Oleh Umi Lia

Ibu Rumah Tangga Cileunyi Kabupaten Bandung


“Sungguh manusia yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya di sisi Allah adalah pemimpin yang zalim.” (HR Tirmidzi)

Angka kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Bandung terus naik. Update data tanggal 14 Juli ada penambahan 213 orang yang terkonfirmasi, menjadi total 24.771 orang, yang meninggal bertambah 5 orang, menjadi 496 orang. Sedangkan yang sembuh ada 210 orang sehingga totalnya 20.141 orang. (https://Covid-19bandungkabupaten.go.id, 14/7/2021)

Sejumlah daerah telah melakukan langkah strategis untuk menekan laju penularan Covid-19 di wilayahnya termasuk pemerintah Kabupaten Bandung. Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah dilakukan sejak Sabtu, 3 Juli hingga sampai 20 Juli nanti. Untuk kebijakan tersebut pemerintah kabupaten Bandung melakukan realokasi anggaran sebesar Rp80 miliar. “Terpaksa kami menarik dulu untuk belanja pegawai. Alokasi belanja pegawai pada November dan Desember 2021 itu ditarik dulu untuk kegiatan Covid-19 karena kondisinya memang sangat memprihatinkan,” demikian kata Bupati Bandung, Dadang Supriatna. (Ayobandung.com, 1/7/2021)

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung, Sugianto, mengakui telah menerima surat dari Bupati Bandung mengenai peraturan bupati parsial tersebut. Peraturan Bupati ini, kata Sugianto isinya mengenai  alokasi anggaran untuk pelaksanaan penerapan PPKM Darurat. “Realokasi anggaran sebesar Rp80 miliar dari sisi anggaran, kami di DPRD harus sangat mendukung upaya pemerintah untuk menyiapkan sarana dan prasarana. Dengan kewenangan DPRD bagaimana nanti program yang diperintahkan pusat itu bisa lancar di Kabupaten Bandung. Terutama pengendalian masyarakat yang terkena Covid-19,” tutur Sugianto. (IDNTime, 2/7/2021)

Apa yang diprediksi oleh para pakar kesehatan, ahli epidemiologi, para peneliti, ulama hingga sebagian besar tokoh nasional, ternyata benar terjadi. Ketika di awal penanganan pandemi ini salah, maka pandemi akan semakin parah dan sulit untuk diatasi. Himbauan untuk melakukan lockdown di awal, dengan menutup bandara, juga pelabuhan dari masuknya TKA juga WNA tidak dipedulikan pemerintah. Ditambah lagi pemerintah tidak menghentikan aktivitas berkumpul, baik dalam institusi pemerintah, sekolah, pasar dan mal.

Akhirnya gelombang kedua Covid-19 tidak bisa dihindari. Sejumlah rumah sakit penuh, sementara yang antre banyak, ambulan tidak memadai untuk menjemput para pasien Covid-19. Kejadiannya sudah seperti ini, apakah program PPKM Darurat akan berhasil? Banyak pakar yang meragukan. Karena apa bedanya program PPKM Darurat dengan program sebelumnya? Dari mulai PSBB, PPKM Jawa-Bali, PPKM Mikro, Penebalan PPKM Mikro dan sekarang PPKM Darurat. Semuanya dinilai kurang efektif dalam mengatasi pandemi. Buktinya hingga kini pandemi makin parah dan ekonomi kian mengkhawatirkan.

Kebijakan yang lebih memihak kepada kepentingan ekonomi ternyata tidak membuat ekonomi semakin membaik. Rakyat diminta untuk gotong royong dan mendukung kebijakan pemerintah, sementara pemerintah sendiri tidak konsisten dengan kebijakannya. Apa yang dilakukan Bupati Bandung dengan meminjam dana belanja pegawai, sungguh mengkhawatirkan. Bagaimana jika dana habis, tapi pandemi tak kunjung berakhir? Harus diingat saat ini seluruh lapisan masyarakat terkena dampak Covid-19 termasuk ASN.

Tidak ada jaminan pandemi akan segera lenyap. Dengan kebijakan yang maju mundur seperti sekarang, rakyat semakin tidak percaya pada pemerintah. Terlebih lagi saat pandemi ini, hutang makin menggunung, dana bantuan sosial yang jelas-jelas untuk rakyat yang sedang kesusahan dikorupsi pejabat, kemudian KPK, lembaga yang jadi kepercayaan rakyat dilemahkan sehingga korupsi berjamaah semakin mulus. Selain itu bagi umat Islam, pandemi ini dijadikan alat untuk mengkriminalisasi ulama, seperti yang menimpa HRS yang divonis empat tahun penjara dengan alasan yang tidak masuk akal. Namun di sisi lain pada saat yang sama pejabat dan orang-orang di lingkarannya tak tersentuh hukum walau nyata melanggar prokes.

Ketidakadilan atau kezaliman yang dirasakan masyarakat dan kesejahteraan yang tak pernah dikecap membuat kepercayaan rakyat pada pemerintah berkurang atau bahkan hilang. Ketidakpercayaan lahir dari buruknya pengurusan rakyat oleh penguasa. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari sistem demokrasi kapitalis sekuler yang diberlakukan negara Indonesia saat ini. Sistem demokrasi menghasilkan penguasa dan pejabat yang korup dan kebijakan yang zalim. Sekularisme tidak membawa-bawa ajaran agama dalam mengatur kehidupan bernegara, serta kapitalisme memberikan kebebasan penuh pada semua orang untuk melakukan kegiatan ekonomi untuk meraih keuntungan. Sistem buatan manusia ini tidak akan menghasilkan kesejahteraan rakyat kecuali hanya segelintir orang, dan akan selalu menghasilkan kezaliman. Karena begitulah tabiat manusia, serakah dan ingin menang sendiri.

Alhasil, kunci terselesaikannya pandemi saat ini adalah mengembalikan kepercayaan pada penguasa. Agar penguasa dan rakyat bisa bahu membahu kerja sama dalam menyelesaikan pandemi. Tapi penguasa yang diturut dan dicintai rakyat, serta bekerja hanya untuk kebaikan rakyat, hanya ada pada sistem Islam. Sistem buatan Allah Swt. yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi manusia, Maha Pengasih dan Penyayang yang menunjukkan jalan lurus bagaimana supaya manusia selamat di dunia dan akhirat. Jalan lurus itu adalah ajaran Islam, yang bukan hanya sekadar agama yang mengatur tata cara ibadah. Islam adalah sebuah ideologi, yang mengandung konsep dan metode atau cara menerapkan konsep tersebut.

Penerapan Islam sudah dicontohkan Rasul saw. Sejak beliau tiba di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur rasyidin dan para khalifah yang banyak sampai runtuh tahun 1924. Begitu panjang sejarah penerapan sistem Islam dan banyak pelajaran yang dapat diambil untuk bisa menyelesaikan permasalahan yang sekarang terjadi. Termasuk dalam menyelesaikan pandemi ini, yang dulu pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Khaththab. Hal pertama yang dilakukan ketika ada pandemi adalah melockdown wilayah yang terkena wabah dengan menjamin kebutuhan dasar rakyat di wilayah yang dilockdown tersebut. Kemudian prokes diberlakukan serta test, tracing dan treatment dilakukan untuk mengatasi wabah. Sementara di wilayah lain kehidupan berjalan normal sehingga roda perekonomian tetap berjalan dan bisa mensupport wilayah yang terkena wabah.

Sistem Islam yang dijalankan secara kaffah ini otomatis akan menghasilkan pemimpin dan pejabat yang amanah. Inilah keunggulan lain dari sistem Islam. Pemimpin dalam sistem Islam, mereka akan mengurus rakyat sesuai perintah Allah. Karena mereka sadar, hal itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat kelak. Keimanan akan Hari Kiamat dan kehidupan abadi setelah kiamat inilah yang menjadikan mereka berbuat yang terbaik dalam mengurus rakyat. Sungguh sistem Islam ini adalah sistem yang ideal dan paling mampu mengatasi pandemi. Sampai kapan umat Islam menutup mata dari fakta ini?

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

 
Top