Adab Utang Piutang bagi yang Berutang

 




Umi Kulsum M.Ag.

Kontributor Media Lenteranyahati



الّلهُمَّ صَلّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىِ آلِهِ وَصَحْبِهِ

أَجْمَعْيْنَ


Segala puji bagi Allah semoga kita dijauhkan dari utang. Dalam Islam masalah utang piutang diatur dengan sangat rapih dari mulai adab orang yang berutang dan orang yang mengutangi.


Sebelum memberikan uang pinjaman kewajiban kita adalah niat. Niat memberikan utang adalah untuk memperoleh balasan dari Allah Swt. semata. Rasulullah saw. bersabda:


"Barangsiapa yang ingin doanya dikabulkan dan dilepaskan dari kesulitannya, maka hendaklah dia memberikan jalan keluar bagi orang yang sedang dilanda kesulitan (yang ingin meminjam)." (HR Ahmad)


Dalam kehidupan sosial sehari-hari, aktivitas utang piutang tidak dapat dihindarkan. Baik dalam konteks bisnis maupun sosial. Utang piutang muncul bisa disebabkan oleh transaksi pinjam-meminjam atau transaksi jual-beli secara kredit. 


Kita sering menemukan utang piutang menimbulkan konflik antara dua belah pihak yang bertransaksi, karena salah satu pihak yang abai atas kesepakatan di awal. Bahkan banyak yang awalnya akrab sebagai teman, keluarga, atau tetangga, setelah ada transaksi utang piutang menjadi bermusuhan. Lantas, bagaimana Islam mengatur terkait utang piutang?



Hukum Utang Piutang


Pada dasarnya, utang piutang hukumnya mubah alias boleh. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al-Baqarah: 280,


وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ - ٢٨٠


"Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."


Begitu pula dalam hadis Rasulullah saw.:


“Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat, dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya." (HR Muslim)


Bahkan memberikan utang memiliki pahala yang besar disisi Allah.


Rasulullah bersabda:


“Saya melihat pada waktu di-isra’-kan, pada pintu surga tertulis “Pahala sedekah sepuluh kali lipat dan pahala pemberian utang delapan belas kali lipat.” Lalu saya bertanya pada Jibril “Wahai Jibril, mengapa pahala pemberian utang lebih besar?” Ia menjawab, “Karena peminta-minta sesuatu meminta dari orang yang punya, sedangkan seseorang yang meminjam tidak akan meminjam kecuali ia dalam keadaan sangat membutuhkan."." (HR Ibnu Majah)



Adab Utang Piutang


Konflik yang muncul karena utang piutang banyak disebabkan oleh dilanggarnya adab-adab dalam utang piutang diabaikan. Islam membolehkan utang-piutang, namun memberikan rambu-rambu yang mesti diperhatikan untuk menghindari perselisihan di kemudian hari.


Berikut ini adalah adab utang piutang dalam Islam.


Adab bagi yang berutang:


1. Sebisa mungkin hindari berutang


Meski dibolehkan untuk berutang, namun lebih baik untuk dihindari. Rasulullah saw. bersabda:


“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR Ibnu Majah)


"Nabi saw. meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak utang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia."


Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya dia mengabarkan,


“Dulu Rasulullah saw. sering berdoa di salatnya:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ


“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berutang."


2. Perbanyak doa agar terhindar dari utang


Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa agar terhindar dari utang, berikut doanya:


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.


“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan utang dan penindasan orang.” (HR Bukhari)


3. Niatkan untuk membayar


Jika terpaksa harus berutang, maka wajib diniatkan untuk membayar. Rasulullah saw. bersabda :


“Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR Ibnu Majah)


Rasulullah saw. bersabda: 


“Barang siapa mengambil pinjaman harta orang lain dengan maksud untuk mengembalikannya maka Allah akan menunaikan untuknya, barang siapa yang meminjam dengan niatan tidak mengembalikannya, maka Allah akan memusnahkan harta tersebut." (HR Bukhari)


4. Catat daftar utang


Hal ini dilakukan untuk menghindari lupa dengan kewajiban utang. Allah memerintahkan untuk mencatat setiap transaksi ekonomi yang dilakukan secara tidak tunai, termasuk dalam urusan utang. Allah Swt. berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ


"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya." (QS Al-Baqarah 282)


5. Tidak menunda membayar utang


Jika sudah mendapatkan rezeki, maka segerakan membayar utang walau belum jatuh tempo. Membayar utang didahulukan dari kebutuhan lainnya. Menunda membayar utang adalah kezaliman. Rasulullah saw. bersabda:


“Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman .…” (HR Jama’ah)


6. Lebihkan saat membayar utang


Kelebihan dalam membayar utang dilarang jika dipersyaratkan di awal, namun jika tidak dipersyaratkan dan merupakan kerelaan dari peminjam, maka hukumnya boleh. Bahkan dianjurkan oleh Rasulullah saw.


Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata,


"Ada seorang laki-laki mengutangkan kepada Nabi saw. seekor unta dengan harga tertentu, maka orang itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Maka Rasulullah berkata, "Berikan kepadanya." Kemudian, para sahabat mencarikan unta dengan umur tersebut tetapi tidak menemukannya kecuali umur unta di atasnya (yang lebih tua). Maka beliau berkata, "Berikan itu kepadanya." Kemudian laki-laki itu berkata, "Engkau telah melunasi pada ku, semoga Allah melunasi padamu." Maka Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik ketika membayar utangnya"." (HR Mutafaq 'alaih)


7. Tepati janji


Hindarilah tabiat ingkar janji dalam berutang. Rasulullah saw. bersabda:


إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ


“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya." (HR Bukhari)


Demikianlah adab bagi yang berutang. Semoga kita diberikan kesehatan kekuatan keselamatan dan rezeki yang luas dan berkah.


ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ


“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu."