Oleh Sumiyati

(Guru, Member AMK)


Yang dulu belum usai, kini kembali naik hingga puncak. Covid-19 yang masih melanda negeri belum berakhir. Masyarakat, nakes, pemerintah kaget dengan lonjakan kasus yang terus meningkat. 

Beberapa bulan hingga sekarang di berbagai daerah melakukan vaksin, Swab-Test dilakukan bagi yang keluar masuk luar kota. Tapi hingga hari ini berbagai rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 seperti Wisma Atlet penuh dengan pasien yang antrian untuk mendapatkan pelayanan terbaik dari rumah sakit. Padahal kapasitasnya sudah ditambah, tetap saja penuh pasien yang berdatangan. (KOMPAS, 23/6/2021).

Seorang Wakapolres (Antonius Agus Rahmanto) yang turun evaksuasi pasien yang terpapar Covid-19 di Jagakarsa, Jakarta Selatan menangis karena tidak mampu membawa pulang pasien dengan sehat dan selamat tapi malah sebaliknya dalam keadaan sudah tiada. (KOMPAS, 26/6/2021).

Alih-alih sekolah akan mulai dibuka di ajaran yang akan datang, tapi melihat kondisi saat ini terlihat tidak memungkikan. Begitu banyak stasiun TV yang memberitakan kondisi terkini Covid-19. Kabanya terus meningkat. Kesedihan yang melanda negeri ini, mulai dari anak-anak hingga dewasa. 

Situasi wabah yang tak terkendali membuktikan sistem kesehatan yang diterapkan oleh kepemimpinan kapitalis sudah kolaps. Meskipun sudah ditambah kapasitasnya tapi terlihat jelas dengan kondisi rumah sakit yang penuh dengan pasien Covid-19. Para Nakes dan rumah sakit sudah kewalahan. 

Prokes yang terus diingatkan oleh pemerintah terhadap masyarakat tidak membuahkan hasil yang efektif untuk mencegah penularan Covid-19. Ketidakpatuhan masyarakat terhadap prokes menunjukkan ketidakemampuan negara dalam meri’ayah masyarakat dan begitu terlihat hilangnya wibawa seorang pemimpin terhadap masyarakat. 

Negara memang sudah salah langkah sedari awal hanya semata-mata kebijakan ekonomi. Istilah kasarnya “Ekonomi lebih berharga daripada nyawa rakyat”. Inilah terjadi dalam sistem kapitalisme. Selama sistem kapitalisme memimpin dunia, pandemi semakin tak terkendali. 

Prediksi WHO, 2021 kemungkinan akan menjadi tahun yang terburuk dari tahun sebelumnya.

Bagaimana Islam menangani wabah?

Pertama, Negara harus mengedukasi masyarakat. Meyakinkan masyarakat untuk menjaga Prokes.

Kedua, Lockdown daerah wabah.

Ketiga, Memenuhi kebutuhan masyarakat.

Keempat, Semuanya akan terpenuhi dengan sistem yang sahih. Tidak lain dan tidak bukan sistem Islam. Sistem yang memberikan keamanan, menjaga imun, dan menjaga iman masyarakat. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top