Indonesia Hijrah dengan Syariah Rakyat Pasti Sejahtera


Oleh Ir. H. Izzah Istiqamah

(Praktisi Pendidikan) 


Berbagai sistem di dunia sudah dicoba dan nyata bagaimana hasilnya. Hanya sistem Islam dengan penerapan syariah, yang telah membuktikan kemuliaan umat dalam kehidupan yang sejahtera. 

Dikutip dari CNN Indonesia -- Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan untuk bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap), pertumbuhan ekonomi Indonesia harus mencapai 6 persen pada 2022 mendatang. Jika itu bisa dicapai, ia merasa yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045.

Berdasarkan hasil perhitungan dari Bappenas, pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca 1998 tidak pernah kembali ke skenario trajectory (tren) pertumbuhan ekonomi tanpa krisis. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi selama ini selalu macet dan berada di posisi 5 persen.

Semangat hijrah pada umat Islam saat ini sepatutnya tidak berhenti pada perbaikan individu. Sudah sepantasnya semangat hijrah umat diarahkan demi mewujudkan harapan negeri baldatun thayyibah wa rabbun ghafur. 

Umat muslim di seluruh dunia sudah memasuki tahun baru Islam 1443 Hijriyah. Di Tanah Air, ghirah keislaman menyambut pergantian tahun baru Islam belakangan terus semakin meningkat. Ada harapan dan keinginan dari segenap umat bahwa pergantian tahun baru Hijriyah ini dapat memberikan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Hal penting bagi kita adalah memetik makna sesungguhnya dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dan para sahabat dari Makkah ke Madinah, yang terjadi pada 14 abad silam.

Hijrah secara bahasa berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.

Belakangan ini kata hijrah di Tanah Air menjadi populer. Kata ini disematkan untuk perubahan pribadi seseorang dari kondisi kemaksiatan menuju kondisi islami. Kondisi dari pribadi muslim yang ugal-ugalan, tidak peduli halal dan haram, menjadi individu yang dekat dengan Allah Swt. Dari bisnis yang berlumur riba menuju muamalah yang halal penuh dengan rida-Nya. Kondisi di saat muslimah yang belum menutup aurat menjadi sosok yang tak lepas dari jilbab. Masyarakat mayoritas sering menamakan hal tersebut sebagai fenomena hijrah.

Ketika seorang muslim yang bertobat kepada Allah Swt., bersungguh-sungguh menaati segala aturan-Nya dan meninggalkan kemaksiatan pribadi bisa disebut tengah melakukan hijrah. Sebagaimana penjelasan Nabi saw. saat beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhijrah itu?” 

Rasul menjawab:

"Dialah orang yang meninggalkan perkara yang telah Allah larang atas dirinya." (HR Ahmad).

Makna hijrah ini yakni meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, adalah perkara yang wajib bagi setiap muslim. Siapa saja yang ingin mengharapkan rida Allah Swt. sudah seharusnya meninggalkan kemungkaran menuju penghambaan kepada-Nya. Meninggalkan muamalah ribawi, kebiasaan suap-menyuap, menipu, berbisnis barang yang haram semisal minuman keras, membuka aurat, membela LGBT, berbuat zalim terhadap sesama muslim, mempersekusi dakwah, dan lain-lain. Lalu beralih pada perilaku yang islami. Selalu rajin beribadah, mencari rezeki yang halal, menutup aurat, beramar makruf nahi mungkar, dan sebagainya. 

Allah Swt. berfirman:

"Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian dan surga seluas langit dan bumi yang disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa." (TQS Ali Imran [3]: 133).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî Syarhu Shahîh al-Bukhârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan berbagai kebaikan. Hijrah secara mutlak dalam as-Sunnah ditransformasikan ke makna: meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr al-Islâm. Jika demikian maka asal hijrah adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah larang berupa kemaksiatan, termasuk di dalamnya meninggalkan negeri syirik, menuju kemuliaan hidup yang uslami untuk tinggal di Dâr al-Islâm.

Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan termasuk pendidikan, kesehatan, muamalah dan sebagainya yang keamanannya secara penuh berada di tangan kaum muslim. Sedangkan darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) menuju ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam).

Hijrah inilah yang menjadi peristiwa besar dalam sejarah umat dengan tegaknya negara Islam pertama di Madinah. Pada saat Nabi saw. dan para sahabat bersama-sama hijrah ke Madinah. Islam dapat ditegakkan secara kâffah di Madinah, dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hukum-hukum Islam baru dapat dilaksanakan dengan paripurna setelah hijrah Nabi saw. dan kaum muslim; mulai dari hukum ibadah, sosial, ekonomi hingga pemerintahan.

Sebagai negara yang menjalankan sistem Islam, akhirnya Madinah menjadi pusat pemerintahan kaum muslim yang pertama. Di sanalah Rasulullah saw. dan selanjutnya Khulafa ar-Rasyidin mengatur urusan umat muslim baik untuk urusan dalam maupun luar negeri dengan aturan Islam. Nabi saw. mengirim delegasi ke sejumlah negeri seperti ke Mesir, Persia dan Romawi untuk mengajak mereka memeluk agama Islam dan tunduk pada kekuasaan beliau serta menjadi bagian wilayah negara Islam. Beliau juga mengirim pasukan ke berbagai medan peperangan, baik yang dipimpin langsung oleh beliau maupun dipimpin oleh para sahabat. Pada masa Khulafa ar-Rasyidin luas kekuasaan kaum muslim menjadi empat kali lebih luas dibandingkan Prancis dan Jerman, meliputi Jazirah Arab, Persia hingga wilayah Syam dan Palestina serta sebagian Afrika.

Begitu pentingnya arti hijrah, maka penetapan awal kalender Hijrah pun diawali dari peristiwa hijrah tersebut.

Semangat hijrah seharusnya direalisasikan dalam perjuangan penegakan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Islam untuk menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan. Karena hanya penerapan syariah dan khilafah umat Islam akan sejahtera dan mulia.