Hijrahnya Sebuah Negara

 


Oleh Inge Oktavia Nordiani

(Pemerhati masalah publik)


Bulan Muharram identik dengan bulan hijrah. Sebagai kaum muslimin sangat melekat sekali gambaran kisah sebagai penunjuk makna hijrah. Ya, kisah perjalanan dakwah Baginda Nabi Muhammad saw. dari Mekkah ke Madinah yang kemudian dibuat sebagai awal tahun Hijriyah. Sebagai semangat baru munculnya sebuah peradaban besar.


Tak lekang dari ingatan, bagaimana kondisi masyarakat mekkah sebelum hijrah. Masyarakatnya rusak dari segala aspek kehidupan. Setelah 13 tahun masyarakat Madinah menerima dakwah dan menyerahkan tanpa  kekerasan. Hijrah ini yang menjadi tonggak berdirinya daulah Islam pertama kali. Di sinilah terjadi perubahan masyarakat jahiliyah yang gelap menjadi Islam yang gilang gemilang. Di sana Nabi menerapkan Islam secara sempurna dan sangsi tanpa pandang bulu.


Peristiwa hijrah Nabi saw. bersama para sahabat beliau dari Makkah ke Madinah disepakati sebagai awal penanggalan kalender Hijrah atas usul Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Hal ini dicatat oleh Ibnu al-Jauziy dalam kitabnya, Al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam (4/227). Besar harapan dan keinginan umat agar momen hijrah dapat mengubah keadaan negeri ini menuju suasana yang lebih islami, berada di jalan yang diridhai Allah Swt.


Apabila ditelusuri makna hijrah maka akan kita dapati bahwa hijrah artinya berpindah ke dalam keadaan yang lebih baik, baik itu dalam artian tempat maupun perilaku.  Seseorang dapat dikatakan hijrah bila memenuhi dua hal yaitu meninggalkan hal yang lama yang tidak baik untuknya dan berjalan menuju hal baru. Semua itu dilakukan sesuai dengan koridor perintah dan larangan Allah Swt.


Belakangan ini di negeri kita mulai banyak pribadi-pribadi yang berhijrah baik dari kalangan masyarakat biasa bahkan kalangan artis. Ini merupakan hal yang patut disyukuri sebab mulai banyak yang menyadari arti/tujuan hidup yang sebenarnya.  Sebagaimana dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 218,


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."


Semangat hijrah pada  kaum muslimin sepatutnya tidak berhenti pada perbaikan individu, tapi juga mengarah pada terwujudnya masyarakat yang baik dan negeri yang baldatun thayyibah wa rabbun ghafur. Bagaimana tidak, untuk suatu perubahan individu menjadi baik tentu dibutuhkan sebuah lingkungan yang baik sampai pada tataran Negara. Negara merupakan tonggak berdirinya aturan demi aturan yang akan mentertibkan rakyatnya. Ibarat seutas sapu lidi tidak akan mampu membersihkan dedaunan yang berjatuhan. Dibutuhkan kumpulan sapu lidi hingga menjadikan gerakan yang kuat. Tidak cukup di situ barisan sapu lidi tersebut membutuhkan pengikat yang mampu mempererat satu sama lainnya.


Apabila dikaji secara lebih mendalam sesungguhnya konteks hijrah hari ini adalah hijrahnya seorang muslim dari sistem sekuler menuju sistem Islam. Sebab jika tidak maka yang terjadi hanyalah perpindahan tahun saja tanpa perpindahan kehidupan.


Sungguh kaum muslimin hari ini telah terbelit oleh sebuah pemikiran yang memisahkan kehidupan dunia dan agama. Kondisi yang menjebak kaum muslimin bisa dikatakan jahiliyah modern. Hampir seluruh aspek kehidupan yang dahulu pernah Rasulullah saw. dan para khalifah sesudah Beliau bangun, kini mulai tergerogoti satu persatu dengan cara ghazwul fikr (perang pemikiran). Maka tidak bisa tidak negeri ini harus berhijrah pada kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang diatur oleh sistem yang baik yaitu bersumber dari Allah Swt.