Dr. Hj. Septimar Prihatini, M.Pd

(Praktisi Pendidikan dan Penulis Buku Asesmen Ilahiyah)


Kehidupan ini ibarat roda, terus berputar dan berjalan mengikuti pusaran hingga berhenti pada satu tujuan. Tujuan hidup seorang muslim, hanyalah untuk beribadah, mengabdi pada Allah Swt. Dalam perjalanannya akan hadir banyak peristiwa, terkadang tanpa diduga. Baik menimpa jiwa ataupun raga.


Suka-duka, senang-susah, lapang-sempit bahkan sehat dan sakit akan datang silih berganti. Manusia tak kuasa menolaknya. Sebab semua berada dalam ranah kuasa Allah Swt. Siapapun yang hidup di dunia pernah merasakan dan mengalami perputaran roda kehidupan ini. Sakit dan musibah adalah atas izin Allah, sebab Allah ingin menakar seberapa besar iman seorang hambaNya. Sebagaimana Allah Swt berfirman :


"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan 'Innal lillahi wa innaa ilaihi roji'uun'. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah yang mendapat petunjuk".(TQS al-Baqarah : 155-157).


Akan selalu hadir hikmah-hikmah terpenting, disaat Allah menurunkan ujian, musibah hingga rasa sakit yang harus ditanggung badan. Allah memilihkan  diantara hambanya, siapa yang akan dinaikan level ketaqwaannya.


Menolak, marah hingga berkeluh kesah atas takdir yang telah Allah gariskan tak akan menyelesaikan masalah. Disamping sikap tak layak bagi seorang muslim. Allah punya cara menyapa hambaNya, kadang sentuhan halus untuk menguji kepekaan kita dan merasakan bahwa Allah ada. Hingga merasakan sakit yang nyata. 


Rahmat dan kasih sayang Allah, akan menjadikan rasa sakit dan musibah menjadi ringan disaat kita semakin mendekat padaNya. Tersebab banyak hikmah bisa disingkap dibalik semua peristiwa yang menimpa.


//Hikmah dibalik Sakit dan Musibah yang Menimpa//


Pertama, gugurnya dosa. Rasulullah Saw bersabda :


"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon gang menggugurkan daun-daunnya."(HR. Bukhari dan Muslim)


"Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya."(HR. Bukhari)


Gugurnya dosa bersamaan dengan datangnya sakit, menjadi pelipur bagi hamba beriman yang tak alpa dari kesalahan. 


Kedua, rasa sakit dan musibah sebagai pengingat kepada Allah "Dzikrullah", ingat bahwa Allah berkehendak menetapkan sesuatu, termasuk sakit yang sedang dirasa. Agar kita segera mengingatNya. Menyesali banyak kelalaian yang telah jauh dari mengingatNya. Mohon pertolongan akan kesembuhan hanya semata karenaNya. Pengampunan dengan terus mengucap kalimat thayyibah. Sembari muhasabah atas kesalahan diri.

Allah SWT telah berfirman: 

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus (para Rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS al-An’am: 42) 


Ketiga, sakit dan musibah menyadarkan kita hanya kepada Allah satu-satunya tempat bergantung. Menghadirkan hati untuk ikhlas, berserah diri dalam ibadah, doa, hidup dan matinya hanya semata kepada Allah Swt. Allah tempat bersandar dalam semua keadaan.


"Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu". (QS. Al Ikhlas [112] : 2).


Keempat, sakit dan musibah menjadi pengingat agar bersungguh-sungguh kembali menuju sehat. Melakukan ikhtiyar, berjuang sebagai jalan jihad. Disertai tawakal semata kepadaNya.


"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran[3]: 159). 


Kelima, sakit menjadi nasehat yang berharga. Betapa berharganya kesehatan, dengan sakit yang ditimpakan akan senantiasa mensyukuri nikmat sehat. Bisa saling memberi nasehat dan pengingat agar senantiasa berada dalam kebaikan. Sebab bagi hamba yang beriman,  jika Allah uji dengan sakit tetap baik dan sehat dalam nikmat pun kebaikan.

Sebagaimana firman Allah Swt :   

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran.”(QS. al-'Ashr : 2-3)


 Keenam, sakit dan musibah akan merekatkan ukhuwah. Berita sakit ataupun musibah akan sampai pada saudara, kerabat, teman dan sahabat. Maka doa-doapun akan mengalir dari lisan-lisan mereka, dan tersambungkannya ukhuwah dengan menjenguk, hadir memberikan sapaan dan senyuman sebagai kekuatan. Rasulullah Saw, bersabda :

"Barang siapa yang menjenguk orang sakit, maka dia akan masuk ke dalam rahmat Allah, sehingga jika dia duduk, dia akan ada di dalam rahmat tersebut." (HR.Bukhari)


Masih banyak  hikmah lainnya yang bisa dipetik dalam setiap ketetapan Allah. Walhasil, jika sakit bisa sebagai penebus dosa-dosa, tercabutnya sedikit rasa kenikmatan dikala sehat akan menambah ketaatan. Dengan sikap meningkatkan " tazkiyatun nafs" akan membuat jiwa lebih tenang. Membersihkan jiwa dengan memperbaikinya, mengikis kesombongan dalam diri agar tunduk dan patuh padaNya. 


Itulah sakit, ketetapan Allah dengan kadar tertentu dalam kemampuan masing-masing hambaNya. Menerima sakit sebagai tanda kebaikan dari sang penggenggam jiwa, Allah Swt. Walau berbagai rasa yang mendera. Tetap yakin Allah selalu bersama kita, sebab memilihkan yang terbaik agar tetap mengingatNya. Dikala diases, tercatat dalam lembar amal dan berbalas pahala.


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."(QS. al-Baqarah [2] : 216).


Wallahu a'lam bi shawab.[]

 
Top