Di mana Kucari Kemerdekaan Sejati?




By Ummu Azka


76 tahun bangsa ini mencatatkan usia kemerdekaan. Bebas dari ancaman fisik penjajah masa silam tentu sebuah kenikmatan yang luar biasa. Dengannya kita bisa melakukan aktivitas dengan damai tanpa ancaman dan juga tekanan fisik. Sejak saat itu dari hari ke hari bangsa ini berbenah diri menyusun kepingan mimpi mewujudkannya dalam realita. 


Namun di tengah usia bangsa yang kian menua, kita dihadapkan pada kondisi yang mengiris hati. Ya, hingga kini negeri ini masih terlilit dengan sengkarut permasalahan yang belum juga bisa diurai. 


Permasalahan ekonomi yang kian pelik, kemiskinan meningkat, lapangan pekerjaan kian langka untuk pribumi. Sementara harga kebutuhan pokok terus melangit. Membuat masyarakat kian tercekik. 


Hutang luar negeri membumbung tinggi menjadi indikasi bahwa kemiskinan hakiki sedang terjadi di negeri gemah ripah loh jinawi. 


Di bidang hukum, pelanggaran demi pelanggaran terjadi. Tindak pidana korupsi yang menjangkiti pejabat negeri seolah menjadi tren masa kini. Dana bantuan sosial dikorupsi menteri sosial, sementara pengadaan alat alat kesehatan di mark up melibatkan kepala dinkesnya. Masa kurungan tahanan korupsi banyak yang dikebiri, kita ingat betapa asyiknya jaksa cantik Pinangki Malasari mendapat diskon besar terkait masa tahanan. 


Atau publik masih ingat saat terdakwa korupsi kelas kakap Djoko Tcondro hanya diganjar hukuman sebatas hitungan jari? 


Lembaga anti rasuah dikebiri wewenangnya dengan seperangkat aturan legal, sementara para pegawai yang giat memberantas korupsi dipecat secara tiba tiba. 


Dalam urusan sosial, tak dipungkiri masih banyak pekerjaan rumah yang tertunda. Pergaulan bebas para remaja. Kasus hamil di luar nikah yang terus meningkat tiap tahunnya. Prostitusi offline bahkan online terus merajalela, sementara penyebaran narkotika sudah menjalar ke mana mana. 

Gelandangan marak, pengemis pun tak kalah banyak. 


Semua permasalahan tersebut menemukan akumulasi saat pandemi. Penanganan yang lambat membuat pandemi berkepanjangan. Bagaikan air yang dibendung, permasalahan yang sekiranya sudah menumpuk tadi menyembul ke permukaan menambah suram wajah negeri. 


Demikian rumitnya permasalahan negeri, hingga muncul sebuah pertanyaan ; jika begini, di mana harus kucari kemerdekaan sejati?


Fakta di atas menjelaskan bahwa sejatinya bangsa ini belum sepenuhnya merdeka. Masih banyak korporasi asing yang bercokol di bumi pertiwi. Mereka menghisap kekayaan dalam negeri dengan hanya menyisakan sedikit untuk kaum pribumi. Masih banyak gempuran budaya yang menyerang generasi. Moral terkikis, rasa malu kian tipis. 


Demikianlah kondisi bangsa yang masih terjajah secara sistemik oleh kapitalisme sekuler. Sistem yang menafikan aturan dari pencipta dan bersandar pada kesenangan dunia,  saat ini mencengkram kita dengan kuat. Bahkan tanpa sadar kita pun seolah tak sanggup melawannya. 


Sebagai umat islam , kita memiliki sebuah prinsip besar. Melawan penjajah bagi umat islam bukan sekadar berlandaskan semangat belaka.


Terdapat landasan mulia dari syariat agar kita berlepas diri dari hukum jahiliyah. 


"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…”(QS Al Maidah ayat 49)


”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50)


Saatnya kita kembali pada syariat dan bersatu dalam memperjuangkan tegaknya syariat secara kaffah. Inilah wujud nyata kemerdekaan bagi seorang muslim.  Saat manusia tunduk hanya pada Sang Pencipta, saat semua jiwa bersandar hanya pada Sang Maha Kaya. Wallahu alam bishshowab.