Kesenjangan Sosial Kian Tak Terbendung di Masa Pandemi


Oleh Tri Sundari, A.KS


Pandemi Covid-19 sudah memasuki tahun kedua, akan tetapi hingga saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Dampak dari pandemi Covid-19 salah satunya mengakibatkan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai bidang pekerjaan, sehingga para korban PHK tersebut semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Akan tetapi di sisi lain dampak dari pandemi Covid-19 ini telah meningkatkan jumlah penduduk kaya di dunia, termasuk Indonesia.

Dilansir dari Detikfinance (13/07/2021), Berdasarkan laporan Credit Suisse, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp14,49 miliar (kurs dollar Rp14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang, alias bertambah 62,3% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), yaitu pada tahun 2019 yang berjumlah 106.215 orang

Dalam surveinya, lembaga tersebut juga mencatat, jumlah orang Indonesia sangat kaya atau dengan kekayaan tercatat lebih dari 100 juta dollar AS pada tahun 2020 mencapai 417 orang atau naik 22,29 persen dari tahun sebelumnya. (Kompas.com, 13/07/2021).

Laporan Credit Suisse, memberikan bukti bahwa kesenjangan antara rakyat miskin dan kaya di Indonesia makin melebar. Hal ini terlihat dari data indeks gini yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Indeks gini adalah indikator yang mengukur tingkat pengeluaran penduduk yang dicerminkan dengan angka 0-1. Semakin rendah angkanya, maka pengeluaran semakin merata.

Per September 2020, indeks gini Indonesia ada di 0,385, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 0,38. Artinya adalah pengeluaran semakin tidak merata karena angka indeks gini mengalami peningkatan.

Menurut Nannette Hechler-Fayd'herbe, kepala investasi di Credit Suisse, mengatakan bahwa fenomena ini dapat terjadi karena adanya penurunan suku bunga yang dilakukan oleh banyak bank-bank sentral di seluruh dunia. Hal ini membantu meningkatkan harga saham dan harga rumah selama masa pandemi. (Detikfinance, 23/06/2021).

Dalam sistem kapitalis saat ini, tidak menutup kemungkinan orang kaya akan berusaha untuk menambah pundi-pundi kekayaannya. Berbagai cara akan mereka tempuh agar kekayaannya bertambah. Mereka seolah tidak memedulikan nasib rakyat yang berebut pendapatan hanya sekadar agar bisa makan.

Peraturan yang dibuat oleh pemerintah sejatinya harus dapat melindungi rakyatnya. Akan tetapi di era kapitalis, rakyat pemilik modallah yang selalu diakomodir agar mendapatkan berbagai kemudahan. Rakyat menengah ke bawah yang seharusnya bisa merasakan sejahtera di bawah riayah pemerintah seolah terpinggirkan.

Berbagai program yang digulirkan pemerintah, untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat kelas menengah ke bawah, nyatanya tidak bisa merubah tingkat kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Hal ini dikarenakan program tersebut kurang tepat sasaran, tidak menuntaskan akar permasalahan yang paling mendasar.

Sistem kapitalis nyatanya telah mewujudkan kemiskinan masal pada individu, keluarga dan negara. Janji-janji politik pada masa kampanye maupun saat awal berkuasa pun seolah hilang ditelan angin. 

Sistem ini telah memasilitasi kerakusan pemilik modal untuk melipatgandakan kekayaan pribadinya. Sistem kapitalis telah mencetak kesenjangan permanen yang rentan melahirkan masalah baru di masyarakat, seperti maraknya kriminalitas dan problem sosial lainnya. Rakyat miskin yang sudah mengalami kebuntuan akan mencari jalan yang salah agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Sangat miris melihat kondisi saat ini. Rakyat semakin menderita, sementara kaum kapitalis tidak peduli dengan jeritan kaum miskin. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya kekayaannya tetap bisa bertambah dengan memanfaatkan kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

Islam merupakan agama yang berdasarkan wahyu Allah. Dalam Islam sudah diberikan solusi atas setiap permasalahan yang kita hadapi. Islam sudah mengatur tentang perputaran uang untuk seluruh rakyat.

Rasulullah saw. merupakan suri tauladan bagi seluruh manusia. Meskipun beliau merupakan pemimpin umat akhir zaman, akan tetapi beliau tidak hidup dalam kemewahan, sebaliknya beliau mengajarkan kepada pengikutnya agar hidup sederhana.

Beliau lebih mengutamakan kesejahteraan umatnya, bahkan keluarga Rasulullah saw. dan para sahabat beliau pun mengikuti contoh Rasulullah saw. dengan hidup sederhana. Seandainya para pemimpin saat ini mencontoh Rasulullah saw. tentu rakyat akan sejahtera dan kesenjangan antara rakyat miskin dan kaya tidak akan semakin melebar.

Wallahu a'lam bisshawwab.