Oleh Asti Marlanti


Doa adalah bentuk kepasrahan manusia terhadap Allah Sang Maha Kuasa. Dengan berdo'a berarti bahwa manusia tersebut mengaku lemah di hadapan-Nya dan mengharapkan pertolongan dari-Nya. Sebab, ia merasa tak lagi mampu menyelesaikan sendiri persoalan yang dihadapinya. 


Seperti yang dilakukan oleh Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, yang mengirimkan surat resmi kepada kepala desa, pendamping desa, dan warga desa untuk menggelar doa bersama keluarga.

Dalam surat resmi tersebut, Halim menghimbau agar seluruh pihak melakukan doa bersama di kediamannya masing-masing dalam menyikapi kondisi melonjaknya angka COVID-19 di Indonesia. (detikNews.com)


Tentu himbauan ini sangat baik. Imbauan doa bersama artinya pengakuan bahwa kita butuh pertolongan Allah dalam menghadapi wabah. Karena berdoa adalah bentuk ketundukkan dan kepasrahan pada Allah. Namun di sisi lain, hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa pemerintah sudah tak mampu lagi dan pasrah dalam menangani persoalan wabah ini. 


Imbauan doa bersama keluarga tentu tidaklah salah. Namun, 

imbauan tersebut jangan hanya untuk keluarga saja, tapi juga bagi para pengambil kebijakan. Bila benar membutuhkan pertolongan Allah, mestinya tidak sekadar doa bersama keluarga, tapi juga doa para penguasa disertai taubat nasuha seluruh masyarakat dan pemerintah.


Taubat nasuha artinya meninggakan dosa atau maksiat yang telah dilakukan dengan diiringi perasaan menyesal serta memperbaikinya dengan memperbanyak amalan saleh dalam seluruh sendi kehidupan. Dengan kata lain, taubat akan menjadikan seorang hamba senantiasa memperbaiki diri secara total dari perbuatan-perbuatan tercela atau maksiat yang telah dilakukan sebelumnya.


Yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah pemimpin negeri ini bertaubat kepada Allah dengan meninggalkan segala kesalahan dan kemaksiatan yang sudah diperbuat? Dan sudahkah pemimpin negeri ini berikhtiar semaksimal mungkin dalam menangani wabah ini?


Adanya wabah di negeri ini yang semakin bertambah parah,  menunjukkan kepada kita bahwa negeri ini sudah sangat jauh dari Allah. Oleh karena itu, adanya wabah ini harusnya menyadarkan semua pihak termasuk pemerintah bahwa sudah saatnya negeri ini bertaubat dengan kembali kepada Allah, yaitu dengan mentaati aturan-aturan Allah secara total, termasuk syariat Islam dalam menangani masalah wabah. Karena permasalahan di negeri ini terjadi akibat mengabaikan syariat Islam.


Sebagaimana Allah Swt. peringatkan kepada kita semua dalam Al Qur’an:

“Jikalau seandainya penduduk suatu negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan atas perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)


Oleh karena itu, perlu dipertanyakan jika pemerintah membuat imbauan doa bersama kepada Allah di tengah wabah ini tanpa adanya upaya atau ikhtiar untuk taat secara total kepada Allah Swt. Seharusnya, seluruh permasalahan yang melanda negeri ini, solusinya pun kembali pada aturan Allah Sang Maha Pengatur.


Begitupun dengan penanganan wabah covid-19 yang seharusnya dilakukan sesuai syariat Islam. Dari awal mula terjadinya wabah, Islam telah mengajarkan kepada kita semua bahwa solusinya adalah dengan menerapkan lockdown untuk wilayah yang terdampak wabah. Namun ternyata, solusi itu tidak dipakai di negeri ini dengan berbagai alasan, terutama alasan ekonomi. Akibatnya, semakin hari wabah covid-19 di negeri ini semakin bertambah parah. Ekonomi yang awalnya dijadikan alasan untuk tidak melakukan lockdownpun akhirnya ambruk dan terjadi resesi ekonomi.


Pemerintah harusnya berkaca kepada keberhasilan pemimpin Islam atau Khalifah saat menangani masalah wabah. Era Khilafah Islam telah berhasil menangani setidaknya tiga kali peristiwa wabah yang terjadi di dunia. Yang pertama, wabah yang terjadi di wilayah Syam, pada masa Khalifah Umar bin Khattab tahun 636 M. Kedua, wabah Black Death yang mengepung Granada pada abad ke 14. Dan ketiga, wabah smallpox pada abad 19 yang melanda Khilafah Utsmani.


Keberhasilan Khilafah dalam menangani wabah tidak terlepas dari kebijakan Khalifah yang semuanya dikembalikan kepada Islam. Kebijakan tersebut diantaranya adalah melakukan lockdown wilayah yang terdampak wabah, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan lockdown inilah, wabah tidak menyebar ke wilayah yang lain. Sehingga roda kehidupan termasuk perekonomian tetap berjalan dengan normal di wilayah yang tidak terdampak wabah.


Di sisi lain, wilayah yang terlokcdown akan disuport secara total, sehingga roda kehidupan tetap berjalan. Seluruh kebutuhan hidup beserta penangan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut akan dijamin oleh Khalifah, sehingga hidup mereka tetap terjamin dan masalah wabah cepat tertangani. Seluruh biaya tersebut akan diambil dari pos baitul mal yang memang sudah tersedia untuk memenuhi kebutuhan rakyat saat terjadi wabah, paceklik, musibah dan sebagainya.


Itulah gambaran keberhasilan Khilafah dalam menangani wabah. Keberhasilan tersebut terjadi karena khilafah menangani wabah berdasarkan pada aturan Islam sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah.


Oleh karena itu, jangan hanya mengandalkan doa bersama untuk menghentikan wabah ini. Seharusnya berdoa juga diiringi dengan ketaatan secara total kepada Allah Swt., yaitu dengan kembali kepada syariat Islam secara kafah dalam naungan Khilafah.

Wallahu a’lam Bishowwab

 
Top