Kematian Isoman Covid-19 Menggelinding Bak Bola Salju, Adakah Solusi Menghentikannya?


Oleh Ummu Syakira

(Muslimah Peduli Negeri)


LaporCovid-19 melaporkan ada 675 orang yang menjalani isolasi mandiri karena virus Corona dinyatakan meninggal dunia per Juni lalu. Tak hanya itu, ada 206 tenaga kesehatan yang juga turut gugur saat menangani pasien yang terpapar virus Corona.

"Data mereka yang meninggal di rumah saat isoman, tim data LaporCovid sejak Juni sampai hari ini terdapat setidaknya 675 warga yang melakukan isoman dan meninggal dunia. Beberapa di antaranya mengalami penolakan dari rumah sakit. Lalu bulan ini saja, nakes di Indonesia yang meninggal, ini belum genap sebulan, tapi ada 206 nakes yang meninggal," kata Koordinator LaporCovid-19, Irma Hidayana, dalam konferensi pers virtual, Minggu (18/7/2021).

Maka total positif Corona secara kumulatif sejak Maret 2020 hingga hari ini berjumlah 2.832.755 dan kasus sembuh kumulatif sebanyak 2.232.394. Sementara itu, hingga hari ini, tercatat pasien Corona yang meninggal di RI mencapai 72.489 orang. (news.detik.com, 17/7/2021).

Fakta Miris Isoman

Fakta pasien isoman meninggal yang semakin banyak menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memfasilitasi dan menyiapkan rakyat menghadapi Covid-19. Bagaimana tidak, pilihan penderita Covid-19 untuk isoman pun tak lepas dari ketidakpuasan masyarakat akan penanganan Covid-19 oleh pemerintah. Di samping opini yang terbangun di tengah masyarakat karena minimnya edukasi, akhirnya muncul anggapan penyakit Covid-19 itu tidak berbahaya sehingga cukup dengan isoman bisa teratasi.

Ditambah lagi penanaman faktor keimanan, bahwa sakit karena wabah adalah ketetapan Allah yang berpahala bagi si sakit dan mendapatkan pahala syahid ketika meninggal, malah berbalik menjadikan sakit Covid-19 itu seolah aib yang harus ditutupi. Sehingga pasien memilih isoman tanpa dibekali ilmu terkait isoman, alkes, apalagi gizi dan multi vitamin serta obat yang memadai. Wajar saja yang terjadi justru kematian yang banyak menimpa para isoman Covid-19 ini. Sungguh miris, sekaligus fakta yang menyedihkan.

Gelombang peningkatan isoman ini juga tak lepas dari penuhnya fasilitas kesehatan dengan pasien Covid-19, seperti yang diberitakan media online, lonjakan kasus positif Covid-19 membuat Bed Occupancy Rate (BOR) atau ketersediaan tempat tidur Rumah Sakit memasuki masa kritis. Khususnya pada kota-kota besar di Tanah Air. Hal ini sudah menjadi perhatian dari Kementerian Kesehatan. Maxi Rein Rondonuwu, Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit & Plt, Ditjen P2P Kemenkes menyampaikan daerah yang dianggap kritis di antaranya Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur serta beberapa kota dan kabupaten tertentu. 

Kurangnya ruang rawat, ketersediaan oksigen dan fasilitas di RS membuat rakyat harus isoman tanpa pemahaman dan perangkat memadai.Varian delta yang menjadi salah satu mutasi SARS-Cov-2 yang paling menular. Varian yang sudah berada di Indonesia ini sebenarnya belum terbukti ganas, tapi tetap bisa memicu lonjakan kematian. Inilah kemudian yang menjadi penyebab pasien Covid-19 memilih isoman, karena mau datang ke RS sudah full dan harus inden.

Realitas Kapitalisme Menghadapi Pandemi

Apa sebenarnya yang terjadi sehingga negeri ini seolah tak siap? Padahal India harusnya menjadi contoh buruk sebelum Indonesia mengalami hal ini. Tapi seolah tutup mata dan tutup telinga, India sama sekali tak menjadi bahan pelajaran dan perenungan oleh penguasa di negeri ini. Padahal para pakar sudah mengingatkan, karena keadaan India dari aspek kepadatan penduduk sangat mirip, dan benarlah, peristiwa India terjadi juga di Indonesia.

Realitas negeri yang dikungkung sistem kapitalisme sekuler, meniscayakan kepentingan ekonomi dari pada urusan nyawa rakyat. Inilah yang sebenarnya terjadi. Terbukti dari kebijakan penanganan pandemi yang tak serius sehingga tak kunjung usai dan bahkan membuat fasilitas kesehatan kolaps. Anjuran lockdown total dengan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yang dianjurkan banyak pakar bahkan selevel Rizal Ramli, menjadi bukti bahwa negeri ini lebih takut dan tunduk pada para investor dari pada nyawa rakyatnya. Beberapa waktu lalu, sang pakar ekonomi ini menyebutkan dengan detil dalam cuitan twitternya hingga pada nominal angka, sayang semua hanya diabaikan saja. IDI pun sejak awal pandemi juga menyampaikan hal demikian, namun pemerintah terus tak menggubrisnya. 

Inilah ciri watak penguasa ala kapitalisme sekuler yang senantiasa berorientasi pada aspek ekonomi dalam kebijakannya. 

Khilafah Solusi Komprehensif

Berbeda sekali dengan penguasa Islam dalam sistem khilafah, gelombang kematian isoman bak bola salju yang terus menggelinding semakin besar bisa dipastikan akan berhenti. Karena sebagaimana dalam firman Allah: 

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan". (QS. al-A’raaf: 96).

Karena janji Allah itu pasti, tersebab khilafah juga pasti menerapkan seluruh hukum Allah sebagai bukti keimanan dan ketakwaan negara dalam menjalankan syariat Islam yang akan diterapkan pada seluruh warganya. Khilafah dengan kebijakan komperehensifnya dalam penanganan pandemi, akan memastikan bahwa nyawa rakyat adalah hal utama.

Khilafah adalah negara yang mandiri dan independen dari intervensi siapa pun termasuk para pemodal. Khilafah akan mengeluarkan kebijakan tegas demi meredam penyebaran virus penyebab Covid-19. Kebijakan politik khilafah bersifat holistik, sehingga tidak mungkin menghasilkan kebijakan plinplan, apa lagi sampai menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Konsep lockdown yang dilakukan oleh khilafah tidaklah berorientasi ekonomi, melainkan fokus pada aspek kesehatan dan penyelamatan jiwa rakyatnya.

Sebagai aspek utama, tentu khilafah akan terus meningkatkan sistem dan fasilitas kesehatan dengan kualitas terbaik dan kuantitas yang sangat memadai. Pemeriksaan dan penelusuran terjadinya kasus positif akan ditangani dengan upaya dan riset paling mutakhir. Sementara, protokol kesehatan juga diterapkan di seluruh penjuru negeri dan melalui pengawasan yang terjamin.

Khilafah akan memberikan beragam fasilitas pengganti atas kebijakan lockdown, terutama ekonomi. Sistem ekonomi yang dimiliki khilafah adalah sistem ekonomi yang berlandaskan Islam sebagai sistem ekonomi yang stabil, maju, dan tahan krisis meski di tengah lockdown. Sistem ekonomi Islam inilah yang akan membantu tetap terjaminnya distribusi harta bagi seluruh individu rakyat, sekalipun pada masa pandemi. Selama lockdown, Khilafah akan meminimalisasi beragam aktivitas yang memicu kerumunan warga, sekaligus membatasi mobilitas hanya untuk pihak-pihak tertentu sesuai keperluan darurat. Bahkan, jika pengurusan urusan dan pemenuhan kebutuhan rakyat mengharuskan door to door, penguasa khilafah juga akan menempuh langkah tersebut.

Khilafah pun akan menutup pintu-pintu kemungkinan masuknya lalu lintas WNA ke dalam negeri. Khilafah akan menyediakan tempat isolasi dan penanganan khusus tenaga kerja warga khilafah yang datang dari luar negeri. Juga akan menutup sementara jalur migrasi warga, lebih-lebih yang bertujuan untuk berwisata. 

Khatimah

Demikianlah ketika pandemi disolusi secara syar’i dengan konsep lockdown. Rakyat tetap di rumah saja, tetapi segala urusan mereka dikelola dengan panduan syariat oleh penguasa yang amanah dalam mengurus urusan umat, sebagaimana yang dilakukan khilafah. Semata agar pandemi yang menggila tetap dapat disolusi secara paripurna. Firman Allah Swt., 

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. al-Anfal: 24).

Karenanya saatnya umat sadar, khilafah satu-satunya sistem yang akan menghentikan laju bola salju kematian isoman Covid-19, bukan hanya di Indonesia, namun juga akan menghentikan pandemi di seantero dunia, dengan izin Allah. Wallahu a'lam bisshowab.