Menumbuhkan Ukhuwah di Masa Pandemi

 



Oleh Hj. Yeni 

Pegiat Literasi



Pandemi sudah hampir 2 tahun, tapi belum juga berakhir. Tentu saja sudah banyak korban dari berbagai kalangan yang berjatuhan. Ada yang meninggal, terpapar, dan terdampak secara ekonomi. Kelompok yang terakhir inilah yang paling besar jumlahnya. Berbagai kebijakan dilaksanakan, dari mulai PSBB sampai PPKM yang sedang berlangsung dan terus diperpanjang, tapi belum menampakan hasil yang memuaskan. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah bukannya meringankan rakyat, tapi malah merugikan rakyat. Sebab, ketika menjalankan kebijakan PPKM tidak disertai dengan kompensasi yang seharusnya. Sementara bantuan yang akan diberikan malah dikorupsi oleh pejabat yang tidak punya hati. Padahal, bantuan itu, tanpa dikorupsi pun tidak mencukupi kebutuhan rakyat untuk sebulan. Namun, hanya cukup untuk 2 atau 3 hari saja. 


Sementara itu kita tidak bisa berharap banyak dari pemerintah karena sejak awal mereka tidak menanggapi keberadaan virus secara serius. Mereka tidak mengambil pelajaran dari negara yang pertama terkena virus itu. Seakan mereka yakin kalau virus itu tidak akan sampai ke negeri ini. Seharusnya ketika virus sudah ada di wilayah kita, pemerintah melakukan lockdown agar virus tidak menyebar ke daerah lain. Sekarang sudah terlanjur. Pandemi tak terkendali di negeri ini. Namun, kebijakan-kebijakan yang diambil hanya menguntungkan pihak pebisnis kapitalis, tidak memihak kepada keselamatan rakyat. Lockdown tidak dilaksanakan dengan alasan dianggap akan merugikan secara ekonomi yang tentunya akan merugikan pebisnis kapitalis. Alasan lainnya tentu karena lockdown sesuai dengan Undang-undang karantina yang mengharuskan pemerintah menanggung semua kebutuhan rakyatnya sebagai kompensasi dari lockdown tersebut. Kompensasi dianggap beban oleh pemerintah. Padahal, dalam menangani masalah pandemi ini pemerintah tetap mengeluarkan dana sampai seribuan triliun. Dana yang cukup banyak, yang tidak semua rakyat merasakannya.


Pemerintah telah gagal dalam menangani wabah. Sebagai muslim semua ini merupakan ujian yang harus dihadapai dengan keikhlasan. Di saat terkena wabah seperti ini, kita harus lebih bisa menumbuhkan rasa ukhuwah, terutama sesama muslim. Apalagi, banyak saudara kita yang terdampak yang membutuhkan bantuan. Muslim semua adalah bersaudara sebagaimana terdapat dalam Al-Qur'an,  "Sungguh kaum muslim bersaudara." (TQS al-Hujarat {49}: 10)


Dalam ayat ini muslim diharuskan untuk lebih bisa memperkuat ukhuwah dari biasanya. Lebih kuat dari persaudaraan senasab, yaitu persaudaraan karena Allah, karena keimanan yang diikat akidah yang kuat. Persaudaraan yang akan menumbuhkan rasa cinta, kedamaian dan persatuan, saling memperhatikan, menguatkan, saling peduli dan saling membantu dalam segala kesulitan.


Rasulullah saw. bersabda, "Mukmin dengan mukmin yang lainnya bagaikan satu bangunan. Sebagian menguatkan sebagian yang lain." (HR Bukhori, At-Tirmidzi, an-Nasai dan Ahmad)


Saling peduli sesama muslim merupakan salah satu perwujudan hakiki dari ukhuwah Islamiyyah, khususnya pada saat pandemi. Saat ini banyak saudara kita yang ditimpa berbagai kesulitan. Disinilah pentingnya kita untuk saling peduli, saling membantu, saling menolong yang merupakan amal shalih yang utama dan agung.


Sabda Rasulullah saw., "Siapa saja yang menghilangkan satu kesusahan mukmin di antara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Siapa saja yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memberi kemudahan bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya." (HR Muslim)


Dalam hadis qudsi dinyatakan, ketidak pedulian seorang muslim tehadap muslim lainnya seolah-olah disamakan dengan ketidakpedulian kepada Allah Swt.


Melepaskan beban atau kesulitan orang lain adalah bagian dari kepedulian kita kepada sesama muslim, bahkan memenuhi kebutuhan orang lain itu sebaiknya dilakukan sebelum diminta oleh yang bersangkutan.


Pada saat ini banyak orang yang susah akibat terdampak wabah yang membutuhkan uluran tangan dan sedekah kita. Apalagi, sedekah atau infak kita adalah memberikan pinjaman kepada Allah Swt. yang akan dibalas dengan berlipat ganda (QS Al-Baqarah ayat 245).


Bersedekah ini banyak dicontohkan oleh sahabat-sahabat Rasulullah, salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf, yang pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar yang dibagikan kepada fakir miskin. Hal itu juga ditunjukkan oleh Aisyah ra. dan Asma ra., walaupun cara mereka berbeda.


Wallaahu a'lam bi ash-shawaab.