Derita Rakyat Pemerintah Abai


Oleh Tri Sundari, A.KS

Pendidik Generasi dan Member AMK


Beberapa bulan belakangan ini, rakyat semakin dibuat bingung dan khawatir dalam menghadapi pandemi. Bingung karena kebijakan pemerintah yang selalu berubah-ubah, dan juga khawatir akan keselamatan diri dan keluarganya.

Akhir-akhir ini jumlah penderita Covid-19 semakin tinggi. Rakyat mulai panik. Bagi kalangan yang mempunyai uang, mereka akan memborong obat-obatan yang disinyalir bisa menyembuhkan penyakit Covid-19.

Akibatnya terjadi kelangkaan obat maupun oksigen di beberapa daerah. Rakyat sampai harus mengantri panjang untuk mendapatkan oksigen. Padahal oksigen tersebut sangat diperlukan bagi penderita Covid-19 yang seringkali mengalami kesulitan bernapas.

Dengan semakin banyaknya penderita Covid-19, maka rumah sakit pun mengalami kelebihan kapasitas. Akhirnya banyak pasien Covid-19 yang harus melakukan isolasi mandiri (isoman). Yang lebih memprihatinkan, ketika mereka melakukan isoman tanpa pengawasan dokter, sehingga banyak pasien isoman yang  meninggal dunia. 

Dilansir dari DetikNews (18/07/2021), Menurut Koordinator LaporCovid-19, Irma Hidayana, dalam konferensi pers virtual, pada Minggu (18/7/2021) menyatakan bahwa data mereka yang meninggal di rumah saat isoman, sejak Juni sampai hari ini terdapat setidaknya 675 orang. Beberapa di antaranya mengalami penolakan dari rumah sakit. 

Selain itu bulan ini saja, nakes di Indonesia yang meninggal, yang belum genap sebulan, ada 206. Irma mencatat, jika ditotalkan, ada 1.371 nakes yang meninggal selama 1,5 tahun pandemi mewabah di tanah air. 

Dilaporkam sampai hari Sabtu (17/7), pemerintah melaporkan tambahan kasus baru Corona sebanyak 51.952 kasus positif Covid-19. Sebanyak 27.903 pasien sembuh dari Covid-19 dan 1.092 kasus meninggal karena Covid-19.

Dilansir dari Detikcom (17/07/2021), Data yang ditampilkan lewat dashboard Quick Count lacak kematian isoman dan di luar RS. Per 14 Juli 2021 pukul 10.19 WIB, LaporCovid-19 menerima laporan 547 pasien Covid 19 yang meninggal dunia saat isoman.

Kelompok relawan LaporCovid-19 melaporkan data pasien Covid-19 yang meninggal di luar fasilitas kesehatan. Data tersebut menunjukkan ada 547 orang yang meninggal dunia saat melakukan isolasi mandiri (isoman).

Dalam data tersebut, Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus kematian pasien isoman tertinggi. Tercatat ada 209 orang yang meninggal ketika isoman di Jawa Barat. Kemudian 104 orang meninggal di Yogyakarta, 65 orang di Banten, 63 orang di Jawa Timur, 51 orang di DKI, dan 36 orang di Jawa Tengah. Namun data tersebut bukan hanya berasal dari pasien isoman meninggal selama PPKM darurat.

Terkait dengan banyaknya pasien isoman yang meninggal, Komisi IX DPR RI meminta akses telemedicine dan obat ke pasien isoman diperluas.

"Pemerintah harus memastikan bahwa setiap pasien Covid-19, baik yang dirawat di rumah sakit maupun yang melakukan isolasi mandiri, harus bisa mendapatkan akses konsultasi dokter dan obat-obatan yang dibutuhkan," kata Wakil Ketua Komisi IX Charles Honoris kepada wartawan, Rabu (14/7/2021). (DetikNews, 15/07/2021).

Fakta adanya pasien isoman meninggal yang semakin banyak, menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memfasilitasi dan menyiapkan rakyat menghadapi Covid-19. Kurangnya ruang perawatan, juga kurangnya ketersediaan oksigen dan fasilitas di RS membuat rakyat harus isoman. Mirisnya mereka tanpa dibekali pemahaman dan perangkat yang memadai untuk melakukan isoman.

Oksigen medis menjadi barang yang diburu masyarakat. Stok oksigen medis di sejumlah rumah sakit juga sempat terkendala lantaran banyaknya pasien Covid-19 yang masuk.

Rakyat mengharapkan pemerintah agar dapat meriayah mereka dengan baik. Akan tetapi, pada saat ini pemerintah seolah membiarkan rakyatnya. Alih-alih mengurusi rakyatnya, para pejabat justru lebih memikirkan kepentingannya saja, dengan menyiapkan hotel bintang 5 bagi pejabat yang melakukan isoman.

Semua permasalahan yang saat ini sedang dialami oleh bangsa ini, sejatinya hanya dapat diatasi oleh aturan Islam. Dalam sejarah Islam pernah mengalami wabah Tha'un. Pada saat itu pemerintah bersama dengan rakyat bekerja sama agar wabah segera berlalu.

Negara tidak membiarkan rakyatnya berjuang sendiri. Selain itu negara juga memenuhi kebutuhan seluruh rakyatnya, bukan hanya kebutuhan bagi golongan tertentu saja. Negara dan rakyat bekerjasama, karena negara tidak memusuhi rakyatnya. Negara meriayah rakyatnya dengan baik. Demikianlah Islam mengajarkan agar permasalahan dapat segera diatasi.

Wallahu a'lam bishawwab.