Hipokrisi Demokrasi Tidak Mau di Kritik Rakyat

Oleh. Ir. H. Izzah Istiqamah

(Praktisi Pendidikan) 



"Tidak akan terjadi hari kiamat hingga orang-orang munafik diangkat menjadi pemimpin pada setiap kabilah. Oleh karena itu, aku lebih menginginkan kematian sebelumWaktu itu tiba." 

 (HR: Thabrānī dan Musnad al-Bazzār)


"Secara umum  billboard/baliho/media luar ruang memiliki keunggulan: mudah dilihat di pinggir jalan besar. Ukurannya besar dan mudah orang untuk melihatnya. Apalagi ketika diletakkan di kawasan yang strategis pasti tidak terhindarkan orang lewat tak bisa mengelak," kata Firman kepada wartawan, Rabu (04/08) malam.(Detiknews.com) 


Waktu untuk Kontestasi Pemilihan pemimpin untuk Presiden (Pilpres) 2024 memang masih jauh. Namun, para bakal kandidat sudah mulai membuat ancang-ancang seperti memasang  baliho. Walhasil bukan menuai simpati malah mendapatkan protes dari rakyat karena para politisi yg menawarkan diri menjadi pemimpin adalah sosok yang tak punya kepekaan terhadap kondisi rakyat dan hanya bertarung demi mendapat kursi. 

Kondisi seperti ini semestinya menjadi cambuk bagi rakyat untuk segera sadar akan keburukan sistem demokrasi yang niscaya hasilkan politisi pengabdi kursi bukan pelayan rakyat


Para rezim penguasa seharusnya bisa membuat para pendukungnya supaya lebih tenang dan tidak salah paham mendengar kritik. Akan tetapi, jika rezim malah membiarkan para pendukungnya membangun iklim “sedikit-sedikit melaporkan” maka peristiwa ini akan semakin menunjukkan bahwa rezim penguasa saat ini anti kritik.


Hanya karena mengkritik rencana kebijakan darurat sipil akan diperkarakan. Dan semakin lama semakin aneh, masak menyebarkan dakwah khilafah lewat facebook diperkarakan sebagai makar lewat facebook. Hal ini semakin memperkuat adanya bukti bahwa rezim penguasa saat ini tidak siap berbeda pandangan dan anti kritik.


Rezim penguasa saat ini dianggap sama dengan rezim orde baru yaitu sama-sama anti kritik, membungkam suara-suara kritis, tidak mau menerima masukan untuk kebaikan negara, mengkriminalisasi pihak-pihak yang kritis. Mereka mengatakan demi stabilitas politik, keamanan dan ketertiban umum.


Kondisi ini sudah hampir sama dengan rezim penguasa orde baru dengan gaya yang baru saja perlakuannya.

Rezim penguasa melakukan kejahatan dengan berlindung di balik pasal-pasal “penghinaan” , “pencemaran nama baik”, “berita bohong” dan “makar” agar bisa mengkriminalisasi pihak-pihak yang sedang kritisi atas kebijakan salah yang rezim lakukan.


Menyedihkan jika ada pihak pemerintahan bahwa kritikan terhadap kebijakan pemerintah bukanlah merupakan tindak kejahatan. Sehingga, hal itu tidak bisa dipidanakan oleh kepolisian.


Sudah saatnya rezim penguasa segera berdamai dengan rakyat nya, jangan sampai krisis legitimasi rezim penguasa saat ini diperparah dengan sikap anti kritik, jumawa dan represif.

Rezim penguasa seharusnya belajar dari kisah para sahabat nabi. Sahabat nabi menyadari bahwa pemimpin) adalah raa’in (pengurus rakyat) . 


Inilah yang menjadikan  masyarakat mengkritik para penguasa, yang menjalankan amanah para rakyat. Amanah untuk mengurusi urusan rakyat. Amanah untuk menjadi pelindung rakyat.


Kritik adalah bagian dari sikap peduli dari rakyat untuk negeri, bukan bagian dari kebencian, bisa jadi justru sebagai solusi untuk mengingatkan penguasa jika lupa. 


Mental bobrok telah menjadikan para penguasa negara lupa, bahwa ada hisab setelah kematian. Ada dosa dan ada pahala. Ada surga dan neraka sebagai balasannya. 

Seharusnya rezim penguasa belajar dari Amirul Mukminin Umar bin Khatab.

Bagaimana Umar dengan senang hati dikritik dan mengakui kesalahannya di hadapan umat. Tidak ada kejahatan sama sekali bahkan perlakuan keji terhadap rakyatnya yang menyampaikan kritik atas kebijakan yang dirasa dzalim. Hanya khilafah yang mampu mencetak para pemimpin yang mulia. Pemimpin negara yang dirindukan surga.


Mari umat islam segera rapatkan barisan untuk bersatu dan berjuang bersama mewujudkannya.Allahu akbar! 

Wallahu’alam.