Mengharap Berkah dengan Hijrah Kaffah



Oleh Tri S, S.Si 



Bulan Agustus tahun ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan tahun baru Hijriah 1442 sebagai momentum yang sangat berharga menuju perubahan hakiki. Hal ini berdekatan pula dengan peringatan kemerdekaan negeri ini yang ke-76. 


Penetapan kalender Hijriah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab. Beliau menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah sebagai tahun pertama pada kalender Islam. Ketika Khalifah Umar bermusyawarah bersama beberapa sahabat seniornya mengenai kalender Islam untuk menghitung mulai kapan tahun pertama kalender Islam dimulai. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada pula yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Nabi Muhammad saw. menjadi rasul. 


Namun dari beberapa usulan, diterimalah usulan dari Ali bin Abi Thalib ra. bahwa kalender Hijriah didasarkan pada momentum hijrah Rasulullah saw. dari Mekah ke Yatsrib (Madinah). Semua sahabat yang hadir, setuju dengan usulan Ali bin Abi Thalib ra. Kemudian, ditetapkanlah tahun pertama dalam kalender Islam adalah momentum hijrah Rasulullah saw., yang kemudian dikenal dengan nama Kalender Hijriyah.


Makna Hijrah

Hijrah secara bahasa berasal dari kata hajara yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Ash-Shihhah fi al-Lughah, II/243, Lisân al-‘Arab, V/250; Al-Qâmûs Al-Muhîth, I/637).


Para fukaha lalu mendefinisikan hijrah sebagai keluar dari Daarul kufr menuju Daarul Islam (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufr adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariat Islam dan keamanannya bukan di tangan kaum muslim sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Definisi hijrah ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. dari Mekah (yang saat itu merupakan darul kufr) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam). 


Peristiwa hijrah setidaknya memberikan 3 (tiga) makna. Pertama: Pemisah antara kebenaran dan kebatilan; antara Islam dan kekufuran; serta antara Darul Islam dan darul kufur. Paling tidak, demikianlah menurut Umar bin al-Khaththab ra. ketika beliau menyatakan: “Hijrah itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.” (HR Ibn Hajar).


Kedua: Tonggak berdirinya Daulah Islamiyah (negara Islam) untuk pertama kalinya. Dalam hal ini, para ulama dan sejarawan Islam telah sepakat bahwa Madinah setelah hijrah Nabi saw. telah berubah dari sekadar sebuah kota menjadi sebuah negara Islam. Bahkan dengan struktur yang—menurut cendekiawan Barat, Robert N. Bellah—terlalu modern untuk ukuran zamannya. Saat itu Muhammad Rasulullah saw. sendiri yang menjabat sebagai kepala negaranya (râ’is ad-dawlah).


Ketiga: Awal kebangkitan Islam dan kaum Muslim yang pertama kalinya. Ini terjadi setelah selama 13 tahun sejak kelahirannya, Islam dan kaum muslim terus dikucilkan dan ditindas secara zalim oleh orang-orang kafir Quraisy Makkah.


Kemerdekaan Sejati  

Islam datang sebagai risalah yang mulia, membebaskan dan memerdekakan umat manusia. Misi pembebasan dan kemerdekaan yang diberikan Islam salah satunya tercermin dari pernyataan Rib’i bin Amir at-Tamimi ra.


Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya, Al-Bidayah wa an-Nihayah, dalam bab Perang Qadisiyah menceritakan kedatangan Sahabat Nabi saw. selaku utusan pasukan Islam, Rib’i bin Amir at-Tamimi ra. Ia menemui Rustum, Panglima Perang Persia. Di hadapan Rustum ia berkata, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju keluasannya; dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”


Penjelasan Rib’i bin Amir at-Tamimi ra. adalah kenyataan. Umat manusia mendapatkan pembebasan dan kemerdekaan hakiki hanya dalam Islam. Bangsa Arab yang semula penyembah berhala, terbagi menjadi beberapa kelas sosial; bangsawan, rakyat jelata dan budak. Oleh Islam mereka diubah menjadi umat bertauhid dan setara kedudukannya di antara di hadapan Allah Swt. Abdullah bin Mas’ud ra. adalah seorang dhuafa dan penggembala kambing. Bilal adalah mantan budak Habsyah. Keduanya sejajar dengan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dan Abdurrahman bin Auf ra. yang bangsawan dan saudagar.


Penyembahan kepada selain Allah Swt. pun dihapuskan selamanya. Selain Allah Swt., semuanya adalah mahluk yang Dia ciptakan. Allah Swt. berfirman,


أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ


"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam." (QS al-A’raf [7]: 54)


Ajaran tauhid yang dibawa Islam telah menghilangkan penghambaan kepada sesama mahluk yang tak pantas dipertuhankan.


Merdeka sejati adalah merdeka dari hukum buatan manusia. Islam telah datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan pada aturan yang datang dari hawa nafsu manusia menuju pada penghambaan hanya pada Allah Swt. semata. Pada masa jahiliah, aturan biasanya dibuat oleh para raja dan para rahib. Hukum-hukum yang mereka buat kerap menyengsarakan kehidupan umat manusia sendiri, seperti membunuh bayi perempuan, melacurkan para budak wanita, praktek riba, dan sebagainya. Para bangsawan, raja dan para rahib itulah yang menentukan halal dan haram, baik dan buruk. Allah Swt. berfirman,


اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ


"Mereka menjadikan para pendeta mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (QS at-Taubah [9]: 31)


Ayat ini ditafsirkan dengan hadis Rasulullah saw. saat membacakan ayat kepada Adi bin Hatim, yang saat itu masih beragama Nasrani. Adi bin Hatim berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidaklah menghambakan diri kepada mereka (menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan kami, red.).” Namun, Rasulullah saw. bersabda,


أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَتُحَرِّمُونَهُ وَيُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ، فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟


"Bukankah mereka telah mengharamkan apa saja yang telah Allah halalkan, lalu kalian pun mengharamkannya; mereka pun telah menghalalkan apa saja yang telah Allah haramkan, lalu kalian juga menghalalkannya?”


Adi bin Hatim berkata, “Benar.” Lalu Rasulullah saw. bersabda,


فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ


“Itulah bentuk penghambaan/ibadah mereka (kepada para pendeta dan rahib mereka).”


Demikianlah, pembebasan/kemerdekaan hakiki dalam pandangan Islam. Jadi, seseorang atau masyarakat baru bisa dikatakan benar-benar merdeka ketika tunduk sepenuhnya pada seluruh perintah dan larangan Allah, serta melepaskan diri dari belenggu sistem yang bertentangan dengan tauhid seraya menegakkan sistem Islam. Al-Qur’an menyebut misi Islam adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. 


Sistem demokrasi sekuler, yang memiliki hak membuat hukum/undang-undang adalah anggota dewan perwakilan rakyat. Mereka bisa membuat aturan sekalipun kelak aturan itu menyusahkan rakyat yang sudah memilih mereka. Begitulah penghambaan pada hukum yang berasal dari hawa nafsu manusia. Berlawanan dengan syariat Islam. Hanya Allah Swt. yang berwenang sebagai Al-Hakim.


Yakinlah, bahwa Islam telah datang membawa misi memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama mahluk/manusia, menghapuskan kezaliman dan membawa manusia dari kesempitan dunia menuju kelapangannya. Inilah hijrah menuju kemerdekaan sejati. Allah Swt. berfirman,


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ


"Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS al-A’raf [7]: 96).