Generasi Emas Masa Depan Peradaban Islam

 


Oleh Ummu Farizahrie

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Anak adalah anugerah dari Allah Swt. yang diharapkan setiap pasangan yang telah menikah. Setiap orangtua harus memenuhi hak-hak anaknya secara utuh, berupa kasih sayang, pendidikan, kesehatan, perlindungan dan kebutuhan jasmaninya. Namun sayangnya saat ini tidak semua anak mendapatkan haknya tersebut.


Keadaan ini mendorong pemerintah Kabupaten Bandung untuk memperbaiki sektor kesehatan dan pendidikan di daerahnya guna terpenuhinya hak-hak anak di wilayah pemerintahannya. Hal tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Anak Nasional di Soreang, Kabupaten Bandung.


Dilansir dari timesindonesia.co.id, Bupati Bandung Dadang Supriatna melalui Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A), Muhammad Hairun bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan kualitas anak-anaknya, dengan pemenuhan hak mereka melalui sektor pendidikan dan  kesehatan.


Perbaikan di sektor pendidikan diharapkan dapat memotivasi generasi untuk tetap bersekolah dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Demikian juga dengan kesehatan. Kenyamanan dalam pembelajaran tak mugkin tercapai jika kondisi seseorang lemah, sakit, dan rapuh, terlebih lagi masih ditemukannya kasus stunting, gizi buruk dan lainnya karena faktor kemiskinan, kebodohan, serta minimnya perhatian masyarakat serta negara.


Tentu yang dibutuhkan anak bukanlah semata-mata dua hal di atas. Masih banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak agar berjalan dengan optimal. Kasih sayang dan perlindungan merupakan hal yang tak kalah penting yang harus didapatkan seorang anak. Dan tidak boleh dilupakan adalah pendidikan agama yang baik demi terciptanya anak-anak berkepribadian Islam nan unggul di masa depan.


Sayangnya, sistem yang mengatur umat bukanlah sistem yang peduli nasib generasi tetapi sistem yang membuat masa depan suram, anak-anak berkepribadian rapuh, baik secara mental maupun fisik. Keadaan tersebut didorong oleh paham kapitalisme yang dianut oleh negeri ini. Sebuah sistem yang membuat anak-anak kurang kasih sayang dan perlindungan dari keluarga, masyarakat dan juga negara. Orang tua disibukkan mencari nafkah, masyarakat cenderung individualis, sementara negara fokus memperhatikan kepentingan korporat dan pengusaha. Alhasil banyak anak hilang jati diri, anarkis, dan terjerumus pada kasus kriminal dan kemaksiatan.


Fungsi orangtua seringkali dialihfungsikan kepada pengasuh dan mereka merasa puas bila telah menitipkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan tanpa menyadari bahwa kewajiban  utama ada dipundaknya yang berfungsi sebagai madrasatul ula/sekolah pertama.


Di sisi lain, kemajuan teknologi menyebabkan anak-anak berselancar di dunia maya, tanpa batas. Beragam situs mudah diakses tanpa filter. Sehingga tidak sedikit dari mereka larut dalam permainan unfaedah semisal game, tik tok, upload konten porno, dll. 


Pemerintah pun terlihat tidak serius dalam mengurus hal ini, mereka lemah dalam fungsi kontrol dalam membentengi generasi mudanya dari paparan konten-konten negatif serta game online. Alih-alih membatasi, pemerintah justru menjadikan games sebagai salah satu cabang olahraga E-Sport. 


Sementara itu Islam dengan kesempurnaan aturannya telah mencontohkan bagaimana membentuk generasi bertakwa dan berguna bagi seluruh umat manusia. Hal ini dapat dilihat dari generasi emas peradaban Islam yang mampu mengguncang dunia dan menjadi penyumbang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga saat ini. Contohnya yang paling dikenal adalah Sultan Muhammad Al Fatih yang menjadi penakluk Konstantinopel di usianya yang masih sangat belia. Dari sisi IPTEK banyak sekali ilmuwan-ilmuwan Islam yang terkenal hingga saat ini, antara lain: Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Kindi, Al Biruni, dan lain-lain. Belum lagi yang menjadi ulama fiqih dan hadits seperti Imam 4 Madzhab.


Dalam Islam pendidikan adalah hajat asasiyyah (kebutuhan dasar) yang wajib dipenuhi oleh seorang pemimpin yang menaungi wilayah negeri-negeri Islam yaitu Khalifah. Bagi Islam, ilmu/pendidikan adalah jiwa kehidupan. Allah menempatkan orang-orang berilmu dan para ulama sebagai pewaris para nabi. Begitu pentingnya ilmu maka Allah menempatkan orang-orang berilmu dalam derajat yang tinggi.


"...Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (TQS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)


Pendidikan dalam Islam merupakan perkara wajib yang bertujuan untuk membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Seperti sabda Rasulullah saw: 


“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224) 

Dalam hadis lain Rasulullah juga menggambarkan tentang indahnya orang yang memiliki ilmu bak bulan purnama dan derajatnya ada di atas ahli ibadah.


“Keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para Nabi tidaklah mewariskan dirham dan dinar, akan tetapi mereka mewarisi ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang besar” (HR. Abu Dawud. Dinilai sahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud  no. 3641)


Keutamaan ilmu dan penuntutnya itulah yang akan menjadi perhatian lebih bagi negara di samping perkara lainnya. 

Seorang pemimpin dalam Islam juga akan memastikan seluruh rakyatnya berada dalam level sejahtera dari sisi kesehatan dan ekonomi, menjamin segala kebutuhan mereka sehingga tak ada yang merasa kekurangan pangan atau terdampak stunting dan gizi buruk sebagaimana sistem saat ini. 


Islam akan memelihara ketahanan keluarga dengan membentuk ketakwaan individu sehingga masing-masing memahami peran dan tanggung jawabnya. Negara juga akan menerapkan kontrol di tengah masyarakat sehingga kewajiban amar ma'ruf nahyi munkar berjalan dengan semestinya.


Yang tak kalah penting negara akan mengontrol semua media informasi, baik televisi, internet maupun media sosial. Menjaganya dari konten-konten yang tidak mendidik dan berbahaya. Negara hanya akan menyajikan informasi yang baik dan bermutu sehingga akan meningkatkan keimanan dan ketakwaan rakyatnya.


Demikianlah jika kita kembali kepada aturan Islam yang diterapkan secara kaaffah. Namun hal ini hanya dapat terwujud bila kita berjuang mengembalikan ideologi Islam sebagai satu-satunya sistem yang layak tegak di muka bumi.


Wallahu a'lam bi ash shawab.