HIJRAH: PENGORBANAN DAN PERUBAHAN

 



Oleh Ummu Yusuf



Kita sekarang berada di tahun baru 1443 H. Beragam suasana duka terjadi sepanjang tahun lalu dari pandemi, krisis ekonomi, korupsi yang merajalela, penistaan terhadap ajaran islam dan ketidakadilan hukum kepada tokoh-tokoh umat. Sehingga besar harapan dan keinginan umat agar momen hijrah dapat mengubah keadaan negeri ini menuju suasana yang lebih islami, berada di jalan yang diridhai Allah Swt.


Peristiwa hijrah Nabi saw. bersama para sahabat beliau dari Makkah ke Madinah disepakati sebagai awal penanggalan kalender Hijrah atas usul Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Dengan menelaah Sirah Nabi saw., siapapun akan paham bahwa hijrah Nabi saw. dan para sahabat adalah peristiwa besar, bahkan menjadi tonggak tegaknya Islam di muka bumi. Melalui hijrah, Islam menjadi kekuatan besar yang menebarkan rahmat ke seluruh umat manusia.


Hijrah adalah pengorbanan. Selain harus menempuh perjalanan yang berat, kaum muslim menghadapi dua ujian dalam berhijrah, yaitu : 

1. Ujian keimanan. Mereka harus meninggalkan negeri asal mereka, harta benda, tempat tinggal bahkan keluarga mereka. Mereka berpindah ke negeri yang di sana tak ada sanak kerabat, tidak dijanjikan akan mendapat tempat tinggal baru atau mata pencaharian baru sebagai ganti harta yang mereka tinggalkan. Hanya bermodalkan keyakinan pertolongan Allah Swt. mereka berhijrah. Allah Swt. pun memberikan pujian dan pahala berlimpah kepada kaum Muhajirin.

2. Kaum muslim yang berhijrah juga menghadapi ujian pengorbanan dan penentangan dari kaumnya.

Hijrah Nabi saw. ke Madinah bukanlah karena beliau ingin menghindar dari kesulitan yang menghadang dakwah beliau selama di Makkah, juga bukan karena Rasulullah saw. sudah tidak bisa bersabar lagi menghadapi rintangan dakwah. Namun, beliau menyadari bahwa masyarakat Makkah berpikiran dangkal, bebal dan berkubang dalam kesesatan. Karena itu beliau melihat bahwa dakwah harus dialihkan dari kondisi masyarakat semacam ini ke kondisi masyarakat yang kondusif dan siap menerima Islam. 


Lalu Allah Swt. memberi pertolongan dengan kedatangan suku Aus dan Khazraj dari Madinah. Mereka terkenal dengan kekuatan mereka dan posisi negeri yang geostrategis. Lahan di Madinah juga lebih subur serta posisi Madinah sulit untuk diterobos dan diserbu musuh. Hal tersebut disadari oleh kaum musyrik Quraisy. Mereka mencemaskan Islam menjadi kekuatan besar yang bisa mengalahkan mereka. Karena itu mereka berusaha keras menghadang hijrah kaum muslim, khususnya Rasulullah saw. Namun, dengan izin Allah, beliau dapat menerobos kepungan orang-orang kafir Quraisy dan lolos dari kejaran mereka hingga beliau tiba di Madinah.


Setiba di Madinah, Rasulullah saw. melakukan sejumlah langkah untuk membangun kekuatan dalam wujud Negara Islam pertama di dunia yang kokoh. Pertama: Berhasil menyatukan suku Aus dan Khazraj, juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Kedua: Mengikat seluruh pihak di Madinah dan sekitarnya. Tujuannya, antara lain, agar eksistensi Negara Islam yang dibangun tidak digoyahkan oleh siapapun. Ketiga: Menyusun struktur pemerintahan Islam di Madinah dan menjalankan syariat Islam secara kafah di sana.


Dakwah Islam dan jihad fi sabilillah pun dilakukan oleh Rasulullah saw. selama hidup di Madinah. Beliau memimpin Penaklukan Makkah pada tanggal 17 Ramadhan 8 H dengan mengerahkan 10 ribu tentara kaum muslim. Saat Rasulullah saw. wafat, seluruh Jazirah Arab telah masuk ke dalam kekuasaan kaum muslim (Negara Islam). Ekspansi Islam ini diteruskan oleh Khulafa ar-Rasyidin, lalu oleh para khalifah berikutnya.


Peristiwa hijrah telah memberikan keteladanan dan pelajaran penting. Betapa perubahan masyarakat menuju tatanan yang penuh rahmat dan keadilan tidak mungkin terjadi tanpa Islam. Perubahan tersebut tak mungkin terjadi tanpa pengorbanan. Kaum muslim generasi awal telah mencontohkan bahwa kemenangan dan perubahan besar itu hanya bisa karena pengorbanan yang besar di jalan Allah. Semoga kita bisa mengikuti jejak mereka. Aamiin.