Mencetak Generasi Unggul, Cerdas Dunia dan Akhirat

 


Oleh Nazwa Hasna Humaira

Pelajar dan Aktivis Dakwah


Tumbuh dan berkembangnya anak adalah hal yang perlu diperhatikan agar kelak menjadi generasi cerdas dan bermanfaat, bagi diri sendiri dan juga umat. Setiap anak, memiliki hak-hak yang harus dipenuhi, seperti pendidikan dan kesehatan. 


Hal itu terungkap pula dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang diselenggarakan oleh Bupati Bandung, Dadang Supriatna di Bale Winaya, Soreang. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan generasi bangsa yang cerdas dan bermanfaat melalui perbaikan di sektor pendidikan dan kesehatan, hingga generasi di Kabupaten Bandung akan menjadi insan yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. 


Untuk mewujudkan upaya ini, pemerintah Kabupaten Bandung, berharap ada kerja sama dengan pihak lain agar mampu memenuhi semua hak anak sebagai tanggung jawab bersama. Sehingga, pemerintah Kabupaten Bandung akan membangun fasilitas yang yang menunjang demi pemenuhan hak anak, seperti mengembangkan sekolah ramah anak, taman anak, dan lainnya  yang berbaur dengan anak-anak, serta memberikan perlindungan terhadap hak-hak anak.  (Dikutip dari Timesindonesia, Bandung, Kamis, 29/07/2021)


Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mampu mengembangkan kecerdasan seorang anak. Maka, peran pendidikan ini sangat penting bagi seorang anak untuk mengembangkan potensi yang ia miliki. Akan tetapi, pendidikan saat ini terbilang mahal, kurang berkualitas, bahkan fakta miris masih ditemukan dimana pelajar terlibat aksi tawuran, geng motor, pesta narkoba/miras oplosan, dan berbagai tindak kriminal lainnya.


Faktor berikutnya adalah kesehatan. Kesehatan merupakan hal utama bagi tumbuh kembang dan aktivitas anak. Bila seorang anak tidak dalam keadaan sehat, maka pendidikan yang didapatnya tidak akan maksimal, kurang fokus, dan sulit terbentuk pola pikir yang benar.


Di samping itu, kesehatan bukan hanya mengenai fisik saja, melainkan mental pun harus diperhatikan demi menunjang kegiatan belajar mengajar. Terlebih lagi kesehatan merupakan salah satu hak mendasar yang harus diterima individu masyarakat termasuk anak dari negara.


Namun, negara yang seharusnya  bertanggung jawab  penuh memberikan pelayanan  gratis bagi individu masyarakat, tak akan dijumpai dalam sistem kapitalisme sekuler. Sebab, adanya sistem sekuler yang  menjauhkan agama dengan aktivitas kehidupan membuat kebijakan  serta pelayanan bukan untuk kepentingan rakyat. 

Pemimpin saat ini lebih memikirkan keuntungan pribadi yang akan diperolehnya ketimbang urusan publik yang harus terpenuhi haknya secara  sempurna.


Sedangkan dalam Islam, negara akan bertanggung jawab penuh dengan segala masalah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, baik itu mengenai perkara yang berkaitan pendidikan, kesehatan, politik, dll. Negara tak akan segan-segan memberikan segalanya secara cuma-cuma kepada rakyat.


Islam memandang bahwa pendidikan itu suatu kebutuhan yang harus terpenuhi oleh seluruh rakyatnya terutama pemahaman tentang kewajiban untuk menuntut ilmu. Sebab, pendidikan itu suatu modal untuk mengembangkan generasi yang cemerlang, berpikir islami, dan  bertindak sesuai syari'at Islam. Sehingga, terwujud generasi muda yang berakhlak mulia tanpa memikirkan mengenai urusan dunia saja, melainkan akhiratnya pun.


Dalam Islam, terdapat 5 hak anak yang perlu dipenuhi kebutuhannya, antara lain:

1) Adanya perlindungan terhadap seorang anak.

2) Hak untuk hidup dan berkembang.

3) Mendapatkan sebuah pendidikan.

Terutama pendidikan mengenai penanaman budi pekerti dan akhlakul karimah kepada seorang anak. Nabi Saw. bersabda:


 "Tidak ada pemberian seorang ayah yang lebih baik, selain dari budi pekerti yang luhur." (HR at-Tirmizi). 


4) Mendapatkan nafkah dan hak waris.

5) Mendapatkan perlakuan setara. 

Nabi Saw. bersabda, 


"Samakanlah anak-anakmu dalam hal pemberian. Jika kamu hendak melebihkan salah seorang di antara mereka, lebihkanlah pemberian itu kepada anak-anak perempuan." (HR at-Tabrani).


Pemimpin Islam pun memberikan upah yang layak kepada para pengajar dan penghargaan terhadap pengarang kitab seberat timbangan emas. Dari perhatian ini, maka kesejahteraan yang dirasakan generasi Islam adalah fakta nyata. Mereka bersyakhsiyah Islam, beriman, bertakwa dan jadi agen peradaban gemilang. Hal ini akan kembali terwujud saat umat bersama berjuang untuk diterapkannya Islam kaffah dalam institusi penerapnya. 


Wallahu a'lam bi ash-Shawwab