Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, Hanya dengan Islam yang Menyeluruh

 


Oleh: Silmi Kaffah

(Relawan Media)



Memasuki usia ke-76 Indonesia “merdeka”, perlu kiranya untuk merefleksi hakikat kemerdekaan. Peringatan kemerdekaan yang terselenggara setiap tahunnya sudahkah memberi arti dan makna kemerdekaan sesungguhnya? Meski 76 tahun Indonesia bebas dari segala penjajahan fisik, nyatanya penjajahan politik dan ekonomi masih membayangi negeri ini. Negeri zamrud khatulistiwa yang terkenal dengan semboyan “gemah ripah loh jinawi” justru terpuruk di berbagai lini. Adapun tema yang diangkat dalam hari kemerdekaan tahun 2021 ialah “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”. “Hentikan semua kegiatan dan aktivitas Saudara selama tiga menit saja pada tanggal 17 Agustus (2021) pukul 10 lewat 17 menit Waktu Indonesia Bagian Barat. Ambil sikap sempurna, berdiri tegak, untuk menghormati Peringatan Detik-Detik Proklamasi,” kata Menteri Sekretaris Negara, Pratikno dalam video unggahannya. (Muslimah news.com, OPINI/ 18 Agustus 2021)



Dalam momen bersejarah bagi negeri ini, selalu ada satu pertanyaan penting yang selalu muncul di setiap perayaan kemerdekaan, “Sudahkah Indonesia Merdeka?” Pertanyaan tersebut bukan sekadar narasi kosong tanpa makna. Terdapat banyak indikator yang membuat Indonesia belum merdeka secara hakiki. Berdiri tegak dengan sikap sempurna dalam menghayati detik-detik proklamasi tidaklah cukup untuk memaknai secara mendalam apa sesungguhnya arti kemerdekaan. Inilah indikator mengapa Indonesia belum merdeka secara hakiki. Pertama, secara ideologi, Indonesia masih terbelenggu ideologi kapitalisme, baik secara politik maupun ekonomi. Dari aspek politik, hal ini bisa kita lihat dari perjalanan politik pemerintahan yang berkuasa saat ini. Kebijakan yang ditetapkan masih berkiblat pada kepentingan kapitalis-korporasi-oligarki. Produk hukum yang dihasilkan pun juga berwajah kapitalis. Contoh paling nyata adalah UU Omnibus Law Cipta Kerja, UU Minerba, dan lainnya.



Dari aspek ekonomi sudah sangat jelas. Liberalisasi dan kapitalisasi ekonomi sangat kentara. Dampaknya pun bisa dirasakan masyarakat secara umum dan rakyat jelata khususnya. Kemiskinan dan kesejahteraan masih menjadi isu yang tidak pernah terselesaikan secara tuntas. Derasnya TKA, banjirnya proyek infrastruktur dan investasi asing, dan kebijakan impor pangan adalah salah satu efek penerapan ekonomi kapitalisme neoliberal. Kedua, kita masih dijajah budaya dan moral produk pemikiran asing seperti sekularisme, liberalisme, hedonisme, dan budaya permisif yang kian menggerus jati diri bangsa. Utamanya anak negeri. Yang paling merasakan dampaknya adalah sistem pendidikan dan anak didik kita.



Menurut Komnas Perlindungan Anak (KPAI) dan Kementerian Kesehatan hasil survei pada 2019 menunjukkan bahwa 62,7% remaja Indonesia pernah melakukan hubungan seks bebas atau seks pranikah. Ini baru satu data. Belum kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak dan kasus sejenis lainnya. Ketiga, Indonesia masih dijajah utang yang menggunung. Utang inilah yang menyebabkan Indonesia terjajah negara lain. Belum mandiri dan berdikari. Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah sampai akhir Juni 2021 sebesar Rp6.554,56 triliun. Angka tersebut 41,35% dari rasio utang pemerintah terhadap PDB. Adapun komposisi utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp842,76 triliun (12,86%) dan SBN sebesar Rp5.711,79 triliun (87,14%). (Merdekacom, 24/7/2021)



Benarkah Indonesia Sudah Bisa Dikatakan Tangguh dan Tumbuh ?



Melihat fakta yang terjadi di atas bahwa bukan bermaksud menurunkan optimisme bahwa Indonesia bisa maju seperti negara lain. Hanya saja, jika kacamata kapitalisme tetap dipakai untuk mencapai negara tangguh dan tumbuh rasanya sangat pesimis. Indonesia bisa dikatakan tangguh bila: (1) Sistem politik ekonominya tidak membebek negara Barat ataupun Timur. Tidak berarti netral, melainkan ia memiliki kekuatan ideologi yang khas dan sahih; (2) Sistem pendidikannya menjadi mercusuar peradaban, menghasilkan generasi berkepribadian Islam, yaitu pola pikir yang cerdas dan pola sikap yang bijak berdasar syariat Islam. 



(3) Sistem kesehatan yang kuat dengan tenaga kesehatan yang mumpuni dan fasilitas kesehatan yang lengkap. Bagaimana mau tangguh jika masyarakatnya sakit, nakesnya berguguran, fasilitas kesehatan tak memadai, dan layanan kesehatan yang tidak merata? Menghadapi pandemi saja sistem kesehatan kita ambruk dan di ujung tanduk. Masih banyak masyarakat yang belum merasakan pelayanan kesehatan yang prima dan terjamin dari negara. (4) Sistem pertahanan dan keamanan yang hebat, yakni tidak mudah dirongrong negara asing; mampu menjaga kedaulatan wilayah darat, laut, dan udara; memiliki industri militer sendiri; tidak impor senjata ataupun membeli senjata dan barang militer bekas dari negara lain.



Negara bisa tumbuh jika diiringi dengan peningkatan kesejahteraan. Jika diklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 7,07% , terbesar dalam 16 tahun terakhir, mengapa angka kesejahteraan masih jauh dari harapan? Selama 1,5 tahun pandemi jumlah pengangguran terbuka nyaris 10 juta orang dan angka kemiskinan menembus 10%. Angka ini juga tidak mewakili secara fakta jumlah pengangguran dan kemiskinan. Karena dihitung berdasarkan rata-rata. Secara faktual, bisa jadi angkanya lebih besar lagi.



Apalagi di momen kemerdekaan ini, mestinya kita berbenah. Mengapa selama 76 tahun merdeka dari penjajahan fisik, tetapi belum bisa merdeka dari penjajahan lainnya? Penyebabnya adalah negara sudah salah arah menerapkan tata kelola pemerintahan dengan mengambil ideologi kapitalisme sebagai acuan dasar di setiap kebijakan. Alhasil, Indonesia belum bisa keluar dari statusnya sebagai negara berkembang. Padahal, kekayaan SDM dan sumber daya alam serta energinya berpotensi besar menjadi negara tangguh dan tumbuh sebagai adidaya baru.



Indonesia Tangguh dan Tumbuh Bersama Islam



Bersama kapitalisme, Indonesia jadi sasaran penjajahan negara kapitalistik. Bersama sekularisme, SDM unggul tengah diuji dalam bayang-bayang kerusakan generasi yang kian mengkhawatirkan. Bersama liberalisme, Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia.



Memaknai kemerdekaan janganlah sebatas seremonial tahunan. Mari maknai kemerdekaan dengan perubahan mendasar. Perubahan yang mengubah wajah sistem hari ini, yaitu kapitalisme, ke arah perubahan hakiki. Perubahan mendasar dengan sistem sahih, syariat Islam secara kafah.



Merdeka yang sebenarnya adalah hijrah dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah Swt. saja. Kemerdekaan yang sempurna itu hanya bersumber dari penghambaan yang benar kepada Allah Yang Maha Esa. Menghamba hanya kepada Allah bermakna ketaatan dan ketundukan total kepada hukum Allah di segala aspek kehidupan.



Dengan penerapan Islam secara kafah, Indonesia bisa merdeka dari penjajahan kapitalisme. Dengan pelaksanaan syariat Islam dalam bernegara, Indonesia bisa menjadi negara tangguh yang memiliki bargaining position di kancah dunia. Dengan tegaknya Khilafah, Indonesia dan negeri-negeri muslim bisa tumbuh sebagai negara super power sebagaimana sejarahnya dulu. Gemilang di pentas peradaban selama 1.300 tahun lamanya.



Patut kita ingat ucapan emas dari Imam Malik rahimahullah, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.” Umat terbaik ini hanya bisa kembali mulia dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dan fundamental bersama hadirnya institusi penegaknya, Khilafah Islamiah. "Wallahu A'lam Bisshawab"