Oleh Rini Heliyani


Penyanyi Yuni Shara bicara soal sikap dirinya jika anak-anaknya menonton film porno. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai film porno buruk bagi anak-anak. "Konten porno itu konten berbahaya. Dampak negatifnya serius bagi tumbuh kembang anak," kata Ketua KPAI, Susanto. (detiknews.com, 26/6/2021).


Sikap publik figure dalam mengajarkan pendidikan seks kepada anaknya menuai pro-kontra ditengah masyarakat.  Sehingga masyarakat menganggap seberapa pentingkah pendidikan seks bagi anak. 


Kejanggalan Pendidikan seks 


Pendidikan seks adalah bagian dari program global yang dirancang sedemikian rupa dan dikampanyekan untuk diadopsi sebagai solusi. PBB sendiri menempatkannya sebagai bagian dari program penting di UNESCO.


“Pendidikan seksualitas komprehensif (CSE) adalah proses pengajaran dan pembelajaran berbasis kurikulum tentang aspek kognitif, emosional, fisik, dan sosial seksualitas. Ini bertujuan untuk membekali anak-anak dan remaja dengan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang akan memberdayakan mereka untuk: mewujudkan kesehatan, kesejahteraan, dan martabat mereka; mengembangkan hubungan sosial dan seksual yang saling menghormati; mempertimbangkan bagaimana pilihan mereka memengaruhi kesejahteraan mereka sendiri dan orang lain; dan memahami dan memastikan perlindungan hak-hak mereka sepanjang hidup mereka.” (Sumber: UNESCO. 2017. Bimbingan Teknis Internasional tentang Pendidikan Seksualitas, hlm. 16—17)


Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menyarankan setiap negara di dunia untuk menerapkan pendidikan seksual yang komprehensif, termasuk Indonesia. Rekomendasi ini berdasarkan pada kajian terbaru dari Global Education Monitoring (GEM) Report, UNESCO.

Dalam kajian itu, GEM Report mendapati 15 juta anak perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun setiap tahunnya secara global. Sekitar 16 juta anak berusia 15-19 tahun dan satu juta anak perempuan di bawah 15 tahun melahirkan setiap tahunnya di dunia.


"Lebih dari satu dari sepuluh kelahiran terjadi di antara anak perempuan berusia antara 15-19 tahun. Ini tidak hanya berarti akhir dari pendidikan mereka, tetapi juga seringkali berakibat fatal, dengan kehamilan dan kelahiran merupakan penyebab utama kematian di antara kelompok usia ini," kata Direktur GEM Report Manos Antoninis, dalam keterangan pers, CNN Indonesia.com, (14/6).


Kasus diatas dianggap karena tidak diajarkan pendidikan seks sejak dini. Maka, para penggagas program Pendidikan seksualitas komprehensif (CSE) oleh UNESCO diharapkan mampu memberikan pendidikan seks kepada anak semenjak usia dini agar anak mampu menjaga kebersihan organ genitalnya. Pada usia remaja, pendidikan seks dikenalkan dengan pengajaran fungsi reproduksi, beragam aktivitas seksual, hingga penggunaan kontrasepsi.


Dengan pendidikan seks semacam ini diharapkan mampu memilih seks  bertanggung jawab, sehingga jika memilih pergaulan bebas maka tau pula resikonya, jika tidak menginginkan resiko dapat menghindari. Pun bila tak bisa mengendalikan naluri seksual, sudah tahu cara menghindar dari kehamilan tak diinginkan atau penyakit menular seksual berbahaya. 


Dari sini maka terlihat kejanggalan bahwa pendidikan seks yang diberikan kepada generasi, apakah benar-benar mampu menghilangkan mereka dari pergaulan bebas yang sehat, yang ampuh untuk menurunkan kasus kehamilan di luar nikah, aborsi, dan penyakit menular seksual? 


Pendidikan seks tidaklah menjamin pergaulan sehat ala barat. Justru akan menjadikan anak-anak melakukan pergaulan bebas secara terbimbing, asalkan dilakukan secara aman. Hal ini sama halnya dengan memberikan senjata api kepada anak-anak, diajarkan cara menggunakannya, asalkan digunakan dengan penuh tanggung jawab, tidak melukai dirinya sendiri, maka siapa dapat memastikan bahwa anak-anak tidak menyakiti dirinya sendiri? 


Hal ini tentu beriringan dengan sistem liberal yang diterapkan saat ini, kebebasan, seksualitas seakan menjadi barang yang senantiasa laku dipasaran. Bintang iklan oli tidak jauh-jauh dari unsur seksual, seorang pramugari juga senantiasa menampilkan kemolekan tubuhnya tidak hanya pandai dalam melayani.


Di media, unsur seksual adalah komoditas penting agar lebih banyak peminat informasi dan hiburan yang disajikan.  Sama halnya dengan majalah, tabloid, dan film berisi konten porno—legal maupun tersembunyi—yang terus diproduksi. Tak ketinggalan di dunia seni, sering kali hadir tak jauh-jauh dari paparan sensualitas perempuan maupun laki-laki.


Maraknya seksualitas yang terjadi ditengah-tengah masyarakat sehingga mengakibatkan rusaknya moral generasi bangsa, penyakit seksual merajalela, kehancuran keluarga bahkan ancaman kehilangan generasi masa depan pun di hadapan mata, hal ini tentu karena kebablasan pendidikan seks yang diajarkan dalam sistem liberal. 




Islam Menjaga Naluri Seksual 


Sungguh seksualitas juga sudah menjangkiti kaum muslimin, wajar hal ini terjadi karena kaum muslimin juga hidup didalam sistem liberal. Sehingga pendidikan seks juga tidak jauh-jauh pengajarannya seperti halnya kaum liberal mengajarkan. 


Padahal didalam Islam justru banyak sekali didapatkan bagaiman seharusnya diajarkan seks yang tidak menjerumuskan kepada pergaulan bebas, tetapi dengan tujuan yang mulia yaitu melangsungkan keturunan. 


Jika mengetahui secara sempurna bagaimana Islam mengendalikan naluri seksual secara indah selaras dengan tujuan penciptaan manusia. Bukan dengan membebaskan dan bukan pula dengan mengebirinya. Maka, Islam memerintahkan untuk menundukkan pandangan dan menutup aurat, melarang khalwat dan ikhtilat, mengharamkan zina dan liwath, memenuhi naluri seksual dalam hubungan pernikahan, melarang untuk memasuki kamar orang tua dalam tiga waktu bagi anak-anak,  membangun hubungan silaturahmi, serta membangun sikap penuh hormat terhadap lawan jenis sebagai identitas. 


Sehingga cara seperti ini akan mampu menjaga individu dari bahaya serta kehinaan dunia dan akhirat, justru akan terbentuk peradaban yang gemilang. Tentu hal ini akan terbentuk jika sistem Islam yang penuh keberkahan ini diterapkan dalam sebuah institusi negara sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw dan para Khalifah setelahnya.


Dalam sistem Islam, semua syariat seputar penjagaan dan pemenuhan naluri seksual akan dipastikan implementasinya, bahkan didukung dengan sistem ekonomi dan pendidikan. Penataan media baik televisi, koran, majalah, media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya) juga akan diselaraskan. 


Media digunakan sebagai corong dalam penyampaian dakwah Islam, pendidikan Islam yang baik sehingga dapat membentuk pola pikir dan pola sikap Islam yang baik yang akan membentuk peradaban gemilang seperti dahulu. 


Wallahu alam bishawab

 
Top