Pasokan Pangan Gratis untuk Warga Isoman, Lalu Bagaimana Warga Lainnya?

 


Oleh Nazwa Hasna Humaira

Pelajar dan Aktivis Dakwah


Virus Covid-19 semakin mengganas, membuat masyarakat Indonesia banyak yang terinfeksi dan membutuhkan perawatan intensif. Namun, rumah sakit sudah tak mampu menampung para pasien yang terjangkit, sehingga mereka melakukan isolasi mandiri atau isoman di rumahnya masing-masing. Seperti di perumahan Gading Tutuka 1, Soreang Indah, dan Cingcin Permata Permai, di Desa Cingcin.


Di desa tersebut bila dirata-ratakan hampir 10 orang per RT yang terinfeksi virus Covid-19. Lalu, para warga yang sedang melakukan isolasi mandiri mendapatkan bantuan pasokan makanan dari DLH dan masyarakat sekitar yang membantunya.

Sekretaris Desa Cingcin, Mahmud Mahmudin mengatakan "Pihaknya telah bekerjasama dengan DLH Kabupaten Bandung akan menjamin pasokan makanan". (Dikutip dari AyoBandung.com, Jum'at, 16/7/2021)


Tak hanya itu, komunitas Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bandung mendistribusikan paket pangan untuk yang sedang isolasi mandiri. Tujuannya untuk meringankan beban warga yang terinfeksi, bantuan ini ada di Kabupaten Bandung. (Dikutip dari Kumparan, Sabtu, 10/7/2021).


Adanya bahan pangan gratis menjadi sangat dibutuhkan bagi masyarakat di masa pandemi. Sebab, saat lockdown semua pekerjaan sempat diberhentikan dan menimbulkan banyak pengangguran dan kemiskinan. Sehingga, sulit dan berkurangnya pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, walaupun  dalam kondisi sulit dan sempit masih banyak warga yang rela menyisihkan hartanya untuk tetangga mereka yang isoman agar kebutuhan terkait pangan terpenuhi.


Meski dmikian, pemerintah tak seharusnya berlepas tangan begitu saja dalam tanggung jawab untuk memberikan jaminan bahan pangan terhadap rakyatnya, baik warga terdampak secara langsung atau tidak. Pasalnya, pemerintah terutama pusat memiliki peran sentral terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat secara menyeluruh dalam kondisi normal maupun wabah. 


Sayangnya, harapan tentang tanggung jawab negara (pemerintah) tak mungkin terwujud selama paham kapitalisme dijadikan landasan mengatur urusan publik. Kondisi negara saat ini masih jauh dari yang diharapkan, baik pemimpinnya ataupun aturan yang digunakannya. Sehingga menimbulkan kebijakan setengah hati atasi pandemi yang menimpa rakyatnya dan pemberian solusi yang tak tuntas dalam menyelesaikan masalah. Rakyat semakin sengsara dengan kondisi yang seperti ini. Tanpa adanya jaminan pemenuhan kebutuhan hidup setiap individu secara merata.


Sebuah pemikiran yang salah pastinya akan melahirkan tindakan yang salah pula dalam menyikapi sesuatu. Sehingga, solusi yang telah dipikirkan pun masih belum dapat menyelesaikan masalah tersebut, malah membuatnya semakin besar. Inilah bukti gagalnya kapitalisme dijadikan asas oleh sebuah negara,  pemimpin yang harusnya bersegera meminimalisir jatuhnya korban, hilangnya nyawa sebagai prioritas utama justru bayang kapitalisme membuatnya mengedepankan ekonomi, utang dan impor.


Sedangkan dalam kepemimpinan Islam, segala kebutuhan masyarakatnya terjamin, begitu pula saat adanya wabah. Sehingga, masyarakat tak perlu merasa khawatir saat adanya masalah yang menimpa dalam sebuah negara. Sebab, pemimpin Islam mampu menyelesaikan semua masalah dengan tuntas sesuai dengan panduan Al-Qur'an dan  As-Sunnah dalam menyelesaikannya.


Ketika adanya wabah menghadang sebuah negeri, pemimpin Islam langsung bersikap tegas dalam mengarahkan dan melindungi kaum muslimin dan manusia umum dari penyakit tersebut. Seperti sabda Rasulullah Saw. berikut:


 "Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya."  (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).


Tindakan yang cepat dan tepat pasti akan mampu mengatasi masalah tersebut dengan benar. Sehingga, mampu melindungi banyak nyawa yang ada di negara ataupun dunia ini.  Sebab, di sisi Allah satu nyawa itu lebih berharga daripada segala perkara dunia. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda,


"Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya kematian seorang mukmin tanpa hak.”  (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).


Langkah-langkah yang akan dilakukan oleh seorang pemimpin Islam pada saat terjadinya wabah adalah:

1) Mengambil sikap untuk menyegerakan memindahkan rakyat ke tempat aman yang jauh dari wabah penyakit dan ditetapkannya  kebijakan lockdown syar'i.

2) Memberikan pelayanan yang baik terhadap rakyatnya melalui konsep 3T.

3) Melayani kebutuhan sehari-hari rakyatnya termasuk kebutuhan kesehatan dan obat-obatan  secara gratis.

4) Mengurusi kepentingan rakyatnya agar dampak wabah seperti kelaparan, kemiskinan, dan hilangnya pekerjaan tidak terjadi.


Seorang pemimpin sudah seharusnya lebih mengutamakan rakyatnya ketimbang urusan diri sendiri. Sehingga, mampu menciptakan kedamaian dan keadilan yang merata, tanpa adanya rakyat yang terlantar atau menderita. Memberikan semangat dan tenaganya untuk kesejahteraan seluruh umat.


Inilah sikap pemimpin Islam dalam menyelesaikan masalah wabah. Memberikan solusi yang tepat bukan solusi parsial seperti PSBB atau PPKM dalam sistem kapitalisme. Maka solusi mengakhiri wabah ini adalah dengan cara kembali pada penerapan syariat secara kaffah dalam bingkai institusi Islam, tidak ada yang lain.


Wallahu a'lam bi ash-shawwab