Oleh  Nibrazin Nabila

Praktisi Pendidikan


Kondisi capaian pendidikan di Indonesia sekarang khususnya di Kabupaten Bandung masih sangat mengkhawatirkan. Masih banyak anak Indonesia yang tidak bisa bersekolah atau tidak selesai minimal sampai jenjang SMA yakni 9 tahun. 


Bupati Bandung HM Dadang Supriatna menyatakan, rata-rata lama sekolah di Kabupaten Bandung baru mencapai 8,7 tahun atau belum sampai kepada pendidikan 9 tahun. Untuk itu, bupati mendorong agar pihak swasta ikut berperan dalam menaikkan kuantitas maupun kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung. Ia pun berharap agar masyarakat bisa bersekolah minimal hingga naik ke SMP/MTs bahkan SMA/SMK/MA, tanpa memperhatikan negeri ataupun swasta. Untuk itu pihaknya akan  membuka 16 SMPN baru untuk mendongkrak rata-rata lama sekolah. Karena ia berpandangan bahwa  umat Islam harus memiliki cita-cita besar meski dalam keterbatasan. (Jurnal Soreang, 07/07/21)


Melihat kebijakan pemerintah diatas, menambah SMPN dipandang solusi untuk mengentaskan masalah ini dan lagi-lagi meminta pihak swasta untuk mensupport program ini. Hanya saja, amat disayangkan jika hanya menambah kuantitas tanpa memperhatikan kualitas atau outputnya. Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih memprihatinkan. Utamanya, kurikulum yang masih menilai hasil sukses pendidikan hanya dilihat dari angka. Meski sudah merdeka dari penjajahan fisik selama 75 tahun, nyatanya pendidikan kita belum merdeka. Padahal, dunia sedang bergerak cepat di era revolusi industri 4.0, sementara SDM kita belum memadai untuk menghadapinya, apalagi menjadi pemimpinnya.

Berharap SDM unggul di sistem saat ini ibarat jauh panggang dari api.


 Sekularisme yang menjadi asas sistem pendidikan telah menyebabkan rusaknya kepribadian generasi. Sistem sekuler ini tidak memiliki basis ideologi yang sahih, yaitu akidah Islam. Padahal, akidah merupakan perkara mendasar yang akan menentukan tujuan hidup para siswa. Pemahaman terhadap tujuan hidup ini akan menjadikan mereka anak-anak yang memiliki visi besar serta kesungguhan berlipat untuk mewujudkannya. Tanpa basis akidah, pendidikan hanya menjadi proses transfer materi pelajaran, bukan proses mendidik generasi. Maka, nihil hasilnya jika solusi pengentasan masalah pendidikan ini hanya di sisi kuantitas saja. 


Sistem pendidikan yang berdasar pada sekularisme ini tidak hanya mencetak SDM bermoral buruk, tapi juga berpengetahuan rendah, minim ahlak dan kecerdasan. Sungguh bencana pendidikan yang bertumpuk-tumpuk. Penguasa sibuk melakukan kapitalisasi dunia pendidikan hingga menjadi barang mahal dan hanya bisa diakses orang-orang tertentu saja. 


Jika dilihat, faktor utama anak-anak minim minat sekolah bukan karena tidak punya cita-cita tinggi, bisa juga karena faktor biaya atau  terpaksa harus putus sekolah karena membantu orangtua mencari nafkah. Demikianlah, sistem kapitalisme sekuler telah gagal mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Meski menteri telah berganti-ganti, namun tak kunjung ada solusi, karena sistemnya tetap sekuler dan kapitalistik.


Dalam sistem Islam, pendidikan adalah kebutuhan yang wajib dipenuhi negara. Negara Khilafah akan mempersiapkan dengan baik agar hasil pendidikan berjalan sesuai harapan.

Negara akan menyiapkan infrastruktur sekolah yang memadai secara merata dengan menyediakan tenaga pengajar profesional, menetapkan gaji yang layak bagi para guru,  menyiapkan perangkat kurikulum berbasis akidah Islam, memberi pelayanan pendidikan dengan akses yang mudah bahkan gratis bagi seluruh warga negara.

 Perhatian Islam pada sistem pendidikan sangat tinggi. 


Pendidikan dalam Islam selain untuk menguasai ilmu kehidupan, juga bertujuan untuk mewujudkan pemahaman Islam dan membentuk kepribadian Islam (syaksiyah Islamiyah).  Negara wajib mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya terkait kurikulum, tetapi juga upaya agar pendidikan diperoleh rakyat secara mudah. Negara bertanggung jawab mewujudkan kemajuan sarana pendidikan untuk mencerdaskan umat.


Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Khilafah, negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas yang disediakan negara. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan dan merupakan beban negara yang diambil dari kas Baitul mal.

Hal ini bisa kita telusuri dari fakta sejarah peradaban Islam memimpin dunia selama 13 abad. Karena Khilafah memahami bahwa membangun manusia unggul harus dimulai dengan sistem pendidikan yang berkualitas. Rasulullah saw. bersabda,


“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)


Dengan upaya pencapaian yang demikian serius, maka sistem Islam layak menjadi pusat ilmu pengetahuan dan mercusuar peradaban dunia. Inilah profil pendidikan yang seharusnya kita wujudkan. 


Wallahu a’lam bis shawwab

 
Top