Ilusi Kemerdekaan

 



Oleh Sulastri Anggraini 

Penulis


Terhitung 76 tahun sudah Indonesia merdeka. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), makna merdeka ialah bebas dari penghambaan, penjajahan, dan sebagainya. Artinya sudah 76 tahun Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan. Namun, pertanyaan yang kerap kali terdengar setiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia adalah apakah kita sudah benar-benar merdeka?


Secara fisik tentu jawabannya adalah iya, kita sudah merdeka. Berkat usaha dari para pahlawan bangsa dan para ulama yang berjuang mati-matian melawan koloni Belanda dan Jepang untuk membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Kita tentu wajib bersyukur atas kondisi tersebut. Karena kita tidak lagi melihat tentara-tentara asing berkeliaran di negeri kita untuk menindas atau membunuhi rakyat.


Namun kini, terlepas dari penjajahan fisik kita justru dihadapkan dengan penjajahan yang lebih berbahaya. Mari sejenak kita melihat kondisi negara kita hari ini, Indonesia secara fisik memang terlepas dari penjajahan, akan tetapi Indonesia masih saja berada dalam cengkeraman penjajahan gaya baru (neoimperialisme). Bagaimana tidak, SDA yang pengelolaannya seharusnya dilakukan oleh negara, sekarang masih dikuasai dan dikelola oleh asing. Hal ini membuat kondisi perekonomian Indonesia semakin sulit. Mulai dari tingkat kemiskinan yang masih tinggi hingga merembet ke sektor lain.


Sebagai contoh, penambangan tembaga dan emas di Timika, Papua yang dilakukan oleh PT Freeport Indonesia yang dinilai telah mendatangkan kerugian besar bagi Indonesia. Kerugian tersebut tentu disebabkan karena hasil kekayaan bumi Indonesia yang dapat dinikmati oleh bangsa kita sendiri berbanding jauh dengan hasil yang diterima pemilik modal asing. 


Petaka di negeri ini tidak cukup sampai di situ, korupsi yang masih menggurita, utang luar negeri yang setiap harinya terus bertambah, segala hal dikomersilkan, dan kasus-kasus lainnya masih menjadi momok tersendiri bagi negeri ini. 


Lantas apakah benar kita sudah merdeka?

Sepertinya kata “merdeka” masih menjadi ilusi. Penjajahan dengan wajah yang berbeda masih menjadi fakta yang tidak dapat dielakkan. Kita tidak dijajah dengan fisik, namun kita dijajah dengan ekonomi, pendidikkan, politik, bahkan media. Penjajahan dengan menggunakan lisan untuk bernegosiasi, dan pena untuk menandatangani kebijakan.


Apakah kemerdekaan seperti ini yang kita kehendaki? Kemerdekaan itu sejatinya harus terwujud dalam dua aspek, yaitu merdeka secara lahir dan merdeka secara batin. Merdeka secara lahir artinya Indonesia terbebas dari segala bentuk penjajahan, baik yang fisik maupun non fisik. Sedangkan merdeka secara batin maknanya adalah kita terbebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah. Bagi umat Islam, hal ini adalah harga mati. Allah satu-satunya Tuhan yang layak disembah dan Ia-lah sebaik-baik Pembuat hukum.


Oleh karenanya, marilah kita memikirkan kembali bagaimana esensi kemerdekaan yang hakiki. Apresiasi kemerdekaan yang kita rayakan hari ini jangan hanya sekadar seremonial belaka, melainkan harus menyentuh esensi dari kemerdekaan itu sendiri. Sehingga di kemudian hari yang disebut cinta terhadap tanah air bukan orang yang mencium bendera merah putih dengan khidmat, atau hafal dengan Pancasila saja, tapi diam-diam menjual sumber daya negara kepada asing atau mempersilakan mereka untuk merenggut kekayaan dalam negeri.


Sudah saatnya rakyat Indonesia melek politik agar bisa meraih kemerdekaan yang hakiki bukan sebatas ilusi. Kemerdekaan yang membebaskan kita terhadap penghambaan kepada selain Allah, menuju penghambaan hanya kepada-Nya.


Wallahu a’lam bi ash-shawwab.