berharap saat terjadi wabah, wacana dan wawasan kita tidak hanya pada aspek bahasan seputar hudhurul jumu’ah, soal zakat untuk pemenuhan asnaf, soal shaf salat, tetapi lebih dari permasalahan itu, kita harus mencoba melihat gagasan Islam secara menyeluruh. Seperti sistem ekonomi Islam, pelayanan kesehatan dalam prespektif Islam serta sistem pemerintahan Islam yaitu sistem yang mampu memecahkan berbagai permasalahan rakyat termasuk memberikan solusi yang tuntas di dalam menangani pandemi saat ini. 

Negara dengan sistem Islam, akan melakukan kewajiban syar’iynya karena penguasa adalah pelayan bagi rakyatnya. Dahulu di masa sahabat ketika terjadi pandemi penyakit menular, negara dengan sistem khilafah juga menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobaan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat, mendirikan rumah sakit dan laboratorium obat-obatan dan lainnya yang termasuk kebutuhan asasi rakyat seperti halnya pangan, pendidikan dan keamanan.

Dalam peradaban Islam, di masa Sayyidina Umar ra. di Syam pernah tertimpa pandemi hebat. Sayyidina Umar ra. sebagai khalifah bersegera melakukan kebijakan lockdown dengan segala konsekuensinya, karena Syam merupakan bagian dari Khilafah Islamiyah. Alhamdulillah, pandemi dan bebagai dampaknya berhasil ditangani.

Walhasil, dengan kondisi yang seperti ini, kita benar-benar membutuhkan negara Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah yang adil.

Kita membutuhkan seorang khalifah yang berusaha mengangkat masyarakat dari jurang krisis dan kemiskinannya, menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas, mengurusi urusan mereka dengan cara yang menjamin keamanan dan martabat rakyatnya melalui penerapan hukum Allah di tengah-tengah mereka, dan membersihkan negeri kaum muslimin dari penindasan kaum kafir penjajah.