Momentum Peringatan Tahun Baru Hijriah dan Kemajuan Bangsa

 


Oleh : Dwi Sri Utari, S.Pd

(Guru dan Aktivis Politik Islam)


Ada yang menarik di bulan agustus pada tahun ini, dimana terdapat dua momentum penting bagi masyarakat Indonesia yang notabene mayoritas muslim. Dua momentum ini adalah peringatan tahun baru Hijriah dan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Dengan memperingati kedua momentum tersebut rasanya akan ada banyak hal yang perlu direnungkan. Sudah 76 tahun negeri ini merdeka dan diklaim telah terlepas dari penjajahan. Dengan waktu yang cukup lama ini selayaknya Indonesia menjadi negara yang maju. Namun, apabila menilik potret masyarakat Indonesia, nampak masih diliputi banyak problematika. Bahkan  masih cukup banyak dari masyarakat yang perlu berjuang dengan  keras hanya untuk bertahan hidup. Mungkinkah ada pelajaran yang dapat dipetik dari peringatan momentum tahun baru Hijriah yang dapat menghantarkan bangsa Indonesia menjadi negera yang maju?


Kemerdekaan, jika ukurannya adalah terlepas dari penjajahan fisik (militer) bangsa lain, tentu saja bangsa ini telah lama merdeka. Namun apabila ukurannya adalah kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan termasuk penjajahan non-fisik (non militer), sesunguhnya negeri ini jauh dari potret bangkit. Alih-alih menjadi negara yang maju, negeri ini masih berada di bawah pengaruh bangsa lain dalam berbagai lini yakni ekonomi, hukum, politik, budaya dan sebagainya. Kebergantungan Indonesia pada bangsa lain cukup nampak jelas pada ranah ekonomi. Seperti menjaga stabilitas ekonomi dengan bertopang pada utang ke negara-negara asing dan lembaga-lembaga keuangan dunia, masih menjadi kebiasaan bangsa ini. Penjajahan bangsa ini, sudah beralih tuan dari Belanda ke bangsa-bangsa lainnya seperti Amerika dan Cina dengan bentuk yang lebih modern. Nampak dari penguasaan berbagai jenis tambang dan kekayaan alam negeri lainnya oleh bangsa asing, seperti migas (Chevron), emas (Freeport), dan lainnya.


Dari sisi hukum, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) warisan penjajah masih dianggap relevan diterapkan di negeri ini. Bahkan dari sisi politis dan ideologi, kapitalisme memiliki pengaruh yang sangat kuat di negeri ini. Pancasila yang diklaim sebagai ideologi bangsa, sejauh ini hanya nampak sebagi simbol. Budaya Indonesia asli Indonesia yang sesungguhnya bercorak ketimuran, namun kini semakin nampak kebaratan bahkan negara tak berdaya ketika kepribadian para pemudanya yang notabene aset bangsa, terpengaruh oleh korean wave. Apabila demikian, bagaimana bisa bangsa ini menjadi negara maju apabila masih berada di bawah pengaruh asing? Berbagai problematika yang dialami masyarakat negeri ini seperti persoalan kemiskinan yang tidak ada akhirnya, penyakit korupsi yang mengakar kuat, tindak kriminalitas yang merajalela menambah ironi potret negeri ini. 


Memang sudah selayaknya Indonesia menjadi negara yang maju dan berhijrah dari kebergantungan bangsa lain. Momentum peringatan tahun baru Hijriah yang berdekatan dengan momentum peringatan kemerdekaan Indonesia selayaknya dapat dipetik pelajarannya sehingga memberi pengaruh pada kemajuan bangsa. Banyak orang hanya memandang hijrah dari aspek spiritual dan individual belaka. Hijrah kerap dimaknai sekedar perubahan untuk individu saja, dari individu yang berprilaku maksiat berubah menjadi individu yang baik. Padahal seharusnya lebih dari itu, yakni mengupayakan bagaimana agar kehidupan bangsa berubah menjadi lebih baik pula.


Dalam konteks kekinian, hijrah harus dimaknai sebagai upaya berlepas dari pengaruh sistem kapitalisme yang selama ini menjajah negeri ini. Sistem yang telah melanggengkan bangsa ini berada di bawah kekuasaan asing dan para korporat. Hal tersebutlah yang membuat bangsa Indonesia senantiasa diliputi berbagai problematika. Kondisi masyarakat yang menetap dalam permasalahan ekonomi dan kemiskinan. Akidah sekulerismenya juga telah merusak kepribadian masyarakat Indonesia. Kondisi saat ini memang mengingatkan akan kondisi kota Makkah di masa jahiliyyah yang dipenuhi berbagai kesesatan, kezaliman, dan kerusakan. Kondisi tersebut berubah ketika Nabi Muhammad SAW diutus dan melakukan sebuah perubahan. Yakni dengan mengubah masyarakat dengan seperangkat aturan jahiliyahnya dengan menerapkan aturan-aturan yang berasal dari wahyu. Perubahan yang dilakukan oleh Nabi tidak hanya berorientasi pada perubahan individual, tetapi berorientasi perubahan sistemik. Mengubah sistem politik, ekonomi, hukum, sosial budaya dan yang lainnya.


Dengan demikian, momentum peringatan tahun baru Hijriah ini selayaknya diikuti dengan meneladani perjuangan Nabi dalam mengubah kondisi bangsa yang diliputi problematika akibat diterapkannya sistem kapitalisme menjadi negara yang bangkit dan maju. Perubahan yang perlu dilakukan adalah perubahan yang total dan fundamental persis seperti yang dilakukan Nabi. Yakni mengubah secara total sistem kapitalisme menjadi sistem yang berdasar pada aturan-aturan yang berasal dari pencipta alam semesta ini.  Sebab, jika berharap negara ini menjadi lebih baik dan maju, sejahtera dan beradab maka perlu ada upaya sungguh-sungguh agar hukum-hukum pencipta tersebut diterapkan dalam kehidupan dan bernegara secara total (kaffah). Sehingga menjadi bangsa yang maju tidak sekedar menjadi angan-angan. Wallahu’alam bi shawab.