Kapitalisme Biang Kerok Meroketnya Harga Cabai

 


Oleh Asti Marlanti

(Penulis dan Pengamat Kebijakan Publik)


Lagi-lagi. Harga cabai meroket kembali. Tidak hanya pedas dari rasanya, harganya pun sama pedasnya. Harga cabai rawit merah di pasar tradisional Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengalami kenaikan. Semula Rp35.000,00 per kilogram (kg) menjadi Rp120.000,00 per kg, menjelang lebaran Idul Adha 1442 H/2021 M (madura.tribunnews.com).


Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok selalu terjadi berulang kali, seakan tidak ada penyelesaian, terutama menjelang perayaan hari besar. Di tengah kondisi pandemi dan pemberlakuan PPKM, hal ini jelas akan semakin membebani rakyat.


Meski bukan termasuk makanan pokok, cabai rawit merupakan salah satu pangan yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Maka ketika harganya melonjak naik, pengaruhnya benar-benar sangat terasa. Tak hanya oleh kalangan ibu rumah tangga saja, tapi juga oleh para pengusaha kuliner makanan pedas di berbagai levelnya.


Oleh karena itu, negara harus turun aktif mengatasi faktor-faktor penyebab meroketnya harga cabai. Baik karena faktor alam, maupun karena ulah penimbunan dari para tengkulak yang sengaja untuk mempermainkan harga.


Solusi yang ditawarkan pemerintah daerah ataupun pusat adalah gerakan menanam cabai dan operasi pasar murah. Namun hal ini dinilai kurang efektif. Konon katanya, tidak semua orang mempunyai halaman/lahan dan sarana produksi tanaman (saprotan) yang memadai.


Mirisnya, solusi yang ditawarkan hanya sekadar menyelesaikan di permukaan saja, tetapi faktor penyebab terjadinya lonjakan harga tidak tertangani dengan baik.


Memang benar, adakalanya faktor cuaca menyebabkan para petani gagal panen cabai. Cabai harus lebih cepat dipanen agar tidak mudah busuk oleh curah hujan yang semakin tinggi. Namun di luar semua itu, masyarakat membutuhkan keseriusan para pemimpin negeri ini untuk menuntaskan masalah tersebut agar tidak berulang.


Oleh karena itu, sudah selayaknya para pemimpin negeri ini bercermin pada kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Beliau selalu menyandarkan persoalan menjaga kestabilan harga pasar pada aturan Allah dengan menghilangkan praktik penimbunan, intervensi harga, dan menyuplai wilayah yang kekurangan pasokan pangan.


Selain itu juga, dari aspek manajemen rantai pasok makanan, semestinya mencontoh Rasul yang concern terhadap akurasi data hasil produksi. Beliau mengangkat Hudzaifah Bin Al-Yaman sebagai kaatib (baca: penulis/pencatat) untuk mencatat hasil produksi di Khaibar dan hasil produksi pertanian yang ada. Maka akan terlihat jumlah stok hasil produksi yang akan disalurkan ke masyarakat.


Sementara itu, kebijakan pengendalian harga dilakukan dengan mekanisme pasar melalui pengendalian supply and demand, bukan dengan pematokan harga yang selama ini terjadi.


Islam sendiri melarang penimbunan dengan menahan stok barang agar harganya naik. Abu Umamah al-Bahili berkata: “Rasulullah melarang penimbunan makanan.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi) 


Jika pedagang, importir atau siapapun menimbun, ia harus mengeluarkan barang dan memasukkannya ke pasar sesuai kebutuhan. Jika terjadi ketidakseimbangan supply dan demand (baca:harga naik/turun drastis), melalui lembaga pengendali, negara segera menyeimbangkannya dengan mendatangkan barang dari daerah lain. Sehingga terciptalah kestabilan harga pangan. Bukan malah mengimpor barang dari luar negeri dikala panen di dalam negeri.


Sayangnya sistem ekonomi kapitalisme saat ini tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini. Karena solusi yang ditawarkan adalah solusi yang borok dan bobrok, yang tidak sesuai aturan Allah Swt. Yaitu hanya berdasar pada keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.


Oleh karena itu, penerapan sistem kapitalisme adalah biang kerok harga cabai meroket kembali. Walhasil harga pangan di pasar, akan dipengaruhi para cukong-cukong kapitalis. Standar yang dipakai adalah keuntungan semata, bukan halal dan haram menurut Allah. 


Dengan demikian, kestabilan harga hanya bisa diselesaikan dengan diterapkannya syari'at Allah secara kafah dalam seluruh kehidupan. Sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para Khalifah terdahulu dalam naungan Daulah Khilafah Rasyidah.

Wallahu a'lam bishshawaab.