KEUNGGULAN PENDIDIKAN TINGGI DALAM PERADABAN ISLAM

 



Oleh Rifka Nurbaeti, S.Pd 

Pegiat Literasi



Presiden Joko Widodo meminta perguruan tinggi melibatkan berbagai industri untuk mendidik para mahasiswa. Di era yang penuh disrupsi seperti sekarang ini, papar Jokowi, kolaborasi antara perguruan tinggi dengan para praktisi dan pelaku industri sangat penting. (kompas.com, 27/7/2021) Jokowi juga menjelaskan, untuk mengajak industri ikut mendidik para mahasiswa sesuai dengan kurikulum industri, bukan kurikulum dosen, agar para mahasiswa memperoleh pengalaman yang berbeda dari pengalaman di dunia akademis semata.


Senada dengan arahan pemerintah, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka 2021 melalui delapan program. Salah satunya adalah Magang Bersertifikat Kampus Merdeka. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan. Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman kerja di industri dan dunia profesi nyata selama 1—2 semester. Diharapkan, mahasiswa akan mendapatkan kompetensi keras (hard skill) maupun halus (soft skill) yang akan menyiapkan mahasiswa agar lebih siap untuk memasuki dunia kerja dan kariernya.


Perguruan tinggi merupakan lahan industri strategis yang berperan dalam menggerakkan ekonomi dengan mengolah potensi intelektual dan ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya (knowledge and technology driven economic growth) seperti industri jasa dan perdagangan lainnya. Hal ini menyebabkan komersialisasi dan industrialisasi perguruan tinggi tak terbendung dan terjadi kapitalisasi ilmu pengetahuan. Kebijakan-kebijakan yang digulirkan pemerintah tidak lain hanyalah lanjutan upaya untuk memalingkan paradigma pendidikan. Program Merdeka Belajar Episode Keenam disebutkan menyasar tiga tujuan utama, yaitu 1) lulusan lebih mudah dapat pekerjaan dan berpenghasilan layak, 2) dosen lebih mengerti kebutuhan masyarakat dan industri, serta 3) kurikulum lebih mengasah keterampilan kolaborasi dan pemecahan masalah dengan dunia industri.


Kebijakan perguruan tinggi yang berubah-ubah mengikuti logika pasar bebas mengakibatkan bukan masyarakat yang akan memanen SDM skillful, melainkan para kapitalis dalam negeri dan asinglah yang akan panen raya SDM. Sehingga, pemerintah akan terus mendorong kebijakan agar mampu mengikuti arus perubahan dan kebutuhan akan link and match dengan industri, sesuai dengan perkembangan kemajuan yang terjadi dan kebutuhan lapangan pekerjaan pemangku kepentingan pengguna lulusan. Di samping itu juga gempuran dunia kampus dari sisi industrialisasi dan aspek pemikiran yang mengakibatkan jauh dari identitas Islam. 


Permasalahan dunia pendidikan saat ini tidak bisa diabaikan dengan menganggapnya sebagai masalah teknis saja. Problem Solver sebagai identitas intelektual hanya bisa diwujudkan ketika memiliki bekal untuk menuntaskan masalah. Bukan hanya kelimpahan ilmu dan keahlian saja, melainkan juga dengan kesadaran masa depan umat yang hanya akan bangkit dengan pandangan hidup tertentu yakni yang berlandaskan pada akidah Islam.


Strategi Pendidikan dalam Islam bukan semata-mata kemewahan intelektual, melainkan untuk membentuk pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyah) islami, sehingga terwujud kepribadian yang islami yang selalu berusaha untuk meraih rida Allah. Selain itu, pendidikan Islam harus mampu melayani kepentingan vital umat dan menjaga urusan-urusan umat. Dengan demikian, akan lahir intelektual muslim secara massal di tengah masyarakat sebagai problem solver dengan berbagai keahlian.

Selama masa Kekhalifahan Islam, tercatat beberapa lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang dari dulu hingga sekarang—kendati beberapa di antaranya hanya tinggal nama. Lembaga-lembaga pendidikan Islam itu pernah mengalami puncak kejayaan dan menjadi simbol kegemilangan peradaban Islam. Di antaranya adalah Nizhamiyah (1067—1401 M) di Baghdad; Al-Azhar (975 M—sekarang) di Mesir, Al-Qarawiyyin (859 M—sekarang) di Fez, Maroko; dan Sankore (989 M—sekarang) di Timbuktu, Mali, Afrika. Masing-masing lembaga tersebut memiliki sistem dan kurikulum pendidikan yang sangat maju. Beberapa lembaga bahkan berhasil melahirkan tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan muslim yang sangat disegani, misalnya Al-Ghazali, Ibnu Ruysdi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Farabi, Al-Khawarizmi, dan Al-Firdausi.


Keunggulan pendidikan tinggi hanya akan dapat diraih dalam sistem Islam, karena paradigma berpikir tentang pendidikan dalam Islam sangat berbeda dengan sekuler kapitalis. 

 

Wallaahu a’lam bishshawaab