Kondisi Pandemi si Kaya dan si Miskin Sistem Sekuler Demokrasi


Oleh Ir. H. Izzah Istiqamah

(Praktisi Pendidikan) 


"Tidaklah beriman kepada-Ku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu." (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Umat manusia itu sejatinya akan mulia jika saling mencintai karena Allah. Namun sayangnya kemuliaan manusia ini susah diwujudkan, karena saat ini umat Islam berada di dalam kubangan sistem sekuler demokrasi. 

Di tengah pandemi Covid-19, penduduk kaya dan superkaya di Indonesia justru meningkat jumlahnya. (Kompas.com). 

Sebuah fakta terungkap bahwasanya orang kaya di Indonesia mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19. Berdasarkan laporan Credit Suisse, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta setara dengan Rp14,49 miliar (kurs dollar Rp14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang, alias bertambah 62,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Laporan Credit Suisse nampaknya memberikan bukti bahwasanya kesenjangan antara rakyat Indonesia agak melebar. Terlihat dari data indeks gini yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Indeks gini adalah indikator yang mengukur tingkat pengeluaran penduduk suatu negara yang dicerminkan dengan angka 0-1. Semakin rendah angkanya, maka pengeluaranya pun semakin merata.       

- Sistem kapitalisme mewujudkan 

  kemiskinan massal pada individu,  

  keluarga dan negara. 

-  Sistem ini memfasilitasi kerakusan  

   para pemilik modal untuk 

   melipatgandakan kekayaan 

   pribadinya. 

-  Sistem sekuler ini mencetak 

   kesenjangan permanen yang rentan 

   melahirkan masalah baru di 

   masyarakat seperti maraknya 

   kriminalitas dan problem sosial 

   lainnya. 

Sistem sekuler inilah yang membuat kekayaan milik rakyat dikuasai serta dinikmati oleh segelintir orang. Di negeri ini sudah lama terjadi privatisasi sektor publik seperti jalan tol, air, hutan, pertambangan gas, minyak bumi dan mineral. Akibatnya, jutaan rakyat terhalang untuk menikmati hak mereka atas sumber-sumber kekayaan alam yang sejatinya adalah kekayaan milik mereka. 

Sementara rakyat seolah dipaksa dibiarkan untuk hidup mandiri. Penguasa/negara lebih banyak berlepas tangan daripada untuk mengurus rakyatnya dengan menjamin kebutuhan hidupnya. 

Di dalam Islam, kemiskinan tidak dinilai dari besar kecilnya pengeluaran atau pendapatan, tetapi dari pemenuhan kebutuhan asasiyah (pokok) secara perorangan. Kebutuhan pokok itu mencakup sandang, pangan, perumahan, kesehatan dan fasilitas pendidikan secara layak. 

Cara Islam Mengentaskan Kemiskinan

Pertama: Secara individual, Allah Swt. memerintahkan kepada setiap muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya. 

Jika seseorang miskin, ia diperintahkan untuk bersabar dan bertawakal seraya tetap berprasangka baik kepada keputusan Allah sebagai Zat Pemberi rezeki. 

Kedua: Secara jama’i (kolektif) Allah Swt. memerintahkan kaum muslim untuk saling memperhatikan saudaranya jika ada yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. 

Ketiga: Allah Swt. memerintahkan kepada penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. 

Di Madinah, sebagai kepala negara, Rasulullah saw. menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya dan menjamin kehidupan mereka. Pada zaman nabi ada ahlus-shuffah. Mereka adalah para sahabat tergolong dhuafa. Mereka diizinkan bertempat tinggal di Masjid Nabawi dengan mendapatkan santunan dari kas negara.

Saat menjadi khalifah, Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab biasa memberikan insentif kepada setiap bayi yang lahir demi menjaga dan melindungi anak-anak. Beliau juga membangun “rumah tepung” (dar ad-daqiq) untuk para musafir yang kehabisan bekal.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuat kebijakan pemberian insentif dengan membiayai pernikahan para pemuda yang kekurangan uang.

Karena itu saatnya kita mencampakkan sistem selain Islam yang telah terbukti mendatangkan berbagai musibah kepada umat. Sudah saatnya kita kembali kepada syariah Islam yang berasal dari Allah Swt. Hanya syariah-Nya yang mampu menjamin keberkahan hidup manusia baik di dunia maupun di akhirat.