Muharam Momen Hijrah Hingga Level Negara


Oleh Siti Juni Mastiah, SE

(Anggota Menulis Muslimah Jambi dan Aktivis Dakwah)


Bulan Muharam biasa dikenal dengan bulan hijrah. Bulan dimana terjadi peristiwa-peristiwa besar. Di antaranya ialah peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah dan pada saat itulah penentuan penetapan tahun pertama Hijriah. Pada tahun pertama hijriah tersebut terjadi peristiwa besar Isra' Mi'raj dan peristiwa Perang Badar pertama yang memenangkan kaum muslim.

Tahun baru Islam yang bertepatan pada 10 Agustus 2021 lalu, menjadikan Presiden RI turut menyatakan bahwa tahun baru Islam adalah momentum untuk perkuat ikhtiar melawan pandemi. Bapak Jokowi menuturkan bahwa kepatuhan umat Islam dalam mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan membatasi mobilitas mencerminkan semangat hijrah dalam perilaku kesehatan. (presidenri.go.id, 09/08/2021).

Sesungguhnya momen hijrah tak sebatas apa yang disampaikan bapak presiden tersebut. Momen hijrah yang sesungguhnya adalah memperlihatkan perubahan dari yang lemah menjadi kuat, dari level individu ke level negara, dari sosok yang tidak memiliki kekuatan menjadi kekuatan regional, dari terpecah menjadi persatuan, hingga dari hal yang bisa memisahkan antara haq dan batil.

Hijrah pada level individu sesungguhnya menjadikan diri untuk bisa “memindahkan diri” yakni mengubah diri awalnya sering melakukan perbuatan buruk atau bermaksiat menjadi pribadi yang baik. Hijrah individu tak hanya sekadar mengubah penampilan diri dari cara berpakaian atau bersikap, akan tetapi mengubah pemikiran dan pemahaman yang awalnya sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) menjadi memiliki pemikiran dan pemahaman Islam kafah.

Perubahan individu tersebut tak hanya dinikmati sendiri, namun juga mengajak orang lain untuk hijrah bersama-sama, berubah ke arah yang lebih baik. Karena hijrah bersama-sama akan menjadikan seseorang lebih kuat, lebih semangat, dan mampu terjaga agar tetap istiqomah.

Ketika perubahan terus terjadi pada level individu, dan itu terus bergulir berjalan dinamis seperti bola salju yang bergelinding dari awalnya kecil menjadi besar, sehingga mampu mengubah masyarakat bahkan negara. Itulah yang diharapkan. Karena sudah sama-sama diketahui bahwa kondisi negeri kita saat ini sedang karut marut. Tak hanya masalah ekonomi yang tak kunjung usai. Masalah pandemi pun negeri kita ini juga tak mampu mengatasinya. 

Momen hijrah pada bulan Muharam sudah dua tahun ini bertepatan pada bulan memperingati kemerdekaan RI. Maka tepat kiranya untuk melakukan intropeksi diri serta meretrospeksi perjalanan bangsa dan negara ini. Apakah sesuai harapan atau malah mundur kebelakang?

Ya, sesungguhnya sudah jelas terlihat dan dapat dirasakan bahwa bangsa ini jatuh terperosok pada jurang yang amat dalam. Ditambah dengan negara yang diurus oleh pemerintah dengan sebagian besar tidak amanah, kezaliman dan korupsi dimana-mana, dari level atas hingga level bawah.

Fakta tersebut sangat menyedihkan karena terjadi pada negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Padahal sejarah mencatat, belasan abad umat Islam memimpin peradaban cemerlang. Menjadi mercusuar peradaban dunia yang saat itu masih diliputi kegelapan. Kekuasaan politiknya membentang dari timur ke barat, dengan capaian kesejahteraan dan keadilan yang mencengangkan.

Sejarawan Hearnsaw pernah berkata, “Saat di Perang Salib bangsa Eropa memulai serangannya terhadap umat Islam, mereka terkejut dengan peradaban yang dimiliki oleh umat Islam. Ternyata peradaban Islam sudah lebih maju dari pada peradaban mereka. Semenjak itulah bangsa Eropa mulai belajar dari umat Islam. Hingga di abad ke-14 dan 15 mereka mengalami abad pencerahan.”

Kebangkitan umat Islam tersebut berawal dari hijrahnya Rasulullah saw. beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah, yang sekaligus menandai hijrahnya mereka dari sistem jahiliyah yang penuh kegelapan menuju sistem Islam yang bercahaya terang benderang.

Inilah bukti bahwa agama Islamlah yang menjadi kunci kebangkitan. Hingga umat Islam tampil sebagai umat terbaik (khairu ummah) dengan karakternya sebagai pemimpin kebaikan serta memegang teguh keimanan dan ketakwaan. Sebagaimana yang digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya:

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, karena menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah....” (QS. Ali Imran: 110).

Janji Allah Swt. kepada umat Islam menjadi umat terbaik saat ini belum terwujud. Maka untuk mewujudkannya perlu kekuatan mengajak seluruh umat Islam saat ini agar mengambil Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan secara menyeluruh. Perubahan hijrah secara totalitas ini sangat penting bersama-sama agar kuat hingga akhirnya mampu mengubah masyarakat, bangsa dan negara menjadi lebih baik sesuai dengan syariat yang diperintahkan Allah Swt.

Mengubah hingga level negara menjadi lebih baik adalah hanya dengan menerapkan Islam secara kafah. Karena dengan Islam kafah mampu menjadikan para penguasanya bertakwa dan amanah. Islam kafah juga akan mampu melahirkan generasi cemerlang yang berakhlak mulia.

Insyaallah dengan Islam kafah, negara akan mampu memimpin peradaban mulia. Sebagaimana firman Allah Swt. di dalam Al-Qur'an Surat al-'Araf ayat 96 yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri itu beriman dan bertakwa, maka pastilah akan Kami limpahkan keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Allah) maka Kami siksa mereka disebabkan atas perbuatannya.”

Wallahu a'lam bishshawab.