Mahalnya Kesehatan di Negeri Kapitalis


Oleh Ummu Najla

(Komunitas ibu Peduli Generasi)


Miris, harga tertinggi untuk tes PCR di Indonesia berdasarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan tembus harga Rp900.000. Tentu saja masyarakat menjerit di tengah pandemi yang semakin mengganas ini. Akibatnya Presiden Jokowi turun tangan dengan menurunkan harga sebesar Rp450.000 sampai Rp550.000. Sementara Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi), Lia G. Partakusuma mengatakan, pemerintah mempunyai wewenang untuk mengatur harga reagensia/tes PCR.

Namun masyarakat tidak menyambutnya dengan antusias. Pasalnya, harga tetap tidak terjangkau oleh rakyat kecil. Lebih-lebih, angka kemiskinan semakin bertambah. Menurut penuturan Kepala BPS, Suhariyanto, Jumlah Penduduk Miskin Bertambah 1,13 Juta Orang. Pada bulan September tahun 2021 jumlah penduduk miskin Indonesia adalah 27,55 juta orang atau setara dengan 10,9 persen, Senin (15/2).

Di sisi lain, dalam rangka HUT Kemerdekaan RI, Kimia Farma yang telah membuat edaran akan mengurangi harga PCR dari Rp900.000 menjadi Rp500.000. Namun, dalam waktu 1x24 jam edaran dicabut kembali dan harga kembali normal. Fakta tersebut, tentunya semakin menyesakkan hati rakyat. Memutus urat syaraf empati dan simpati atas keprihatinan ekonomi yang terjadi. 

Kesejahteraan Ala Kapitalis vs Islam

Mahalnya biaya kesehatan di negeri kapitalis bukan lagi wacana. Inilah realita penguasa tega mengkebiri rakyatnya dalam kesusahan. Dengan dalih herd imunity masyarakat dibiarkan kalang kabut sendiri mempertahankan diri. Padahal pajak terus digenjot di segala sisi atas nama pemberdayaan ekonomi. Nyatanya, semakin menyuburkan kalangan atas. Lapisan bawah tak tersentuh sama sekali.

Sejatinya dalam sistem Islam, kesehatan adalah hak pokok rakyat. Negara wajib menjamin secara gratis tanpa biaya sepeser pun. Diimbangi dengan jaminan kebutuhan pokok yang lain seperti sandang, pangan, papan dan pendidikan. Maka, haram jika negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator. Fungsi utama negara adalah sebagai penanggung jawab rakyatnya, sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw. dalam sabdanya:

“Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR. Al- Bukhari). 

Tanggung jawab tersebut telah diterapkan Rasulullah dan para khalifah sepanjang kepemimpinannya. Jaminan kesehatan merata, tak hanya di kota tapi juga di pelosok desa, bahkan di penjara sekalipun. Pelayanan dengan kualitas spesial tanpa membedakan lingkungan, strata sosial dan tingkat ekonomi. Anggaran pembiayaan rumah sakit, perawatan dan pengobatan pasien, tak hanya dari APBN. Tapi juga dari wakaf dan harta pribadi khalifah dan para pejabat. Sebagai wujud landasan ketakwaan dan mengharap rida Allah semata.

Beberapa contohnya, Saifuddin Qalawun (673 H/1284 M), pejabat di zaman Abbasiyah, mewakafkan hartanya untuk memenuhi biaya tahunan dan gaji karyawan RS al-Manshuri al-Kabir di Kairo. Wazir Ali bin Isa al-Jarrah, pada masa Khalifah al-Muqtadir (908-932 M) dan al-Qahir (932-934 M), Gajinya 700.000 dinar per bulan. Beliau infakkan untuk kemaslahatan umat sebesar 680.000 dinar. Faktanya, jelas berbanding terbalik dengan Pejabat saat ini. Mereka justru berlomba-lomba korupsi memperkaya diri sendiri. Begitulah jika landasan manfaat dan hawa nafsu sudah mendarah daging di tubuh kapitalis.

Tak cukup hanya keserakahan, sistem kapitalis pun menghalalkan penetapan harga pasar dengan dalih menstabilkan ekonomi. Alih-alih ekonomi terselamatkan, justru timpang demi menyelamatkan kepentingan pengusaha dan korporasi. Alhasil, jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin mengagah. Akibatnya, kriminalitas, kejahatan, perampokan tumbuh subur demi bertahan hidup.

Sementara, sistem Islam melarang penetapan harga pasar demi menghindari kezaliman. Sehingga kestabilan harga terjamin dan kesenjangan pun memudar. Bahkan Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah mengeluarkannya seorang laki-laki penjual zabib dari pasar. Karena menaikkan harga sesuka hati. Hal tersebut manifestasi dari landasan syara’ yang diriwayatkan Yahya Bin Umar dari Anas bin Malik,

"Sesungguhnya banyak manusia datang kepada Rasulullah dan berkata,  “Tentukanlah harga bagi kami, harga-harga kami.” Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia! Sesungguhnya naiknya (mahalnya) harga-harga kalian dan murahnya itu berada di tangan Allah Subhanahu Wata’ala, dan saya berharap kepada Allah ketika bertemu Allah (nanti), dan tidaklah salah satu orang terhadapku, (aku memiliki) kezaliman dalam harta dan tidak pula dalam darah.”

Beginilah indahnya jika sistem Islam diterapkan. Kesehatan bukan hanya untuk si kaya tapi juga hak si miskin. Mempertahankan sistem Kapitalis sama saja artinya dengan menyengsarakan diri sendiri. Maka sudah saatnya kita kembali pada sistem Islam dan campakkan kapitalis. Wallahu a'lam bishshawab.