PPKM Darurat, Kebijakan Tambal Sulam Atasi Pandemi



Oleh Sri Husna Dewi, S.Psi

(Aktivis Muslimah) 


Sudah hampir dua tahun lamanya dunia ini di beri ujian oleh Allah Swt berupa hadirnya makhluk kecil yaitu virus Corona.  Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar,  begitu banyak korban berjatuhan dan tidak sedikit biaya dikeluarkan serta kebijakan yang di buat oleh pemerintah. Khususnya di Indonesia agar mampu menghentikan serangan virus Corona tersebut. Namun sayangnya hingga saat ini pemerintah belum menemukan solusi yang solutif untuk menghentikannya. 


Virus Corona yang semakin memuncak, bak bola salju yang menggelinding, memakan korban jiwa yang begitu banyak baik yang meninggal maupun yang tidak. Di ketahui hingga saat ini sejak Kamis ( 1/7/2021) mengalami peningkatan dari dua pekan yang lalu yaitu sebanyak 24.836 kasus dan angka kematian juga mengalami peningkatan sebanyak 250%. 


Melihat kondisi yang semakin parah dan terus meningkat pemerintah mengeluarkan kebijakan baru dengan maksud agar bisa menekan lonjakan kasus virus Corona, yaitu kebijakan berupa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat ( PPKM). Pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yaitu PPKM Darurat, setelah sebelumnya melakukan PPKM skala mikro beserta kebijakan-kebijakan lainnya. 


Dilansir dari tempo.com,( 2/7/21), bahwa aktivitas yang di batasi oleh pemerintah dalam penerapan PPKM Darurat adalah 100 persen WFH (work from home) non esensial,  50 persen WFO ( work from office) untuk sektor esensial dan 100 persen untuk sektor kritikal. Kegiatan belajar dilakukan full daring, serta toko, swalayan, dan pasar kegiatannya dibatasi hanya sampai pukul 20.00 WIB, dengan syarat diperbolehkan hanya 50 persen dari biasanya.


PPKM Darurat, Solusi Kurang solutif


Sejak awal datangnya virus Corona, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai macam peraturan atau kebijakan guna memutus rantai penyebaran Covid-19. Mulai dari pemberlakuan PSBB, mengimbau agar selalu menjaga protokol kesehatan,  vaksin, PPKM mikro hingga pada PPKM Darurat. Dari sekian banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah namun bisa dikatakan bahwa belum mampu memutus rantai penyebaran Covid-19 secara total, justru semakin hari semakin mengganas. 


Sebelumnya, banyak pihak yang menyarankan pemerintah agar mengambil kebijakan lockdown sebagimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah saw. Diketahui bahwa cara itu dinilai efektif untuk mencegah menularnya virus Corona, karena kegiatan masyarakat benar-benar di batasi dan kebutuhan biaya pokok juga akan di penuhi oleh pemerintah. Namun dengan begitu banyak pertimbangan pemerintah mengambil solusi lain untuk menghadapi virus Corona, yaitu berupa PSBB dan lainnya. 


PPKM Darurat akan di berlakukan di Pulau Jawa dan Bali sejjak tanggal 3 hingga 20 Juli 2021. Hal ini di sebabkan terdapat 48  kabupaten dan 6 provinsi yang rentan terhadap virus Corona. Oleh sebab itu sudah saatnya pemerintah kembali memutuskan untuk menerapkan PPKM Darurat. 


Pada dasarnya PPKM Darurat tidaklah jauh berbeda dengan PSBB yang pernah di berlakukan di negeri ini, hanya saja ada sedikit perbedaan istilah dan bentuk pelarangan yang di lakukan, selebihnya hampir sama tidak ada bedanya. PPKM dan PSBB pada hakikatnya sama sama melarang dan melakukan pembatasan kegiatan pada masyarakat, seperti kerumunan lebih dari yang telah ditentukan, di larang berkunjung ke tempat tempat keramaian dan lain sebagainya. 


Telah tampak secara nyata bahwa pemberlakuan PSBB telah gagal mengatasi Covid-19, tetapi saat ini pemerintah kembali membuat kebijakan yang kurang lebih hampir sama yang juga tidak akan memberikan solusi yang solutif. Kebijakan ini seolah seperti tambal sulam. Bak  kain yang sudah rapuh dan mudah sobek ketika berlubang hanya di tambal saja dan memilih untuk tidak mengganti kain tersebut. Padahal yang sebenarnya butuh di ganti atau di perbaiki adalah kainnya. Begitu juga dengan kondisi yang terjadi saat ini dalam mengatasi Covid-19, berulang kali berbagai kebijakan dilakukan namun tidak ada bedanya hanya  istilahnya saja yang berbeda. 


*slam Solusi Solutif


Islam adalah agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Tidak ada satupun yang tidak di atur olehnya mulai dari bangun tidur hingga bangun negara, mulai dari hal kecil sampai yang besar semuanya telah di atur dengan sebaik-baiknya  oleh Islam. Begitu juga halnya dalam menangani wabah, Islam punya solusi yang sangat efektif dan telah teruji keberhasilannya. Salah satu solusi yang di tawarkan oleh Islam saat pandemi adalah dengan melakukan lockdowan total, yaitu penguncian wilayah. Masyarakat yang terpapar wabah tidak di perkenankan keluar dari wilayahnya, mereka benar-benar di berlakukan karantina. Tentunya tercukupi dengan berbagai kebutuhan pokok masyarakat, sehingga dengan demikian umat akan patuh dan taat terhadap kebijakan tersebut. Mengapa bisa patuh dan taat ? Karena semua kebutuhan pokok hidupnya terpenuhi selama lockdown berlangsung. 

Islam juga membiarkan rakyat yang sehat atau tidak terkena wabah untuk tetap beraktivitas seperti biasanya, dengan demikian roda perekonomian dan kehidupan akan terus berjalan sehingga akan sangat meminimalisir terjadinya krisis perekonomian. 


Setiap aturan yang dibuat semuanya untuk kebaikan umat. Keselamatan umat yang menjadi tujuan utama bukan kepentingan pribadi, sehingga tidak akan terjadi yang namanya permainan politik didalam setiap permasalahan. Dengan demikian solusi yang di tawarkan Islam adalah solusi yang solutif yang benar benar memecahkan berbagai problematika kehidupan umat manusia. 


Wallahu a'lam bishawwab