Kampus Berbasis Industri, Mencetak Sarjana Pencari Materi

 


Oleh: Hafsah

(IRT dan Aktivis) 


Perjodohan antara kampus dan industri adalah program awal tahun 2020 oleh Kemendikbud Nadiem Makarim. Tujuannya adalah menghasilkan mahasiswa yang unggul dan  bisa menjadi pendisrupsi revolusi industri 4.0. 

Kampus dianggap sebagai mesin penghasil Sumber Daya Manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industri. 

Komitmen perguruan tinggi untuk mengembangkan kurikulum berbasis industri sudah menjadi syarat mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi di era persaingan global.  

Brand Communications Manager Kalbis Institute, Raymond Christantyo mengatakan, saat ini perguruan tinggi harus menjadi rumah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik dan nonakademik.  Sementara itu, kurikulum menjadi landasan untuk mahasiswa belajar (Medcom.id 22/01/2021) 

Pada dasarnya, tidak ada yang salah jika sebuah perusahaan bekerjasama dengan institusi manapun. Sebuah korporasi jelas membutuhkan tenaga yang ahli dibidangnya. Sasaran empuknya tentu saja jebolan sebuah perguruan tinggi ternama. 

Selama ini, perusahaan akan membuka peluang kepada calon mahasiswa baru untuk mendapatkan beasiswa melalui seleksi. Tentu saja yang menjadi acuan adalah nilai akademik. Ikatan kontrak pun terjadi, jika mahasiswa tersebut sudah lulus maka ia akan mengabdi pada perusahaan tersebut. 

Mengingat kebutuhan sumber daya manusia yang unggul begitu dibutuhkan, maka langkah yang efektif adalah bekerjasama dengan kampus. Agar tidak mendapatkan penolakan, dibuatlah kerjasama antara perusahaan dan kampus dengan program industri kampus. Sekilas tidak ada salahnya, namun inilah langkah awal untuk mengebiri idealisme mahasiswa. 

Kampus adalah wadah bagi kaum intelektual dan terpelajar untuk menyalurkan ide dan gagasan, prestasi, bahkan pergerakan untuk menyuarakan kebenaran. 

Tempat di mana nasib rakyat difikirkan dan dicari penyelesaian untuk dipecahkan. Kampus juga merupakan saluran idealisme yang masih terjaga tanpa ditunggangi kepentingan.

Apabila kampus dialihfungsikan menjadi sekedar tempat pencetak pekerja sesuai yang dimaui oleh industri, sungguh hal ini mengkerdilkan peran pendidikan tinggi. 

Mahasiswa tidak lagi diharapkan menjadi sosok yang memiliki idealisme tinggi untuk memperjuangkan kebenaran dan menyuarakan hak-hak rakyat, namun seakan dibentuk menjadi orang-orang yang diidamkan oleh perusahaan. 

Jika suara mahasiswa sudah terbeli, lantas siapa yang akan menyuarakan keadilan di negeri ini? Selain menguntungkan perusahaan, tujuan lainnya adalah mengalihkan perhatian mahasiswa agar menjadi mesin pencetak uang. Jika hal ini terjadi, sungguh perguruan tinggi hanya akan menelorkan robot pekerja, bukan tempat lahirnya ilmuwan dan intelektual yang diharapkan sumbangsihnya bagi peradaban dunia. 

Dalam sistem saat ini, tidak aneh jika hal tersebut terjadi karena landasan kapitalisme jelas berorientasi pada untung dan rugi. Dunia pendidikan dikapitalisasi mulai dari hulu sampai hilir. Jika sebelumnya sekolah menengah diarahkan menjadi sekolah kejuruan, kini kampus juga menjadi sasaran empuk para pemilik korporasi untuk menghasilkan materi. 

Pada akhirnya sistem ini hanya akan melahirkan mahasiswa yang individualis dan materialistis karena basis pendidikan yang menaungi sudah terbeli oleh ikatan kerjasama antara pemilik modal dan institusi pendidikan. 

Mahasiswa-mahasiswi intelek dan idealis hanya akan lahir dari sebuah sistem pendidikan yang mandiri dan bebas dari intervensi. Pada akhirnya menjadikan mereka sebagai agen perubahan untuk di masa depan

Sebelum menjadi intelektual, adalah senantiasa menjadi hamba Allah, yang dihadirkan ke dunia, untuk menjadi yang terbaik, untuk menjadi rahmat seluruh alam.

Menyadari, bahwa mereka adalah bagian dari umat yang terbaik, yang harus menghadirkan ke dunia ini karya-karya terbaik, yang memiliki tanggungjawab untuk mengingatkan manusia, menyuruh yang makruf, mencegah yang munkar dan membuktikan keimanan kepada Allah.

Inilah saatnya mereka duduk bersama untuk mengintegrasikan dan mensinergikan seluruh potensi yang mereka miliki, untuk menyelesaikan problematika umat saat ini.

Tentunya keinginan tulus dan mulia ini harus ditopang oleh sebuah sistem yang baik yang bersumber dari sang Pencipta yaitu sistem Islam. Sudah terbukti sistem ini melahirkan para intelektual yang menjadikan mereka sebagai rujukan ilmu dibidangnya. Mengabdikan ilmu untuk kemaslahatan dan amal jariyah semata. 

Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain’. [Hadis riwayat oleh al-Tabrani]

Wallahu a'lam bisshowab