Kemerdekaan Hakiki hanya dengan Islam


Oleh Dewi Asiya

Pemerhati masalah sosial

 

Wilayah Indonesia yang terletak di zamrud khatulistiwa menjadikan negeri ini sungguh luar biasa memiliki kekayaan alam yang melimpah, hutan yang luas, sumber daya alam, tambang dan mineral, lautan yang luas dengan menghasilkan ikan yang melimpah. Maka layak negeri ini digelari dengan istilah "gemah ripah loh jinawi" apa pun yang ditanam pasti tumbuh. Tidak salah penyanyi Koesplus di tahun 70-an menyebut tongkat kayu jadi tanaman.

Kekayaan alam Indonesia Menurut departemen kelautan dan perikanan, potensi ikan tangkap sebanyak 6, 4 juta ton per tahun. Di sisi lain, cadangan minyak yang siap diproduksi sebanyak 8 miliar barel. Para ahli geologi memastikan cadangan minyak negeri ini 86,9 miliar barel, siap diproses dan  bisa bertahan 18 tahun, jika menerapkan teknologi yang tepat. Demikian juga gas yang tersedia di negeri ini sebanyak 384,7 TSCF (Trilion standard cubic feet) dengan produksi 2,5 TSCF per tahun. Batu bara yang dimiliki tersedia 58 miliar ton per tahun. Dan masih banyak sumber daya alam yang lain.

Yang jadi pertanyaan mengapa negeri ini masih terkategori sebagai negara dengan berpenghasilan menengah dan rakyatnya pun masih banyak yang miskin dan memprihatinkan? Laporan data pusat statistik (BPS) mencatat terdapat 27,54 penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan hingga kuartal I 2021, yang dijadikan tolak ukur penduduk miskin ialah rakyat yang hidup dengan batas pendapatan Rp472.525 per kapita per bulan. (liputan6.com, 15/7/2021).

Penyebab semua ini, kalau dicermati ternyata Indonesia menerapkan sistem ekonomi kapitalis liberal, di dalam sistem ekonomi kapitalis liberal siapapun bebas mengelola dan memiliki apa pun, sumber daya alam yang seharusnya dikelola negera, dikelolakan kepada swasta bahkan swasta asing. Sebagaimana layaknya jika sesuatu dikelola oleh swasta/individu, maka pengelola tersebut akan memikirkan keuntungan yang diperoleh untuk dirinya dan kelompoknya, mereka tidak lagi memikirkan bagian rakyat. 

Para pemilik modal besarlah yang mendapatkan keuntungan besar, maka wajar walaupun sumber daya alam melimpah, namun rakyat berada dalam kemiskinan, pepatah mengatakan bagaikan mati di lumbung padi. 

Terlebih lagi bahwa negara ini mengambil sistem politik demokrasi, dalam politik demokrasi melahirkan kedaulatan rakyat, dengan memberikan kewenangan kepada rakyat dalam hal ini diwakili oleh wakil rakyat untuk membuat UU. Manusia ketika diserahi membuat peraturan, maka dia akan cenderung membuat peraturan yang menguntungkan dirinya dan kelompoknya atau partainya, lengkaplah sudah penderitaan rakyat ini.

Berbeda dengan sistem Islam, Islam memandang bahwa sumber daya alam adalah merupakan kepemilikan umum  sebagaimana disebutkan dalam Hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api." (HR. Abu Dawud). 

Dari sisi utang luar negeri, Indonesia juga masih dijajah dengan utang yang menggunung, utang inilah yang menjadikan Indonesia masih berada dalam tekanan negara lain. Kementerian keuangan mencatat posisi utang sampai akhir Juni 2021 sebesar 6.554.56 triliun. Angka ini sebesar 41.35 % dari rasio utang pemerintah terhadap PDB . Adapun komposisi utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar 842,76 triliun (12,86%) dan SBN sebesar Rp5.711,79 trilun (87,14%). (merdeka .com 24/7/2021).

Dari fakta ekonomi yang sedikit ini sudah menunjukkan bahwa Indonesia belumlah bisa dikatakan sebagai negara yang merdeka dan tangguh.

Karena makna Merdeka, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata merdeka berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri; tidak terikat; tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Merdeka juga berarti bisa berbuat sesuai kehendak sendiri.

Makna suatu negara dikatakan merdeka apabila ia tidak dikekang dan ditekan oleh siapapun dan negara mana pun artinya negara tersebut berdaulat sendiri dalam menentukan nasib negaranya sendiri dan dalam membuat peraturan sendiri, tanpa adanya tekanan dari siapapun.

Seharusnya di momen 76 tahun merdeka tepatlah dilakukan evaluasi mendasar mengapa negeri ini masih berada dalam bayang-bayang negara lain, harus tunduk dan menghamba pada negara lain. Mengapa tidak bisa berdaulat dalam mengatur negaranya sendiri, sehingga bisa merdeka secara hakiki.

Kemerdekaan yang hakiki adalah melepaskan penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah semata yaitu menerapkan aturan yang lahir dari Allah Swt. dzat yang menciptakan manusia, hingga terwujud keimanan dan ketakwaan kepada Allah, bukan menghamba kepada aturan manusia apalagi kepada asing penjajah. 

Penghambaan kepada Allah inilah yang melahirkan keimanan dan ketakwaan yang mutlak hanya kepada Allah semata, yang dengannya Allah akan wujudkan kesejahteraan sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-A'raf ayat 96, "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."

Maka jika negeri ini dengan selogan kemerdekaannya adalah tangguh dan Tumbuh, satu-satunya jalan adalah menerapkan aturan Islam kaffah dalam mengatur negara.

Allahu a'lam bish showab.