Oleh Eti Setyawati

(Muslimah Pemerhati Umat)


Sikap pro dan kontra pun bergulir di masyarakat, merespons berita viral seorang publik figur yang menemani anak-anaknya menonton film dewasa. Dalihnya untuk mendidik dan memberikan 

edukasi seks kepada anak-anaknya.


Seorang psikolog anak dan remaja, Agstried Piether angkat bicara terhadap tindakan tersebut. Tak perlu panik apalagi memarahi manakala memergoki anak nonton film porno karena anak akan tetap menonton diam-diam. Lebih baik menanyakan alasan dan mengajaknyan berdiskusi. Orang tua bisa memberikan pendidikan seks yang faktual berdasarkan ilmu pengetahuan bukan berdasar film porno. Biasakan anak mencari pengetahuan dari sumber yang benar dan terpercaya. Dan pendidikan seks pada anak harus disesuaikan dengan usianya. (pikiranrakyat.com, 27/06/2021)


Lain halnya dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang bereaksi tegas bahwasanya video porno dinilai memberi dampak negatif dan membahayakan anak. 

Pornografi bagi anak dan remaja jelas merusak perkembangan otak. Menjadi penyebab perilaku menyimpang terutama mereka yang kurang mendapatkan perhatian atau pengarahan dari orangtua maupun guru. Dan tidak adanya komunikasi menyebabkan aktifitas anak tidak terkontrol.


Data Komisi Nasional Perlindungan Anak mengungkapkan dari 4.500 remaja di 12 kota di Indonesia, 97 persennya pernah melihat pornografi. Di kalangan siswa sendiri dari 2.818 siswa, 60 persennya pernah melihat tayangan yang tidak senonoh itu. (republika.co.id, 11/1012016)


Melihat fenomena di atas memperlihatkan betapa dunia anak-anak dan remaja demikian bebas/liberal. Tak dimungkiri, kehadiran teknologi yang serba digital dewasa ini, banyak menjebak kaum remaja mengikuti perubahan ini. Pola perilaku budaya luar sering dianggap sebagai simbol kemajuan dan mendapat dukungan berarti di kalangan anak-anak dan remaja.

Namun sejauh mana nilai positif dari kemajuan tersebut mampu dipilih dan dipilah secara cermat dan bertanggung jawab.


Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menyarankan setiap negara di dunia termasuk Indonesia, untuk menerapkan pendidikan seksual yang komprehensif. Rekomendasi ini berdasar kajian terbaru dari Global Education Monitoring (GEM) Report. (cnn Indonesia, 14/06/2019)


Dalam kajian tersebut, menurut GEM Report 15 juta anak perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun setiap tahunnya secara global. Sekitar 16 juta anak usia15-19 tahun dan satu juta anak usia 15 tahun melahirkan setiap tahunnya di dunia.


Pendidikan seks adalah bagian dari propaganda global yang dirancang sedemikian rupa dan dikampanyekan untuk diadopsi sebagai solusi.

Penyokong program global ini beranggapan pendidikan seks harus diajarkan sejak usia dini. Dengan mengenalkan fungsi reproduksi, berbagai aktifitas seksual hingga penggunaan alat kontrasepsi. Diharapkan remaja yang sudah mendapat pembelajaran ini mampu memilih jenis pergaulan dan bertanggung jawab atas hasil perbuatannya.


Permasalahannya mampukah program ini mencegah remaja dan anak-anak terhindar dari pergaulan bebas, menurunkan kasus hamil yang tidak diinginkan, prostitusi atau penyakit menular seksual?

Alih-alih membuat kalangan remaja berhati-hati akan bahaya seks bebas justru makin percaya diri mempraktekkan seks yang aman. Karena sejatinya belum saatnya mereka disuguhi beragam pengetahuan dalam bingkai pendidikan seks. Mereka lebih butuh sarana dan prasarana bermain untuk berekspresi ketimbang dicekoki informasi seksualitas.


Gambaran masyarakat sekuler liberal terlihat jelas. Nilai kebebasan digaung-gaungkan hingga tak lagi tabu bicara seks di mana saja. Bahkan kebebasan seks dianggap sebagai bagian dari hak-hak asasi manusia.


Siapa yang meraih untung dari kebebasan ini kalau bukan kaum kapitalis. Melalui media mampu menggempur tatanan kehidupan di kalangan remaja. Selain keuntungan materi dari banyaknya konten-konten yang dibuatnya, sekaligus menggerus keimanan para remaja muslim hingga menabrak norma-norma agama.


 Bertolak belakang dengan ajaran Islam yang menyuruh menundukkan pandangan dan menjauhi zina. Seperti disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Isra [17]: 32,

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Zina itu sungguh suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."


Sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh, Islam punya cara tersendiri mengajarkan pada manusia menyalurkan naluri seksual yang indah dalam sebuah hubungan pernikahan, membangun silaturahmi dan saling menghormati terhadap lawan jenis. Cara-cara ini bukan saja menghindarkan dari kehinaan tetapi juga meniscayakan hadirnya peradaban yang mulia.


Hal ini baru bisa terwujud bila negara melakukan tanggung jawab yang diembannya dengan mengambil Islam sebagai sumber hukum dan mengimplementasikan di seluruh aspek kehidupan.


Wallaahu a'lam bishshawaab

 
Top