Pemimpian Bijak, Rakyat Selamat



Desi Wulan Sari, M.,Si.

(Pegiat Literasi dan Pengamat Sosial) 


Kabar duka dari kerabat dan handai tolan terus berdatangan. Orang-orang dekat yang  dikenal satu persatu pergi meninggalkan kita. Bukan mempertanyakan takdir tetapi sebab kematian akibat Covid-19 saat ini terus menghantui rakyat yang tengah menghadapi wabah yang tak kunjung usai.


Bahkan Koordinator Analisis Twitter LaporCovid-19, Yerikho Setya Adi mengatakan berdasarkan laporan langsung dari warga, data diketahui sedikitnya 265 pasien covid meninggal dunia saat melakukan (isoman) isolasi mandiri di rumah (republika.co.id, 3/6/2021). data ini sempat membuat masyarakat terkejut, serta ada rasa kekhawatiran dengan kondisi ini. 


Ada indikasi peristiwa ini menunjukkan negara sampai pada krisis anggaran kesehatan. Padahal anggaran kesehatan saat ini menjadi prioritas dalam menangani wabah yang semakin menghitam zonanya. Data Worldometers per tanggal 25 Juni 2021, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia tertinggi se-Asia Tenggara (ASEAN) di Indonesia sebanyak 2.053.995 (kompas.com, 25/6/2021).


Posisi ini dibarengi dengan tingginya kermatian tanpa perawatan medis. Isoman yang dilakukan masyarakat dengan berbagai alasan, salah satunya kekhawatiran untuk mendatangi rumah sakit, ditolak di rumah sakit karena penuh, atau karena pasien bukan pada kondisi kritis, sehingga adanya “keterpaksaan” masyarakat untuk mengikuti kebijakan yang ada saat ini.


Sesungguhnya, masalah kesehatan merupakan tanggung jawab penuh negara dalam menjamin keselamatan rakyatnya. Bentuk tanggung jawabnya dengan membuka rumah sakit seluas-luasnya, meminimalisir beban biaya pengobatan tanpa syarat apapun. Krisis kesehatan ini sudah berada di luar wilayah masyarakat secara individu, karena masalah kesehatan ini sudah berada pada skala wabah.


Sistem kapitalis hari ini terbukti tidak mampu mengatasi persoalan global seperti ini degan tuntas. Karena basis penyelesaian masalah yang dihadapi selalu melihat pada nilai material semata. Karena itulah dasar kehidupan sistem ini. Maka tidak akan ada jaminan berakhirnya pandemi karena kebijakan yang dibuat selalu akan mengarah pada kepentingan elit kapitalis global, bukan pada kepentingan dan keselamatan rakyat.


Jika saja ada sistem yang mampu membawa kemaslahatan, tentu akan banyak kebijakan yang muncul membawa solusi, khususnya masalah kesehatan. Wabah penyakit yang berada diluar kendali individu akan segera tertangani. Tenaga kesehatan beserta fasilitas keselamatannya siap siaga untuk melayani rakyat, tanpa memikirkan anggaran kesehatan negara. Tak akan ada lagi kata anggaran kesehatan “menipis” bahkan “tidak tersedia” akibat peralihan anggaran pemulihan yang lainnya. 


Sistem dengan jaminan kesehatan seperti itu pernah hadir dalam kegemilangan Islam Kaffah. Sistem Islam senantiasa berpedoman pada syariat dalam setiap mengatasi masalah umat. Para khalifah telah menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjaga kestabilan perekonimian rakyat dan negara. Terlebih pada pelayanan kesehatan yang tidak pernah terhenti hingga tuntas pelayanannya. Di masa Rasulullah SAW, para Khulafur Rasyidin dan para khalifah yang pernah ada, terbukti berhasil dalam penanganan kesehatan wabah Tho’un dan wabah penyakit lainnya dengan menggunakan sistem Islam ini. 


Maka sudah selayaknya, jika pemimpin memikirkan keselamatan rakyat, tentu tidak ada alasan untuk menolak mengadopsi sistem Islam sebagai solusi tuntas umat di seluruh dunia. Karena pemimpin yang baik adalah yang sayang kepada keselamatan rakyat. Dengan memberikan layanan terbaik khususnya kesehatan negeri ini. Wallahu a’lam bishawab.[]