HARAPAN HADIRNYA TATA KEHIDUPAN BARU

 



Oleh Rifka Nurbaeti, S.Pd 

Pegiat Literasi


    

Siapapun pasti akan mengakui kehidupan saat ini kondisinya sangat memprihatinkan, baik dari kalangan rakyat biasa, tokoh, politisi, kaum intelektual, pejabat dan lainnya. Kerusakan, kezaliman, ketidakadilan dan kenestapaan sudah menjadi warna kehidupan rakyat dalam sistem ini. Tahun ini di bulan Agustus, umat Islam memasuki tahun baru Hijrah, tahun 1443 H. Pada bulan ini juga, Indonesia genap berusia 76 tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk sebuah bangsa menyongsong kebangkitan menjadi bangsa yang maju, baik dari aspek fisik maupun non fisik.


Faktanya dari tahun ke tahun justru kondisinya masih memprihatinkan, terlebih lagi ketika dunia termasuk negeri ini dilanda pandemi Covid-19. Sejak awal pandemi, pemerintah menunjukkan kegamangan dan ketidakkonsistenan dalam penanganan pandemi yang ditandai dengan berubah-ubahnya kebijakan. Efek domino pandemi di samping kemiskinan yang semakin meningkat, juga menyasar pada utang yang semakin menggunung. Lembaga riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memprediksi stok utang pemerintah akan melonjak drastis dan mencapai 9.800 triliun rupiah pada akhir pemerintahan periode kedua Presiden Jokowi, Oktober 2024. Posisi stok utang pemerintah awal pandemi, per Maret 2020, telah menembus Rp5.000 triliun dan atas nama stimulus untuk melawan pandemi kini, per Juni 2021, menembus Rp6.500 triliun rupiah (VOAISLAM.com). Diperparah lagi dengan semakin menguatnya pengaruh oligarki dalam pengelolaan negara, pelemahan upaya pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yang tebang pilih.


Semua permasalahan di atas hanyalah akibat. Akar penyebabnya tidak lain bercokolnya sistem kapitalisme demokrasi sekular. Sistem ini diterapkan secara paksa di dunia Islam oleh kaum penjajah nyaris satu abad. Ini jika dihitung sejak keruntuhan Khilafah Islamiyah yang terakhir di Turki pada tahun 1924. Keruntuhan Khilafah Islamiyah menandai penghapusan sistem Islam sekaligus pemberlakuan sistem Barat sekular. Sejak itulah sistem jahiliyah modern dimulai. Sejak itu pula keterpurukan kaum muslimin di negeri-negeri Islam terjadi. Sistem kapitalisme hampir menginfeksi seluruh negara di dunia. Baik yang bercorak sekuler-liberal atau yang berpaham sosialis-komunis. Pada akhirnya, solusi yang ditawarkan kapitalisme tidaklah ampuh, terutama menekan laju virus corona yang mengganas.


Diserang satu makhluk kecil, dunia tergagap. Ekonomi megap-megap. Sistem kesehatan terperangkap. Diikuti krisis multidimensi lainnya. Krisis pangan, krisis oksigen, dan krisis keuangan. Beraneka skema diterapkan. Semisal new normal yang menemui kegagalan, malah menimbulkan klaster baru penyebaran. Pandemi corona membuka tabir bobroknya kapitalisme memimpin dunia. Sangat wajar bila ada harapan di tengah kegagalan ideologi kapitalisme. 


Harapan itu ada pada Islam. Dunia membutuhkan tatanan baru. Bukan tambal sulam yang sudah tak laku. Tidakkah corona mengandung hikmah? Di bawah naungan kapitalisme, masalah terus bertambah. Sikap manusia yang serakah merusak keseimbangan alam. Udara dan lingkungan membaik tatkala masyarakat dipaksa berada di rumah selama pandemi corona. Kebiasaan mengonsumsi sembarang makanan juga dipaksa berubah lantaran corona. Hidup bersih dan sehat menjadi slogan ikonis sepanjang pandemi. Padahal, semua itu sudah diajarkan dalam Islam jauh sebelum virus ada. Hal ini mengindikasikan bahwa aturan Islam memang membawa kemaslahatan untuk umat manusia. Tak heran bila desakan untuk kembali pada syariat Islam kian menggema. Sayangnya, ada beberapa pihak yang masih nyinyir dengan seruan ini. “Ini masalah corona, bukan masalah agama, “Virus khilafah lebih berbahaya dari virus corona”, “Orang corona solusinya dikasih obat, bukan khilafah.” Itulah sederet narasi sumbang terkait khilafah dan syariat Islam. Nyanyian yang terus dibunyikan bagi kaum gagal paham. Ya, gagal memahami akar permasalahan.


Dunia membutuhkan solusi menyeluruh. Tatanan kehidupan memerlukan suntikan ruh. Suasana ruhiyah yang penuh takwa. Bukan sekularisme yang menjauhkan manusia dari hakikat ia diciptakan. Kekuatan ideologi dan ruhiyah yang sahih. Yaitu sistem Islam dalam negara khilafah. Khilafah Islam akan menjadi obat mujarab bagi dunia karena; 1) Khilafah adalah sistem pemerintahan yang terbukti mampu bertahan selama 13 abad. 2) Khilafah adalah ajaran Islam. 3) Khilafah itu bersandar pada wahyu, bukan akal manusia. 


Jika kapitalisme sudah pasti gagal, komunisme tak layak diemban, lantas ideologi apalagi yang hendak dijadikan pengganti? Jawabannya adalah Islam. Sistemnya pernah ada. Sejarah kegemilangannya nyata, dan dasar hukumnya jelas dan tepercaya. Apalagi yang mau dicari?