Oleh Maretika Handrayani, S.P.

(Aktivis Dakwah Islam)


Bak jatuh tertimpa tangga, di tengah wabah covid yang melonjak tajam, rakyat kembali kesulitan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak. Kasus-kasus kekurangan oksigen di berbagai rumah sakit dan juga dialami pasien isolasi mandiri mewarnai pemberitaan media. Di antaranya dari laman Bisnis.com/4/7/2021 yang menyebutkan bahwa Komandan Posko Dukungan Operasi Satgas COVID-19 DI Yogyakarya Pristiawan Buntoro mengonfirmasi sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta meninggal dunia dalam sehari semalam pada Sabtu (3/7/2021) hingga Minggu (4/7/2021) pagi akibat menipisnya stok oksigen. Fakta kekurangan oksigen ini menunjukkan kelemahan perangkat negara menyiapkan perangkat dan fasilitas yg dibutuhkan rakyat untuk menghadapi pandemi.

Selain terbatasnya oksigen, simpang siur peredaran obat yang diklaim berpotensi Jadi Obat terapi Covid-19 juga menimbulkan kontroversial dan kebingungan di tengah masyarakat. “BPOM mengumumkan, salah satu produsen Ivermectin, PT Harsen tidak memenuhi sejumlah syarat terkait Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) untuk obat ivermectin” (Suarabatam.id/2/7/2021). Fakta kontroversi ini juga menunjukkan bahwa pemerintah tidak sigap menjamin pemenuhan kebutuhan obat bagi rakyat yang terinfeksi. 

Kegagalan perangkat pemerintah sistem demokrasi dalam menyelesaikan pandemi sejak awal munculnya pandemi harus jujur diakui. Kesalahan fatal saat pertama kali negara menjadikan ekonomi sebagai pertimbangan dominan dalam mensikapi wabah. Sungguh format sistem bernegara hari ini terbukti tak cakap menyelesaikan wabah. Rakyat tidak membutuhkan narasi-narasi pembelaan deffensif untuk menutupi potret buruknya wabah, tapi yang dibutuhkan adalah solusi riil penyelesaian wabah dan terpenuhinya hajat hidup mereka. 

Menyelesaikan pandemi dan sederet problematika yang menimpa umat hari ini membutuhkan perubahan sistemis dan mendasar yang harus dimulai dengan perubahan sistem politik kapitalisme ke sistem politik Islam yang berbasis kesadaran ideologis umat. 

Penerapan syari’at Islam yang telah terbukti mampu memuliakan manusia baik muslim maupun nonmuslim yang hidup dalam naungan khilafah. Sejarah membuktikan selama 13 abad lamanya sistem Islam menaungi dua per tiga belahan dunia dan menjadi satu-satunya sistem kehidupan dan bernegara yang berhasil memberikan kesejahteraan, dan menyelesaikan persoalan wabah dengan baik dan tepat. 

Islam menetapkan nyawa manusia sangat berharga,  menyelamatkan satu orang sama besarnya dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Allah Swt. berfirman: “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Maidah: 32).

Sistem Islam dalam menghentikan wabah  menerapkan strategi jitu dengan isolasi wilayah yang terkena wabah/pandemi, Juga dengan 3T (trace, test, and treat/lacak, uji dan obat). Islam menetapkan bahwa negara wajib menjamin kebutuhan hidup warga negara mencakup pangan, sandang, papan, jaminan kesehatan dan keamanan sehingga kemiskinan dan kelaparan dapat diselesaikan.  

Sebagaimana saat wabah hadir di masa Rasulullah saw., beliau memerintahkan untuk mengisolasi wilayah terdampak dan orang-orang yang tertular wabah. Rasulullah saw. bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah pengaturan Islam bahwa kepala negara atau pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar dalam melindungi rakyatnya. Ia akan tulus menjalani peran kepemimpinannya melayani rakyat, bukan menjadi pedagang yang menjadikan standar untung rugi atas rakyatnya layaknya di dalam negara sekuler kapitalis. Kelesuan ekonomi yang dialami pelaku ekonomi raksasa atau kapitalis tidak menjadi pendorong kuat hingga memberlakukan new normal dengan risiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas. 

Rasulullah saw. bersabda: “Seorang Imam adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sudah saatnya umat menyadari bahwa pangkal kesengsaraan atas persoalan pandemi yang tak kunjung terselesaikan adalah konsekuensi dari penerapan sistem demokrasi kapitalisme. Akidah Islam menuntut setiap umat untuk tunduk dan menerapkan syari’at Islam yang lahir dari akidah yang sahih ini. Tidak ada sistem yang lebih tepat untuk umat manusia daripada sistem Islam yang direpresentasikan dalam daulah al-Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian, yang akan mendatangkan keberkahan di dunia dan akhirat.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. Al-A’raf: 96).

 
Top