Ekonomi Indonesia Terpuruk, Dibilang Tumbuh?


Oleh Ir. H. Izzah Istiqamah

(Praktisi Pendidikan) 


Kriteria ekonomi suatu negara tumbuh, akan nampak pada kesejahteraan yang dirasakan oleh mayoritas rakyatnya. 

Mengatasi pandemi Covid-19 saja karut marut, bagaimana bisa dikatakan ekonominya tumbuh. 

Dikutip dari Fajar.co.id — Pemerintahan Jokowi kembali mendapatkan lontaran serangan berupa ungkapan keras dari PDIP. Berita kali ini tentang peryataan pertumbungan ekonomi kuartal II-2021 sebesar 7,07 persen. Pengumunan itu malah dianggap hanya merupakan klaim sepihak pemerintah. Namun hal itu sama sekali tidak sejalan dengan kondisi riil yang ada di lapangan saat ini.

Di tengah kenyataan kelesuan ekonomi yang dirasakan publik, pemerintah mengumumkan pertumbuhan dengan angka yang fantastis. Banyak publik menganggap klaim ini hanya kebohongan publik karena fakta yang diindra masyarakat justru menunjukkan semakin besarnya jumlah pengangguran, penurunan tingkat kesejahteraan dan sebagainya. 

Apa makna klaim pertumbuhan tersebut ? 

Sistem ekonomi kapitalis hanya bisa mencatatkan angka kemajuan dan pertumbuhan yang minim pengaruh pada kesejahteraan rakyat secara luas

Sistem Islam negara akan mendorong dan mengkondisikan agar semua laki-laki yang mempunyai kemampuan untuk berusaha dan bekerja meraih rezeki alias bisa memasuki mekanisme pasar. Negara menerapkan syariah Islam untuk mengatur seluruh interaksi di tengah-tengah masyarakat serta menjamin perwujudan nilai-nilai keutamaan dan keluhuran dalam setiap interaksi, termasuk di dalamnya interaksi ekonomi Islam.

Kebutuhan dasar rakyat itu dijamin oleh negara yang meliputi kebutuhan pokok berupa sandang, papan dan pangan, serta kebutuhan dasar rakyat secara umum perserikatan individu, yaitu pendidikan, kesehatan dan keamanan.

Sesuai ketentuan syariah Islam dalam hal ini, negara akan menempuh tiga strategi kebijakan untuk rakyatnya. 

Ketiga kebijakan itu antara lain;

1). Islam menetapkan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan pokok individu berupa sandang, papan dan pangan kepada individu dengan cara mewajibkan setiap pria yang baligh, berakal dan mampu, untuk bekerja secara maksimal. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, seperti anak, istri, orang tua dan saudaranya. Negara Islam wajib menyiapkan lapangan kerja yang halal seluas-luasnya dan menutup lapangan kerja dan transaksi bisnis yang haram serta membangun iklim yang kondusif untuk berkembangnya usaha dan investasi yang halal bagi rakyatnya.

2). Jika individu tersebut tidak mampu dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka beban tersebut dibebankan kepada ahli waris dan kerabat dekatnya sebagai kewajiban seorang muslim.

3). Jika dengan strategi kedua kebutuhan pokok itu belum juga terpenuhi, beban tersebut beralih kepada negara. Negara wajib menanggung pemenuhan kebutuhan pokok orang tersebut menggunakan harta yang ada di kas Baitul Mal negara, termasuk harta zakat.

Negara Islam berkewajiban menyediakan layanan pendidikan, kesehatan dan keamanan sebagaimana yang dibutuhkan rakyat. Jika negara tidak mempunyai dana, maka negara bisa mengambil dharibah dari kaum muslim yang kaya, atau berutang yang sesuai dengan syariah. Pungutan dharibah ini bersifat sementara yaitu ketika kas di Baitul Mal kurang atau tidak ada, dan dalam jumlah yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan saja saat itu. 

Sistem khilafah mendorong terciptanya kondisi agar warganya berkesempatan memenuhi kebutuhan sekunder rakyatnya sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Namum dengan dakwah dan pendidikan yang sistemik negara mengarahkan warganya memiliki corak dan gaya hidup yang islami (sederhana, tidak boros, tidak menggunakan hartanya untuk bermaksiat, mendorong rakyatnya untuk mengorbankan harta bendanya digunakan di jalan Allah).

Ketika taraf hidup setiap warga negara khilafah meningkat, ditambah dengan corak dan gaya hidup yang islami, maka tentu pertumbuhan ekonominya akan stabil dan rakyat menjadi sejahtera pastinya. Allahu akbar.