Hijrah Total Menuju Islam Kaffah


Oleh Hamsina Halisi Alfatih


Hijrah atau berpindah yang biasa dikenal dengan bahasa kerennya move on adalah titik jenuh seseorang yang telah menyambut hidayah dari yang Maha Kuasa. Hijrah ini ditandai dengan perubahan hidup seorang mukmin baik dari bentuk sikap, sifat maupun cara berpakaian.

Hijrah tentu berkaitan dengan istiqomah dan keimanan. Mengapa demikian? Ketika seseorang telah memutuskan untuk hijrah berarti ia siap menata hatinya dengan keimanan yang penuh dan tentu hal ini memiliki konsekuensi yang tidak main-main. Sebab dalam keimanan konsekuensi  tertinggi ialah taat kepada seluruh aturan dari Allah Swt. tanpa tapi tanpa nanti.

Jika kita memandang fenomena hijrah saat ini, kebanyakan masih tak bersandar pada Al-Qur'an dan Sunah. Hijrah tak dimaknai secara mendalam hingga hanya sekadar dijadikan tameng untuk menutupi kemaksiatan yang tersembunyi. Maka dalam hal ini pun mencederai keimanan, karena hijrah yang dilandasi hawa nafsu bukannya membawa kebaikan tapi kerusakan pada diri, lingkungan dan masyarakat.

Kata hijrah sendiri berasal dari bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.

Perintah berhijrah terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, antara lain: QS. al-Baqarah ayat 218, yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Serta dalam ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia." (QS. al-Anfal 8: 74).

Merujuk daripada makna hijrah itu sendiri seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw.  dan para Sahabat, para ulama pun mengartikan bahwa hijrah merupakan perpindahan dari darul kufur menuju darul lslam. Dengan kata lain, seluruh kaum muslim diwajibkan untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan baik yang membahayakan dirinya maupun keluarganya.

Perintah hijrah yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an adalah gambaran bagi orang-orang yang beriman yang semata-mata meletakkan ketakwaannya hanya semata karena Allah Swt. Hal ini pun menjadi pembeda antara orang-orang mukmin yang taat dengan orang-orang munafik, fasik dan zalim.

Maka dari itu, jika ingin menjadi hamba yang bertakwa hendaklah meletakkan dasar hijrah sesuai dengan niat karena Allah semata bukan atas dasar hawa nafsu. Di samping melaksanakan, menerapkan seluruh ajaran Islam secara total dalam kehidupan sehari-hari hingga mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Tidak ada pengecualian bagi seorang mukmin ketika telah memutuskan hijrah selain ia harus benar-benar bertakwa dengan konsekuensi keimanannya yakni berislam secara kaffah. Wallahu A'lam Bishshowab.