PPKM Memicu Rakyat Mati Kelaparan?


Oleh Ir. H. Izzah Istiqamah

(Praktisi Pendidikan) 


"Akulah seburuk-buruknya Pemimpin bila aku kenyang sementara Rakyatku Kelaparan." (Umar bin Khattab).

Kondisi pandemi sudah tidak terkendali. Faktanya rakyat yang sakit pun beraktivitas seperti biasa. 

Pemerintah disebut akan memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang sedianya selesai tanggal 20 Juli mendatang. Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia serta Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy di sela-sela kunjungannya ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (16/7 detiknews.com). 

Bagaimana mungkin rakyat bisa menjalankan PPKM? 

Di saat pandemi, usaha pailit sementara keluarga di rumah harus makan makanan bergizi untuk meningkatkan imun tubuh supaya badan sehat dan tidak mudah tertular virus Covid-19. 

Belum lagi harus membayar biaya sekolah, biaya kesehatan, biaya sewa rumah, listrik dan sebagainya. 

Sampai kapan masalah ini akan selesai jika berbagai kebijakan negara tidak berpihak kepada kepentingan rakyatnya. 

Apa lalu fungsi negara selama ini? 

Tidak muluk-muluk keinginan rakyat. Rakyat hanya ingin hidup normal, makan bergizi dan sehat untuk beribadah bersama keluarganya. 

Rakyat tidak butuh perubahan istilah maupun perpanjangan, rakyat butuh ada kebijakan tegas untuk lockdown dan ada jaminan pemenuhan kebutuhan dasar untuk hidup. 

Beginilah wajah buruk negara yang menganut sistem sekuler kapitalis demokrasi, selalu mengabaikan masalah penting rakyatnya, seakan masa bodoh rakyatnya mau hidup sehat atau sakit bahkan mati kelaparan. 

Namun berbeda untuk negara yang diatur dengan sistem Islam di dalam mengurus kebutuhan rakyatnya. 

Di dalam sistem Islam, biaya sekolah gratis, biaya kesehatan gratis, negara wajib memberikan pekerjaan kepada kaum laki-laki sebagai tulang punggung keluarga dengan gaji yang pantas. 

Islam selalu memiliki keunggulan sebagai agama dan ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memiliki solusi tuntas atas berbagai persoalan manusia. 

Negara akan memfokuskan seluruh perhatian termasuk di dalamnya kebutuhan dana yang dibutuhkan akan menjadi prioritas penting yang diutamakan. Keselamatan jiwa seorang manusia di hadapan Allah Swt. lebih berharga dibandingkan bumi langit dan seisinya. Dan penguasa negara dengan sistem Islam akan menjalankan dengan amanah pemerintahan sebagaimana perintah Allah dan Rasul-Nya. 

Di saat pandemi, pemerintahan sistem Islam akan bertindak sigap, tidak lamban seperti kondisi saat ini. Wilayah yang terdampak wabah akan secepatnya dilockdown dan segala kepentingan makanan bergizi seluruh rakyatnya, kebutuhan pokok, keperluan pengobatan dan perawatan serta jaminan kebutuhan hidup saat proses pemulihan kesehatan pasien akan dijamin negara. 

Sistem Islam akan melakukan karantina untuk mengatasi wabah penyakit yang menular.

Sejarah Islam mencatat, bahwasanya wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah. Wabah itu adalah kusta yang menular serta mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah, salah satu upaya yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dengan menerapkan karantina atau isolasi kepada penderita. Saat itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak berdekatan serta melihat para penderita kusta. 

Metode karantina ini diterapkan pada zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah ini dijalankan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah  terjangkit wabah. 

Begitulah mulianya sistem Islam, umat yang sakit di lockdown total sampai sembuh dan dijamin seluruh kebutuhan hidupnya oleh negara. Pandemi sudah berjalan sekian lama, namun belum ada solusi tuntasnya. Saatnya evaluasi atas negeri ini, dengan kembali kepada hukum illahi rabbi. Aturan buatan Allah yang akan memuliakan manusia di akhirat dan di bumi. 

Hanya penerapan syariah dalam bingkai khilafah insyaallah solusi tuntas atas pandemi di negeri ini. 

Wallahu a'lam bishshawab.