Dra. Rivanti Muslimawaty, M. Ag.

Dosen di Bandung


Virus corona varian Delta, yang sebelumnya dikenal sebagai varian mutasi B-16172, telah terdeteksi di Jawa Barat. Gubernur Jabar Ridwan Kamil meminta masyarakat mewaspadainya dengan memperketat protokol kesehatan pencegahan Covid-19. "Varian Delta sudah hadir di Jawa Barat. Ini menandakan kita harus waspada," kata Ridwan Kamil usai menghadiri video konferensi rapat Komite Percepatan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah di Gedung Pakuan, Kota Bandung. 


Varian Delta yang teridentifikasi berdasarkan tes _whole genome sequencing_ (WGS) oleh Labkesda Jawa Barat bekerja sama dengan ITB, hadir di Kabupaten Karawang dan Kota Depok. “Varian ini penularannya akan lebih cepat dibanding varian sebelumnya," ujar mantan Wali Kota Bandung itu. Mengingat berbagai dampak yang ditimbulkan oleh varian ini, Emil mengimbau kepada seluruh masyarakat agar memperketat prokes di antaranya memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. (CNNIndonesia, 21/06)


Makin banyak korban yang berjatuhan, di antaranya ratusan ASN Kabupaten Bandung yang terkonfirmasi terpapar Covid-19. Selain itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung, per tanggal 24 Juni 2021 ada sebanyak 570 anak di bawah umur lima tahun (balita) yang terpapar Covid-19. Lalu, sebanyak 3.149 anak di rentang umur 6 sampai 19 tahun yang terkonfirmasi Covid-19. (Jabarekspres.com, 25/6) 


Berita yang menyesakkan dada tersebut menunjukkan bahwa kasus Covid masih menghantui Jawa Barat. Diawali masuknya virus corona varian Delta ke Jabar inilah kasus Covid semakin menjadi-jadi karena penularannya yang sangat cepat, termasuk penularan kepada anak-anak, khususnya balita. Jika wabah ini tidak segera dihentikan, akan berakibat buruk bagi nasib generasi di masa depan.


Penguasa negeri ini tidak belajar dari pengalaman buruk di awal pandemi tahun 2020. Pada saat itu mereka meremehkan virus Covid-19 dan tidak melakukan pencegahan sejak awal hingga akhirnya virus Covid pun masuk ke negeri kita. Sekarang pun penguasa tidak melakukan pengetatan larangan masuknya WNA, sampai akhirnya masuk virus varian baru yaitu varian Delta.


Runutan peristiwa ini makin nyata dan jelas menunjukkan gagalnya sistem demokrasi dalam meri’ayah dan melindungi nyawa rakyatnya.  Penguasa salah dalam pengambilan solusi dan kebijakan. Saat kasus Covid semakin melonjak, penguasa malah masih berpikir membuka wisata demi retribusi untuk Pemda. Penguasa hanya fokus pada target status zona semata, ketika mampu keluar dari zona merah seolah-olah kondisi sudah aman terkendali sehingga akibatnya menjadi lengah.


Bila penguasa sudi melihat bagaimana upaya Islam dalam mencegah dan mengakhiri pandemi, maka akan tampak jelas betapa aturan Islam sangat efektif dan efisien dalam penyelesaiannya. Berdasarkan catatan sejarah, pernah ada wabah penyakit pada masa Rasulullah dan sahabat. Meskipun bukan virus mematikan layaknya Covid-19, wabah pada masa itu juga menular dengan cepat dan menyebabkan tidak sedikit orang terkena dampaknya. Pada masa itu, salah satu wabah yang sering terjadi adalah kusta atau lepra. Sebagai tindakan pencegahan, Rasul memerintahkan manusia untuk tidak berdekatan dengan penderitanya maupun wilayah yang terkena wabah. Sabda Rasul, "Janganlah orang yang sakit itu didekatkan dengan orang yang sehat." Dimakruhkannya orang yang berpenyakit berdekatan dengan orang yang sehat, karena dikhawatirkan penyakitnya menular kepada orang yang sehat. 


Selain itu Rasul pun menerapkan konsep karantina wilayah (lock down) seperti diungkapkan dalam HR Bukhari yang artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” Dalam menghadapi wabah penyakit, Rasul saw. memberikan konsep karantina untuk menyelamatkan nyawa manusia dari ancaman kematian akibat wabah penyakit menular.


Contoh Rasul ini dipraktekkan oleh Khulafaur Rasyidin, yaitu di masa kepemimpinan khalifah ke dua, Umar bin Khaththab, pada tahun 18 Hijriah saat terjadi serangan wabah yang paling berat dalam sejarah umat Islam. Saat itu, Umar bin Khattab membatalkan niatnya masuk ke daerah Syam yang terserang wabah. Keputusan itu diambil setelah mengadakan dialog dan musyawarah bersama panglima pasukannya, Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Dialog itu berlangsung di daerah Syargh, jelang masuk ke daerah Syam. Pusat wabah itu ada di kampung kecil bernama Amawas. 


Dalam sejarah Islam, nama tempat wabah penyakit era Umar bin Khaththab dikenal dengan _Thaun Amawas_ atau wabah Amawas. Kampung itu terletak antara daerah Ramallah dengan Baitul Maqdis. Wabah itu menewaskan puluhan ribu orang, termasuk para sahabat Rasulullah saw., di antaranya Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, Syurahbil bin Hasanah, Abu Jandal bin Suhail dan puluhan sahabat lainnya. Termasuk dua gubernur Syam juga meninggal berturut-turut, yang pertama adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah yang diminta keluar dari Syam oleh Umar, namun dia tidak mau pergi menyelamatkan diri, lalu meninggal. Kemudian digantikan oleh Muadz bin Jabal sebagai gubernur dan ia juga meninggal terkena wabah.


Diangkatlah ‘Amr bin Ash  oleh Umar bin Khaththab sebagai gubernur Syam. ‘Amr bin Ash mencoba melakukan diagnosa terhadap penyebab dan penyebaran wabah. ‘Amr mengatakan bahwa wabah seperti api yang berkobar dan selama masih ada kayu bakar, dia akan terus menyala. Selama masih ada orang yang sehat, ia akan terus menyebar. Dia melihat solusi menghentikan wabah adalah dengan menyuruh penduduk sehat pergi menyingkir ke bukit-bukit, yang saat ini kebijakan tersebut dinamakan karantina wilayah, isolasi atau lockdown.


Islam telah memberikan contoh nyata cara menyelesaikan wabah penyakit menular, yang terbukti ampuh menyelesaikan wabah dengan cepat sehingga banyak nyawa dapat terselamatkan. Solusi efektif penanggulangan wabah adalah dengan isolasi manusiawi yang terpusat, yang dilakukan oleh penguasa, bukan isolasi mandiri yang diserahkan pada kemampuan masing-masing orang dengan segala keterbatasannya. Berapa pun pembiayaan yang dibutuhkan untuk isolasi terpusat bagi pasien, wajib ditanggung negara. Khilafah Islam telah mempraktekkan upaya ini sebagai salah satu tanggung jawab terhadap keberlangsungan generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Khilafah terbukti sebagai satu-satunya sistem yang sangat ampuh, mari bersinergi untuk kembali mewujudkannya.

 
Top