Kepedulian yang Tak Peduli


Oleh Yulia Ummu haritsah

Ibu Rumah Tangga & Penulis Bela Islam


Seakan sudah tak punya langkah yang jitu lagi, seolah tak ada solusi yang menuntaskan problematika kehidupan di negeri ini kebijakan yang diambil tak menjadi solusi. Seolah salah langkah, bagaimana lagi menuntaskan situasi negeri ini.

Bagaimana lagi harus menyikapinya?

Mulai dari masuknya pandemi ke negeri ini di awal tahun 2020, problematika yang dihadapi negeri ini sangatlah kompleks, mulai dari masih cara penanganan wabah yang salah dengan tidak dilakukannya lockdown dan dibukanya bandara-bandara internasional, sampai pada otak atik aturan PSBB serta PPKM.

Kalaupun ada pemberian bantuan sosial untuk yang terdampak, ini pun dipandang salah sasaran. Sampai kegiatan belajar mengajar di sekolah pun ikut menjadi imbasnya, sekolah tidak lagi menjadi tempat untuk belajar, dan beralih ke belajar online, yang menguras banyak kuota. Meski ada bantuan kuota untuk pelajar, namun jaringan kadang tidak bersahabat, sampai-sampai mereka pergi mencari tempat yang dapat terjangkau jaringan. Walau sangat berisiko, mereka tetap menjalani.

Kini pandemi hampir dua tahun. Solusi yang dilakukan pemerintah, seolah tak mengarah dan dinilai hanya setengah hati. Bahkan, akhir akhir ini publik dibuat gemas terhadap ulah para penguasa. Di tengah pandemi masih saja memikirkan pembangunan. Mulai dari masalah infrastruktur yang tetap diprioritaskan, kini ada wacana pembuatan laptop nasional di negeri ini, seurgent itukah laptop untuk masyarakat, sehingga pemerintah rela menggelontorkan dana yang fantastis untuk merealisasikannya?

Seperti yang dilansir oleh media TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah tengah mempercepat penggunaan Produk Dalam Negeri (PDN) khususnya untuk sektor pendidikan. Di antaranya adalah penggunaan laptop buatan dalam negeri.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, pemerintah berupaya memperkuat kemampuan riset dalam negeri untuk mendorong pembuatan laptop dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi.

"Pemerintah berupaya mempersiapkan riset dalam negeri untuk meningkatkan kandungan TKDN agar dapat memproduksi laptop Merah Putih, mulai dari desain hingga pengembangannya," kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/7/2021).

Juga dari sumber yang lain dilansir, SUKABUMIUPDATE.com -  bahwa Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia akan segera memiliki laptop dan tablet merah putih yang dikembangkan konsorsium industri TIK bersama Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Gadjah Mada.

"Belanja pemerintah untuk produk dalam negeri betul-betul kita dorong. Tidak boleh kita impor-impor, padahal kita bisa produksi. Harus dibasmi orang-orang yang masih main di sini," ujar Luhut dalam tayangan YouTube Kemenko Marves, Kamis, 22 Juli 2021.

Luhut berujar belanja pemerintah untuk produk dalam negeri di bidang pendidikan, khususnya produk teknologi informasi dan komunikasi, masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai impornya. Karena itu, pemerintah telah menetapkan target pengadaan TIK lokal untuk bidang pendidikan sebesar Rp17 triliun hingga 2024.

Dana yang sepantastis itu dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang sebenarnya bisa dikesampingkan dulu. Hal tersebut bukanlah merupakan kebutuhan yang mendesak, masih banyak kepentingan lain yang sangat mendesak, yang dibutuhkan oleh masyarakat di masa pandemi ini, seperti bantuan bantuan sosial.

Masyarakat sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah, apalagi di masa PPKM, yang berlevel-level ini, yang membatasi segala aktivitasnya, dan entah sampai kapan pandemi ini akan segera berakhir. 

Memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak PPKM, pastilah lebih urgen, dibandingkan dengan pengadaan laptop, dana yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak tepat, hanya terus berkecamuk di sistem kapitalis, yang tolak ukurnya bisnis dan bisnis, 

Sangat jauh tolak ukur sistem sekarang dengan sistem Islam. Pada situasi seperti sekarang, pastinya seorang penguasa di sistem Islam, akan memprioritaskan kebutuhan primer dulu dibandingkan dengan pengadaan laptop nasional, yang menghabiskan dana hingga 17 triliun. Apakah pengadaan laptop urgen untuk negeri ini? Padahal kondisi masyarakat saat ini sangat memprihatinkan. bahkan mereka berani melanggar PPKM hanya untuk bisa menyambung kehidupannya. Sehingga konflik horizontal antara warga masyarakat tak bisa dihindari.

Saatnya sistem Islam diterapkan, hanya sistem Islam yang akan mengatasi segala masalah dan problematika kehidupan manusia. Karena, sistem Islam diperuntukan manusia dari Sang Pencipta manusia.

Wallahu a'lam bishshawab.