Lonjakan Kasus Covid Luar Jawa, Mengapa Tak Ada Antisipasi?

 


Oleh : Neti Ummu Hasna


Belum tuntas penanganan pandemi dengan PPKM darurat untuk wilayah Jawa Bali, dalam 2 pekan terakhir terjadi peningkatan kasus Covid-19 di luar Pulau Jawa dan Bali yang cukup tinggi. Dari yang akhir bulan lalu berkontribusi 34% menjadi 54% ke penambahan kasus baru secara nasional. Presiden Jokowi menyampaikan ada lima provinsi di luar Pulau Jawa-Bali yang mengalami kenaikan kasus Covid-19 cukup tinggi yaitu Kalimantan Timur (Kaltim), Sumatera Utara (Sumut), Papua, Sumatera Barat (Sumbar) dan Kepulauan Riau.  Presiden pun menginstruksikan ke para menteri, TNI/Polri serta kepala daerah untuk memberlakukan kondisi darurat, terutama untuk mengendalikan mobilitas masyarakat. Presiden meminta seluruh pihak khususnya pemerintah daerah luar Pulau Jawa dan Bali untuk menerapkan tiga hal, yaitu penurunan mobilitas, testing dan tracing serta penambahan ruang isolasi terpusat. 


Fakta melonjaknya kasus Covid-19 di luar Pulau Jawa-Bali tersebut, sekali lagi menunjukkan betapa buruknya penanganan Covid-19 di negeri ini. Saat terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Jawa dan Bali pada akhir Juni lalu, seharusnya pemerintah bisa mengambil tindakan antisipasi, agar kasus lonjakan tidak terjadi di luar Pulau Jawa dan Bali. Apalagi pemerintah sangat memahami bahwa fasilitas layanan kesehatan di negeri ini masih sangat minim. Ditambah kesiapan masyarakat yang bisa dipastikan tidak akan mampu menghadapi lonjakan kasus Covid-19. 


Satu hal yang patut disayangkan, sejak terjadi lonjakan, pemerintah juga tidak segera mengambil langkah lockdown untuk wilayah Jawa-Bali sehingga bisa mencegah adanya arus keluar masuk. Meskipun sebenarnya solusi lockdown hakiki sudah sangat terlambat karena virus sudah menyebar ke seluruh wilayah. Pemerintah hanya mengambil kebijakan PPKM darurat yang hanya membatasi mobilitas masyarakat. Akibatnya masih ada masyarakat yang bebas keluar masuk Pulau Jawa-Bali yang tentu saja hal ini memudahkan penyebaran virus ke luar Pulau Jawa-Bali. 


Selama ini solusi lockdown memang tidak dikenal dalam kamus penanganan pandemi di negeri ini. Hal ini disebabkan pemerintah mengadopsi sistem kapitalisme sekuler yang lebih mementingkan ekonomi para kapitalis dibandingkan keselamatan rakyat dalam penanganan pandemi ini. Jadi kebijakan lockdown dipandang akan merugikan kepentingan ekonomi para kapitalis tersebut sehingga tidak diambil sebagai kebijakan oleh pemerintah. Sistem kapitalisme inilah yang menyebabkan pemerintah gagal dalam mengatasi pandemi dan persoalan-persoalan lain yang terjadi di negeri ini. 


Sejatinya wabah ini akan bisa segera selesai dengan tuntas apabila negara dan pemerintah mau mengadopsi solusi yang ada di dalam Islam. Syariat Islam telah memberikan panduan yang cukup lengkap dalam mengatasi pandemi. Rasulullah saw dan juga para khalifah setelah beliau telah mencontohkan hal tersebut. Pertama kali ketika terjadi wabah maka yang harus dilakukan adalah melakukan karantina/lockdown terhadap wilayah yang sedang terjadi wabah. Tujuannya agar wabah tidak tersebar semakin luas. Ketika dilakukan lockdown tersebut tidak dibolehkan ada masyarakat yang keluar atau masuk ke wilayah tersebut. Rakyat yang terpapar penyakit akan segera dipisahkan dari yang sehat, kemudian diobati dengan fasilitas kesehatan yang terbaik dan gratis. Penguasa akan menjamin semua kebutuhan rakyat yang sedang dikarantina secara penuh, tanpa mempertimbangkan lagi untung rugi secara ekonomi. 


Demikianlah gambaran singkat bagaimana Islam menyelesaikan masalah pandemi sehingga pandemi akan bisa diatasi dengan waktu yang tidak berkepanjangan sebagaimana dalam sistem kapitalisme. Maka lamanya waktu dalam mengatasi wabah ini tergantung apakah para penguasa di negeri ini serius dan sungguh-sungguh untuk mengambil kebijakan yang efektif, solutif, tepat dan berperikemanusiaan seperti yang ada dalam syariat Islam. Meski kurang bijak dalam hal ini, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Segera ambil solusi Islam, maka dengan seizin Allah, pandemi akan segera berakhir. Wallahu a'lam bish-showwab.