Solusi Praktis Saat Pandemi, Hilangkan Kepekaan dan Empati

 


Oleh Widiawati, S.Pd

Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Muslimah


Pemimpin ibarat payung yang senantiasa siap menjadi pelindung dari berbagai kondisi, seperti hujan dan panasnya terik matahari. Bahkan seorang penguasa harusnya mampu merasakan bagaimana kondisi rakyat yang di pimpinnya. Kesejahteraan haruslah di rasakan bersama. Namun apa jadinya jika yang ada saat ini justru berbanding terbalik.


Di kutip dari Tempo. Co,(14/07/2021). Menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Sandiaga Uno meminta para komedian tanah air berkolaborasi menghibur masyarakat untuk meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh di tengah meningkatnya angka kasus covid-19 permintaan itu disampaikan saat pertemuan Persatuan Seniman Komedi Indonesia (Paski). Dengan menghadirkan tayangan berkualitas serta menghibur secara tidak langsung dapat meningkatkan imun seseorang.


Jika melihat bagaimana pernyataan di atas tentu hal ini patut di kritisi, bagaimana mungkin hanya dengan menonton komedian dianggap mampu meningkatkan imunitas masyarakat. Sementara di satu sisi tidak di barengi dengan pola hidup sehat dengan makan makanan yang penuh nutrisi.


Minimnya kepekaan penguasa terhadap kondisi masyarakat mulai dari tekanan ekonomi, sosial saat pandemi dan pemberlakuan PPKM darurat. Seolah-olah rakyat bisa duduk tenang sambil menikmati komedian yang dianggap dapat meningkatkan imunitas, padahal nyatanya jangankan untuk menonton dan duduk manis di rumah, justru mereka harus berupaya bagaimana agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi di satu sisi mereka harus menaati aturan yang ada.


Selain itu, rakyat juga di pertontonkan dengan aturan yang tebang pilih sehingga semakin menambah kekecewaan. Disebabkan ada yang dengan mudahnya melenggang keluar negeri hanya sekedar untuk berbulan madu.


Ironi, inilah sederet fakta gambaran bagaimana para elite politik. Jangankan mengurangi beban masyarakat yang dilanda krisis ekonomi, pejabat justru memberikan tekanan dengan adanya PPKM yang mengurangi mobilitas masyarakat. Tidak sedikit dari kalangan penguasa yang sedang mempertontonkan gemerlapnya kehidupan mereka. Berbanding terbalik dengan kondisi rakyat yang kian terpuruk.


Alih-alih mencari formula tepat bagaimana menghentikan laju pandemi serta mengatasi kondisi ekonomi yang ambruk, pejabat justru sibuk menyodorkan solusi pragmatis yang tidak sampai pada akar masalah. Ditambah lagi dengan kehidupan serba kecukupan yang di pertontonkan, semakin menambah kepiluan masyarakat.


Beragam fakta menggambarkan mentalitas para penguasa di rezim kapitalis tidak berorientasi melayani pemenuhan kebutuhan rakyat. Justru mereka berpikir memperkaya diri sendiri. Tentu semua ini lahir dari penerapan sistem kapitalis sekuler yang asasnya kepentingan serta tolak ukurnya adalah materi semata.


Gambaran Penguasa dalam Islam


Penguasa dalam sistem Islam standar utamanya adalah memiliki ketakwaan yang tinggi serta empati, dan peka terhadap kondisi yang sedang di alami rakyatnya. Baik ketika kondisi stabil maupun kondisi krisis seperti yang terjadi saat ini.


Dengan ketakwaan mereka sadar bahwa kepemimpinan dan jabatan yang dipangku saat itu adalah sebuah amanah yang akan di pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Sehingga orientasi para penguasa pun berbeda, tidak untuk memperkaya diri selama memangku jabatan, begitu juga dengan jajarannya. Meski di dalam Islam tidak ada larangan seorang penguasa memiliki harta kekayaan berlimpah.  


Sebagaimana sabda Rasulullah saw. :


“Ingatlah, tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. Seorang Amir (imam) atas manusia adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. Seorang laki-laki(suami) adalah pemimpin atas anggota keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang perempuan (istri) adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Dan seorang hamba (budak) adalah pemimpin atas harta tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka ingatlah, bahwa tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.” (HR. Bukhari)


Sebagaimana kisah Khalifah Umar Bin Khattab selama menjabat sebagai penguasa, kehidupan yang di jalani sangatlah sederhana. Bahkan ketika seorang Yahudi hendak mengadukan kasus kepada sang Khalifah, dia membayangkan kehidupan penguasa tersebut pasti diliputi dengan kesenangan, istana megah dan fasilitas yang super lengkap karena melihat kondisi masyarakat pada saat itu cukup sejahtera. Namun nyatanya ketika Yahudi tersebut menemukan kediaman Khalifah sangatlah jauh dari angannya. Justru penguasa yang terkenal dengan kepemimpinannya sangatlah jauh dari apa yang di bayangkan. Hidup yang sangat sederhana bahkan rumahnya jauh berbeda dengan rumah-rumah rakyatnya saat itu.


Bahkan ketika khilafah dilanda bencana karena wabah, Khalifah Umar pun enggan untuk memakan roti dan minyak. Ketika ditanya, beliau menjawab bagaimana mungkin saya memakan makanan hingga kenyang sementara kondisi rakyatku kelaparan.


Tidak cukup hanya kisah Umar bin Khattab, Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika di angkat  menjadi penguasa dia menanggalkan semua kemewahan yang dia miliki, bahkan pakaian mewah yang sudah biasa melekat di tubuhnya di ganti dengan pakaian sederhana sama seperti rakyatnya kenakan. Bukan itu saja, bahkan Khalifah tersebut menolak untuk tinggal di istana dan segala fasilitas yang disiapkan oleh negara untuknya. 


Sungguh fakta ini sangatlah jauh jika dibandingkan dengan kondisi penguasa yang ada pada sistem kapitalis sekuler. Penguasa dan rakyat  ada kesenjangan yang cukup nampak, segala fasilitas lengkap sementara rakyat tidak sedikit yang tidak punya tempat tinggal, terlantar dan juga kelaparan jangankan hidup sejahtera untuk memenuhi makan saja, ada yang rela harus mengais sampah di jalan.


Sudah seharusnya kaum muslim menyadari bahwa tidak ada solusi lain kecuali kembali menerapkan sistem Islam kaffah, memenuhi seruan Allah Swt. Karena hanya dalam sistem Islam yang mampu melahirkan para pemimpin yang mampu merasakan penderitaan rakyat, bukan justru sebaliknya.


Wallahu a’alam