Oleh Nazwa Hasna Humaira

Pelajar dan Aktivis Dakwah


Sekda Jabar Setiawa Wangsaatmaja meresmikan kawasan desa digital secara virtual di GOR Desa Cibiru Wetan. Kawasan yang terpilih menjadi desa digital, terdiri dari Cibiru Wetan, Cinunuk, dan Cileunyi Wetan. Peresmian ini dihadiri oleh Kadiskominfo Jabar Setiaji, Camat Cileunyi Solihin, Kades Cibiru Wetan Hadian Supriatna, Kades Cinunuk H. Dadang, Kades Cileunyi Wetan Hari Haryono, dan jajaran muspika Cileunyi lainnya. 


Ketiga kawasan tersebut menjadi desa digital dengan ditandainya pembangunan infrastruktur dan pemasangan jaringan yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat sekitar. Tujuan diadakannya rencana tersebut  adalah sebagai upaya mendongkrak sejumlah potensi desa di Jabar, supaya masyarakat melek dunia digital, dan merupakan upaya mewujudkan Jabar juara lahir batin. Jaringan digital telah dibangun dan towernya ditempatkan di lokasi tangga seribu desa Cibiru Wetan. (Dikutip dari Galamedianews.com, 2/6/21)


Program desa digital ini sepertinya sudah mendunia, bahkan telah mendapatkan apresiasi dari lembaga internasional. Dipercaya bahwa desa digital mampu membantu pembangunan kota cerdas, maka tak heran pemerintah bersama instansi terkait rela bekerjasama dengan pihak luar dalam mendirikan program tersebut.️


Semakin berkembangnya zaman, maka akan semakin canggih pula dalam hal teknologi. Termasuk penggunaan gadget dan akses internet. Namun apalah artinya jika kemajuan tak diimbangi keamanan maksimal bagi penggunanya, selain membawa pengaruh negatif secara personal juga berdampak pada masyarakat umum seperti masalah kesehatan dan sosial. Sebut saja bahaya radiasi, kecanduan, bahkan menggiring pada perilaku amoral dari aplikasi tak mendidik yang sangat berbahaya bagi generasi. Sementara kontrol negara atas bahaya ini dirasa kurang. 


Perencanaan desa digital bagi kawasan terpilih harusnya diprioritaskan pada tujuan yang bisa mewujudkan kemashalatan publik bukan keuntungan yang bersifat materi. Inilah kenyataan ketika kehidupan masyarakat ada dalam bayang kapitalisme. Kemajuan yang bisa mngantarkan pada ketinggian peradaban manusia,  ibarat peribahasa "jauh panggang dari api." 


Dalam sistem kapitalisme, pemimpin negara harus selalu mengikuti keinginan pemodal sebagai hubungan simbiosis mutualisme antara penguasa dan pengusaha. Apa pun program yang digulirkan harus bisa mendatangkan keuntungan bersifat materi sebagai tujuan hakiki.  


Berbeda halnya masa peradaban Islam dahulu. Pemimpin adalah pelayan rakyat. Ia berkewajiban mengurus rakyatnya sesuai arahan syara' termasuk penggunaan telnologi tepat guna demi menunjang kebutuhan umat dan syiar agama. Masa kepemimpinan ini telah melahirkan generasi cemerlang dengan karya gemilang.

  

Para ilmuwan Islam masa kekhilafahan menganggap teknologi  sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang sah. Mereka pun telah mengelompokkan ilmu-ilmu yang bersifat teknologis sebagai berikut: ilmu optik, ilmu pusat gravitasi, ilmu jembatan, ilmu mesin kerek, dll.


Sejumlah kitab dan risalah yang ditulis para ilmuwan muslim telah berhasil mengklasifikasi ilmu-ilmu terapan dan teknologis, seperti;  Mafatih al-Ulum, karya al-Khuwarizmi; Ihsa al-Ulum  (Penghitungan Ilmu-ilmu) karya al-Farabi, Kitab al-Najat, (Buku Penyelamatan) karya Ibnu Sina dan buku-buku lainnya.


Teknologi-teknologi non-matematis seperti kimia, produksi industri dan pertanian juga telah dianggap sebagai sains. Hal ini terdapat pada ilmu obat-obatan dengan buku farmasinya telah memuat informasi yang amat bermanfaat tentang sifat-sifat dan cara pembuatan berbagai produk  organik dan anorganik.


Itu dulu saat teknologi industri belum secanggih sekarang dengan alat masih sederhana, tapi mampu mengukir sejarah dengan tinta emas. Luar biasa bukan?

 

Maka, pembangunan desa digital era pemerintahan Islam akan berbeda jauh dengan zaman kapitalisme. Pembangunan ditujukan untuk mewujudkan generasi maju secara aqliyah dan nafsiyah di atas landasan ruh keimanan. Negara akan  memfasilitasi, mengontrol dan mengarahkan masyarakat untuk menggunakan teknologi secara proporsional dalam rambu syariat. Jauh dari motif dunia apalagi berwatak kapitalis.


Dengan demikian, hanya sistem Islamlah segala aspek kehidupan umat berjalan dengan teratur, tenang dan tentram tanpa kontrol asing dengan ide sekulernya.  Ibadah dan berkarya menjadi hal yang mengagumkan yang tercermin dalam seluruh pribadi muslim. 


Wallahu a'lam bi ash-Shawwab.

 
Top