Kelangkaan Pasokan Oksigen Bukti Negara Abai Keselamatan Rakyat

 


Oleh Maya Dhita


Hingga hari ini, Selasa (13/7) tabung oksigen masih susah didapatkan. Kelangkaan ini terjadi seiring lonjakan kasus covid-19 yang belum juga mereda. 


Dampak dari kelangkaan ini menyebabkan rumah sakit rujukan covid-19 mengalami kendala pasokan oksigen. Bahkan yang paling dramatis terjadi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito Yogyakarta, dilaporkan mengalami kekurangan stok oksigen cair (liquid oxygen) pada Sabtu (3/7/2021). Berbagai cara telah dilakukan untuk mendapatkan pasokan oksigen, namun paling cepat akan datang keesokan harinya. Pada hari itu terjadi anomali jumlah kematian pasien dalam kurun waktu  24 sebesar 63 orang dengan konfirmasi 33 orang pasien covid-19 yang mengalami perburukan pasca suplai oksigen central RSUP Dr Sardjito habis.


Indonesia memiliki produksi oksigen yang cukup tinggi. Selama setahun  ini produksi oksigen mencapai 1.700 ton per hari. Dari total produksi ini, hanya 30 persen yang digunakan untuk kebutuhan rumah sakit. Sedangkan sisanya untuk industri. Sedangkan sebelum lonjakan covid-19, kebutuhan rumah sakit sekitar 400 ton oksigen per hari. Ketersediaan tabung gas yang terbilang kurang akibat lonjakan covid-19 membuat pemerintah mengambil jalan pintas.


Seperti sebelumnya, ujung dari setiap kelangkaan produk yang terjadi di negeri ini adalah kebijakan impor. Dan bisa dipastikan akan menjadi solusi pada kasus kelangkaan oksigen dalam negeri.


Presiden Jokowi telah menyetujui rencana impor 50 ribu oksigen konsentrator untuk pasien Covid-19. Sehingga bisa mengurangi penggunaan liquid oksigen sebanyak 50 ribu tabung. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers daring, Senin, 12 Juli 2021. (www[dot]nasional[dot]tempo[dot]co,12/7/2021)


Oksigen konsentrator mungkin bisa mengatasi masalah kelangkaan tabung gas dalam negeri, tetapi mengingat jumlah produksi oksigen harian yang cukup besar dan jika penggunaanya dimaksimalkan untuk medis, maka seharusnya tidak perlu impor. 


Indonesia hanya perlu memperbaiki sistem pendistribusian oksigen ke rumah sakit dan masyarakat. Memproduksi tabung oksigen,  bahkan membuat sendiri oksigen konsentrator. Memaksimalkan potensi yang ada dan mengupayakan produksi secepatnya. 


Saling bantu dalam pengadaan oksigen dari pihak industri ke pihak rumah sakit juga akan mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi masalah kelangkaan ini.


Kelangkaan pasokan oksigen seharusnya sudah bisa diantisipasi sebelumnya. Mengingat tren jumlah kasus covid-19 yang selalu naik, dan berkaca pada perkembangan kasus covid-19 di negara-negara lain. Kesigapan dalam pengambilan kebijakan berkaitan pandemi sangat diperlukan sehingga lonjakan kematian pasien akibat tidak adanya suplai oksigen bisa dihindari.


Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan keselamatan rakyat di masa pandemi dibandingkan meningkatkan perekonomian dimana kebijakan keduanya akan saling berbenturan. Misalnya peraturan untuk Work From Home (WFH) untuk sebagian pekerja dan kebijakan 100 persen pekerja proyek tetap jalan. Hal ini membuktikan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hanya setengah hati.


Seorang pemimpin yang terikat dengan hukum syariat tidak akan pernah membiarkan nyawa rakyatnya terancam. Segala sesuatu akan diusahakan maksimal demi keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya. Tidak ada kepentingan duniawi yang mampu melenakannya. Kekuasaan adalah musibah baginya. Karena setiap kebijakan yang diambil kelak harus dipertanggungjawabkan kepada sang Pencipta. 


Begitupula dalam menentukan kebijakan selama pandemi. Lockdown menjadi pilihan utama saat wabah menyerang. Tak peduli besarnya biaya yang akan dikeluarkan untuk meriayah rakyat selama dalam karantina. Yang penting keselamatan rakyat terjamin. Tidak ada kontak antara penderita dengan yang sehat. Yang sakit fokus pada pemulihan, sedangkan yang sehat tetap bekerja untuk melanjutkan kehidupan. 


Begitulah syariat Islam dalam penerapannya akan menyelesaikan seluruh masalah tanpa menimbulkan masalah baru. 


Wallahu a'lam bishshowab.