PPKM Darurat: Selamatkan Umat Tidak Sesuai Syariat

 


Oleh: Yeni Purnamasari, S.T

(Muslimah Peduli Generasi)


Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu diantara keistimewaan bagi umat muslim untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah Haji dan berqurban. Namun kegembiraan maupun kebahagiaan menjelang Idul Adha 1442H kurang dirasakan umat muslim tahun ini, karena bertepatan dengan kebijakan pemerintah memberlakukan PPKM darurat untuk menekan laju penyebaran covid-19, yang merupakan bagian dari ikhtiar menyelamatkan umat.


Kebijakan yang dimaksud adalah menutup sarana ibadah umum seperti masjid. Tidak hanya itu pemerintah juga menutup sementara pusat perbelanjaan (Mall), lokasi kegiatan seni dan budaya, sarana olahraga, serta tempat publik yang memiliki potensi menyebabkan kerumunan.


Sedangkan Menko Kemaritiman dan Investasi mengizinkan kegiatan proyek kontruksi tetap berjalan 100 persen dengan menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat. Maka pemerintah akan memberikan beberapa sanksi jika masyarakat tak patuh dalam peraturan PPKM Darurat ini. (Pikiranrakyat-Pangandaran.com 1/7/2021). 


Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas juga mengungkapkan perihal akan menyiapkan peraturan larangan melakukan sholat Idul Adha di masjid maupun lapangan terbuka, dan membatasi aktivitas penyembelihan hewan qurban di tempat terbuka, serta tidak memberangkatkan jamaah haji tahun ini.


Keputusan tersebut disampaikan Menag setelah menggelar rapat bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Polri, Kementerian Ketenagakerjaan, Dewan Masjid Indonesia (DMI), serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). (Liputan6.com 2/7/2021).


Pernyataan tersebut menimbulkan keraguan dan ketidakpercayaan masyarakat akibat ketidakadilan dalam kebijakan ini jauh dari kepentingan rakyat. Apakah ini bentuk upaya melemahkan syiar-syiar Islam tersampaikan oleh umat? Sehingga semakin menjauhkan umat Islam dari ajarannya.


Pada realitasnya, apapun istilah kebijakan yang digunakan pemerintah tidak juga efektif dalam menuntaskan kasus covid-19 Karena hanya berputar pada kepentingan ekonomi saja. Pemerintah seolah tarik ulur dan kurang serius menangani kasus pandemi. Cukup dengan mengkampanyekan 3M yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. 


Dua tahun belakangan ini kondisi Indonesia mengkhawatirkan, pandemi belum juga berakhir. Sungguh disayangkan karena solusi yang ditawarkan masih berdasarkan rujukan manusia, makin menambah masalah baru. Akibat mempertahankan penerapan sistem kapitalisme sebagai paradigma dalam membuat kebijakan. Buktinya dalam menangani pandemi pun selalu menggunakan metode yang lebih mementingkan aspek ekonomi dibanding kesehatan, tak peduli buruk dan merusak asalkan menguntungkan. Namun perihal menjaga dan memelihara nyawa manusia tidak diprioritaskan.


Seharusnya umat mulai menyadari bahwa lambannya penanganan virus corona bukan semata-mata kesalahan teknis, namun kesalahan pada sistem. Sistem kapitalisme sekuler yang diterakan saat ini tidak mengutamakan nyawa manusia maka tidak layak untuk dipertahankan. Harus ada upaya mencari alternatif penggantinya yaitu sistem Islam. Sistem yang berasal dari Pencipta manusia. Sehingga, predikat Rahmatan lil'alamin akan dirasakan oleh seluruh manusia.


Islam adalah agama paripurna yang mampu menyelesaikan problematika umat. Termasuk masalah pandemi bahkan di masa Rasulullah SAW Islam dapat mengatasinya dengan cepat dan tepat. Salah satu upaya yang efektif untuk menekan laju wabah adalah dengan penguncian (lockdown). Artinya sama dengan isolasi.

Dalam sebuah hadist, Rasullah saw bersabda yang artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)


Meskipun ekonomi akan menurun namun wilayah yang tidak terjangkit wabah harus tetap produktif dan tetap menjalankan aktifitas ekonomi secara normal. Jangan ada sekat antar wilayah yang membatasi bantuan untuk menyuplai kebutuhan masyarakat yang terisolasi maupun berupaya menanggulangi wabah.


Dengan begitu perekonomian secara keseluruhan tidak merasakan dampaknya. 

Negara mendapat pemasukan dari semua pendapatan SDA yang melimpah dikelola negara demi kemakmuran rakyat semata.

Allah berfirman yang artinya:

"Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan agar kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur".

(Q.S An-Nahl : 14)


Tindakan isolasi atau karantina wilayah yang terkena wabah bertujuan untuk memutus rantai penyebaran virus agar tidak meluas hingga ke wilayah lain. Namun pemerintah terus memilih opsi lain yang tak sesuai syariat sehingga kegagalan nampak di depan mata.


Inilah alasan mengapa Kapitalisme harus ditumbangkan karena selalu tak fokus mengurusi umat. Maka perlu peran negara dalam menerapkan syariat Islam dan bertanggung jawab untuk melindungi nyawa serta memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa perawatan. Tentunya tanpa bergantung pada pajak maupun hutang luar negeri. 


Masyarakat dituntut untuk terus berdoa kepada Allah Swt. dan berikhtiar agar pandemi ini cepat berakhir, bukan malah menjauhkan syariat dari umat.


Oleh karenanya, mari kembali kepada syariat-Nya secara kaffah, agar dampak pandemi tidak semakin parah. Dunia pun bisa kembali normal, itulah yang saat ini dirindukan umat.

Wallahu a'lam bishawab