Kentalnya Sekularisme Jelang STQH

 


Oleh Yunita M

(Anggota Komunitas Sahabat Surga Banggai Laut, Sulteng) 


Menjelang STQH (Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist) tingkat provinsi  yang tidak lama lagi akan dilaksanakan, dan diadakan di kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Maka berbagai persiapan pemerintah sudah nampak terlihat. Walaupun sempat ditunda pelaksanaannya akibat pandemi Covid-19 yang masih meningkat, namun akhirnya akan tetap dilaksanakan secara virtual. Sekalipun dengan segala keterbatasan pemerintah daerah kabupaten Banggai Laut tetap mengusahakan kemaksimalannya pergelaran kegiatan ini.


Pada beberapa hari lalu Bupati sofyan yang diketahui melakukan "siloloa" di makam salah satu tokoh penyebar Islam di tanah dan kerajaan Banggai. (kabarbenggawi.com, 22/8/2021)


Jelas apa yang dilakukan Bupati bukan tanpa alasan, melainkan bertujuan agar pergelaran kegiatan STQH yang akan diadakan beberapa hari lagi, terlaksana dan berjalan dengan baik. Meskipun di tengah pandemi sekalipun. 


Siloloa adalah bahasa Banggai yang berarti berpamitan atau bisa juga meminta izin, dalam bahasa setempat. Kebiasaan ini memang kental dalam kehidupan masyarakat di tanah Banggai.  


Namun perlu diketahui dan dipahami hakikat dari sebuah kebiasaan yang ada, bagaimana dan untuk apa  perlu digaris bawahi. Menelisik siloloa yang dilakukan oleh Bupati jika tujuannya hanya untuk berziarah dan mendoakannya, maka dalam hal ini diperbolehkan. Namun jika sebaliknya dengan tujuan berharap akan hal kebaikan dan dilancarkan suatu tujuan dari sang pemilik makam maka otomatis tidak  diperbolehkan karena ini jelas sebuah kesyirikan. Karena  sejatinya tempat pengharapan untuk sebuah kebaikan adalah Allah Swt. bukan yang lain.


Karisma Islam dan para tokoh yang menyebarkannya di tanah dan kerajaan Banggai ini tidak akan pernah bisa dihilangkan dan memang selayaknya dihargai. Sejarahnya tak boleh dipisahkan sebab dengan begitu masyarakat dapat mengetahui bahwa peradaban Islam yang agung adalah bagian dari jati diri dan cita-cita pendahulunya. Islam  tak akan pernah bisa dihapus dari sejarah dan kegemilangannya.


Sekarang menjadi hal urgen yang dilakukan bukan hanya sekadar penghargaan semu atau berpamitan saja karena merasa sang tokoh berpengaruh dalam menyebarkan Islam.  Apalagi mengharap kebaikan sepenuhnya akan hal itu atau hanya saat STQH dan acara-acara islami saja, nuansa Islam seakan dipancarkan. Namun selepasnya seakan hilang ditelan bumi. 


Inilah realitas yang ada saat kehidupan dibalut dalam kapitalisme sekularisme. Memisahkan antara agama dan kehidupan, meniscayakan terjadinya hal-hal yang semacam ini. Dimana Islam hanya dijadikan slogan, identitas bahkan hanya dijadikan ajang perlombaan semata. Syariatnya hanya diambil saat perkaranya bermanfaat, namun jika tidak maka bisa saja tak akan dipakai bahkan mungkin dicampakkan.


Dalam kapitalisme sekularisme, jelas tolak ukur yang diambil adalah asas manfaat, bukan kesadaran akan Islam yang wajib dijadikan standar penilaian dari semua perkara. Sekularisme telah tertanam dibenak umat dengan kuat uma, telah jelas bagaimana kita melihat  kehidupan masyarakat yang serba sekuler. Perayaan kegiatan yang bertemakan islami akan dipakai, namun setelah selesai dipastikan cahanya Islam seakan redup bahkan mati. 


Ironis memang. Masyarakat bukan hanya buta tentang sejarah melainkan juga buta dengan agamanya. Hakikat dari agamanya yang kafah (Islam) tidak dipahami.  Bahkan lebih condong pada hawa nafsu, kebiasaan dan adat istiadat yang bahkan jelas bertentangan dengan syariat. 


Jika terus menerus kapitalisme sekularisme dijadikan sebagai standar berfikir dan berbuat, maka secara otomatis keberkahan dan kebaikan tak akan pernah mampu dicapai. Setinggi apapun cita-cita umat. Sebesar apapun penghargaan untuk para tokoh penyebarnya. Tetap akan terasa sia-sia, sebab Islam terus menerus akan berbenturan dengan kebatilan dalam sistem ini dan tidak akan pernah mungkin Islam tegak sepenuhnya dalam sistem kapitalisme sekularisme. 


Kini saatnya bagaimana menjadikan Islam sebagai jati diri. Sebagai asas bagi aturan kehidupan. Sebagai bukti terbaik dan paling utama atas perjuangan para penyebar Islam terdahulu dalam mendedikasikan hidupnya untuk dakwah.  


Sebab hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam institusi khilafah Islamiyahlah yang menjadi sebaik-baik bukti atas ketakwaan total kepada Allah Swt. pemilik jagad raya. Sebagai bukti kecintaan kita seperti para pendahulu yang rela mengorbankan apapun yang mereka punya demi Islam tegak diatas muka bumi.


Wallahu a'lam bishshawab.